Selasa, 21 April 2026

Lagu Mogi

Hampir pasti tidak semua orang memahami makna kata 'mogi' apalagi syairnya, kecuali beberapa ayat dalam bahasa Inggris.

Editor: Agustinus Sape

Kisah Penciptaan dan Makna Emansipasi

Oleh: Giorgio Babo Moggi
Blogger, Berdomisili di Kupang

MOGI adalah sebuah lagu yang diciptakan oleh Ivan Nestorman, musisi kelahiran NTT yang meniti karier di blantika musik nasional. Judul lagu ini terbilang unik. Hampir pasti tidak semua orang memahami makna kata 'mogi' apalagi syairnya, kecuali beberapa ayat dalam bahasa Inggris.

Ivan, demikian musisi kelahiran Manggarai ini, berhasil meramu syair dan musik yang indah. Sampai-sampai orang tidak sadar bahwa mogi adalah produk syair tradisional yang dipadu dengan musik modern sehingga menghasilkan sebuah karya musik dengan cita rasa tinggi.

Bagi orang yang tidak terlalu paham dengan berbagai bahasa daerah di NTT, selain orang Nagekeo dan sekitarnya, mereka akan salah menebak asal-muasal lagu ini seperti yang terjadi belakangan ini setelah lagu ini dipopulerkan oleh Mario G. Klau, sang jawara The Voice Indonesia 2016.

Kisah Cinta
Ivan adalah pemusik dan penulis syair unik. Ia mampu menggunakan kekuatan musik etnik dan memadukannya dengan musik modern. Merangkaikan syair dalam bahasa daerah dengan bahasa internasional. Sehingga menghasilkan sebuah karya yang mudah dinikmati masyarakat dari berbagai latar belakang sosial.

Lagu Mogi bergenre tropical, syairnya dwi bahasa, Boawae dan bahasa Inggris. Ada kisah di balik penciptaan lagu ini. Sang pencipta, Ivan Nestorman, terpesona dengan seorang gadis dari Kampung Lego, Boawae, Nagekeo, NTT kala itu. Ia terbuai oleh gerakan kaki dan tangan yang anggun kala gadis itu menari Tea Iku, tarian khas Nagekeo, pada sebuah event di Jakarta. Gadis itu kemudian dipersuntingnya sebagai istri. Nama gadis itu, Katarina Mogi yang telah mengaruniainya putri-putri yang cantik.

Makna Mogi
Bagi masyarakat Boawae, mogi adalah sebuah sapaan kesayangan kepada anak gadis seperti orang Manggarai mamanggil putri kesayangannya 'rimpet' atau orang Ende menyapa anak gadisnya 'nggeme' -yang berarti pesek.

Selain itu, umumnya mogi adalah nama belakang untuk perempuan di Ngada/Nagekeo. Jika ada laki-laki yang menggunakan nama mogi berarti mau menyatakan lelaki itu turunan dari eyang/nenek yang bernama mogi. Jadi, bukan sebuah kebetulan, judul itu memang didedikasikan untuk istrinya yang bernama belakang mogi.

Lagu ini mengenang alkisah cinta Ivan Nestorman kepada Katarina Mogi sehingga lagu ini memiliki nilai historis dan romantis. Maka lagu Mogi tidak sekedar tumpukan syair untuk menyalurkan hasrat musikalitas seorang Ivan Nestorman.

Booming
Lagu ini menjadi hits pesta di Kupang. Dinyanyikan oleh wedding singer atau musik pengiring pesta. Bahkan banyak pemusik yang mengaransemen dengan versi sendiri seperti untuk paduan suara. Tahunya orang, ini lagu NTT. Tapi, praktis tidak semua orang tahu siapa penciptanya dan bahasanya apa -apalagi artinya.

Sebenarnya, lagu ini sudah menasional bahkan go international karena Ivan sering menyanyikan dalam berbagai festival. Tapi, lagu ini menjadi booming setelah dipopulerkan oleh Mario Klau pada ajang The Voice Indonesia -dimana dengan syair yang sama tetapi musik diaransemen ke versi Portu.

Dengan semakin booming dan populernya lagu Mogi, timbul kegusaran dalam hati pencipta dan Katarina Mogi sebagai orang yang dibuatkan secara khusus lagu tersebut. Kecemasan akan kesalahan mengartikulasikan kata-kata dalam lagu tersebut. Belum lagi banyak di antara pemusik yang mengaransemen tanpa seizin/sepengetahuan sang pemilik lagu -setidak-tidaknya mencantumkan nama penciptanya.

Kegelisahan-kegelisahan ini mendorong Katarina Mogi meluruskan fakta agar tidak terjadi plagiarism dan terjadi kesalahan artikulasi, ia menulis syair lagu Mogi dan terjemahannya di halaman facebooknya.

gula anafai ngaza mogi (Lihatlah gadis itu namanya Mogi)/adu tangia modhe tau ate nga'o/mona noa se'a pu'u lau lego (Dia sangat cantik yang membuatku jatuh cinta..Dia berasal dari Lego)

lovely anafai is nona mogi from nagekeo (Aku cinta nona Mogi dari Nagekeo)/ dancing tea iku she is so beautiful (Dia penari TEA EKU)/oooo..mogi e

O mogi e come and dance with me tonight (O Mogi datang dan menarilah bersamaku malam ini)

mogi e mogi fu kugu (Mogi e Mogi Rambut Keriting)/mogi e..mogi e/dheo keze walo dheo keze walo (Jangan pulang dulu..Jangan pulang dulu)/mogi e e

Pesan Moral
Yang menarik dari lagu ini adalah frasa mogi fu kugu (mogi berambut kriting). Di dalam masyarakat, fu kugu identik dengan kejelekan, tidak cantik, tidak tampan dan label negatif lainnya.

Mogi fu kugu memang telah menjadi kado cinta Ivan kepada Rin, lagu ini juga telah mengangkat spirit dan dukungan moral kepada kaum hawa NTT, bahwa keriting itu cantik. Keriting itu bikin jatuh cinta.

Melalui lagu ini, Ivan berhasil membungkam anggapan fu kugu itu jelek. Ia membalikkan keadaan menjadi sebuah fakta bahwa fu kugu itu cantik. Dengan kata lain, Ivan berhasil membangunkan kesadaran wanita dengan ciri rambut demikian. Lagu ini berhasil menumbuhkan kepercayaan kaum hawa.

"Sayang sekali....padahal maksudnya kebanggaan," tulis Ivan Nestorman menanggapi pembaca yang memandang negatif makna fu kugu. Kemudian, Rin, sang istri menambahkan komentar di thread yang sama.

"Justru dengan lagu "Mogi Fu Kugu" semua wanita yang mempunyai rambut keriting makin percaya diri dan tetap mempertahankan ciri khas rambutnya karena kugu itu cantik tidak harus diluruskan," tulis Katarina Mogi.

Pandangan bahwa fu kugu adalah ejekan kepada kaum wanita yang berambut keriting merupakan salah kaprah yang berlangsung lama di kalangan masyarakat. Fu kugu memang berarti berambut keriting, tidak berarti dijadikan senjata untuk melakukan penghakiman terhadap orang lain. Jika kita mengikuti arus berpikir di atas berarti kita melakukan pembenaran bahwa fu kugu itu jelek dan sebuah ejekan.

Namun demikian, kita tidak dapat memungkiri bahwa fu kugu bisa menjadi pencapan yang negatif kepada orang lain jika situasi dan kondisi tertentu. Begitupun dengan kata rimpet (bahasa Manggarai) dan nggeme (bahasa Lio) yang berarti pesek bisa menjadi pencapan yang negatif kepada individu tertentu. Sesuatu yang buruk akan terjadi jika kata itu dialamatkan kepada orang yang kita tidak kenal. Sama halnya ketika kita mengucapkan fu kugu kepada orang asing. Itu bisa bermakna ejekan.

Sebaliknya, kata-kata tersebut menjadi ungkapan cinta atau perasaan kasih sayang jika diucapkan oleh seseorang dan kepada orang yang tepat, misalnya pacar atau sahabat.

Bertolak dari lagu Mogi, maka frasa fu kugu bukan pelabelan yang negatif, tapi ungkapan kebanggaan dan kasih sayang. Jadi, makna sebuah kata/frase sangat ditentukan oleh konteks dan subyek yang mengucapkan dan obyek yang menerima kata/frase tersebut. Melalui lagu ini, Ivan sukses memperjuangkan kesetaraan bahwa tidak ada dikotomi rambut kerinting dan lurus, semuanya baik adanya dan cantik rupanya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.*

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

Opini: Arsip

 

Opini: Arsip

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved