Turisme yang Menggerus Tradisi di Lamalera

Bukankah dengan adanya solusi, rekomendasi dan rencana itu (kalau terlaksana), tradisi yang amat unik itu tergerus?

Editor: Agustinus Sape

Sebuah Awasan
Oleh: Charles Beraf
Peneliti International Rural Sociology Association (IRSA), Tinggal di Detukeli, Ende-Lio

PEMERINTAH melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT berencana mengembangkan wisata menonton ikan Paus di Lamalera (NTTsatu.com July 4, 2016). Rencana itu tampaknya semakin dikukuhkan oleh solusi dan rekomendasi dari Balai Konservasi Perairan Nasional (BKPN) Kupang untuk membatsi penangkapan ikan Paus di Lamalera. Solusi dan rekomendasi itu antara lain membuat zonasi penangkapan mengingat Desa Lamalera tidak jauh dari Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu yang merupakan area konservasi untuk migrasi cetacean, memutus penerus lamafa (juru tikam) dengan menyibukkan pemuda dengan mata pencarian lain dan pendidikan yang tinggi serta mengatur kuota penangkapan.

Bila dicermati, rekomendasi dan solusi dari BKPN dan rencana besar Dinas Pariwisata itu tampak setali tiga uang: sama-sama dihadapkan (dilawankan) dengan tradisi penangkapan ikan paus di Lamalera. Bukankah dengan adanya solusi, rekomendasi dan rencana itu (kalau terlaksana), tradisi yang amat unik itu tergerus? Sangat perlukah wisata nonton Paus sementara tradisi penangkapan Paus sudah sekian lama menyedot wisatawan ke Lamalera? Layakkah mengembangkan tourism macam itu dengan cara yang kelihatan mulia, meski amat sadis mengikis secara perlahan tradisi yang amat berharga itu?

Tradisi Unik
Penangkapan ikan Paus yang telah dilakonkan masyarakat adat Lamalera bukan sekadar suatu aktivitas konsumtif, melainkan terutama telah menjadi suatu aktivitas kultural, sosial dan religius masyarakat Lamalera -- suatu hal yang jarang dijumpai di belahan dunia manapun. Tradisi ini berlangsung sejak abad ke-14 yang dibawa bersamaan dengan eksodus orang-orang dan atau suku-suku Lamalera dari Luwuk-Sulawesi. Syair lia asa usu Lamalera bisa menggambarkan hal ini: "Seba olak lau léfa harri lollo dai épitkâ, dai marangkâ apé tafa géré raé motti Lango Fujjo raé morri Nara Gua Tana. Feffa bélâkâ Bapa Raja Hayam Wuruk pasa-pasa pekkâ lefuk lau Luwuk (Kucari nafkah di tengah laut kembali ke pantai merapat ke pinggir, nampak nyala api di tempat Lango Fujjo di Gubuk Nara Gua Tana. Dan demi kehendak Bapa Raja Hayam Wuruk terpaksa kutinggalkan desaku di Luwuk sana) (Bdk. Gorys Keraf, Morfologi Dialek Lamalera (ms), 1978) pp.229-230).

Kebersamaan suku-suku yang cukup lama telah menyatukan mereka dalam adat, tradisi yang sama, termasuk di dalamnya tradisi penangkapan ikan Paus atau dalam bahasa setempat disebut tena laja (perahu layar). Kuatnya interaksi dan kohesi sosial antarsuku Lamalera dari waktu ke waktu turut pula memperkukuh tradisi tena laja. Begitu pula sebaliknya dari tena laja mereka hidup, bergantung dan membangun jejaring hidup dengan yang lain, membina relasi intersubjektif dengan siapa saja. Dalam hal pembagian hasil tangkapan misalnya, siapa pun di kampung itu, terutama para janda dan yatim piatu, meski tidak ikut melaut, tetap diberi jatah (gratis) sebagai tanda kesatuan dan persaudaraan.

Lebih dari itu, ketika agama modern masuk (Katolik Roma) ke Lamalera pada tahun 1881, tradisi ini sama sekali tidak dihilangkan, tetapi justru semakin diberi makna, bobot religius yang tinggi --suatu hal yang sudah semakin sering diabaikan, terutama oleh mereka yang mengaku diri sebagai agamawan. Sebelum, selama dan sesudah kegiatan penangkapan ikan Paus selalu diadakan kebaktian secara Katolik (misa lefa/laut), doa dan pemberkatan dari pastor (pendeta Katolik) untuk memohon restu dan perlindungan dari Ama Lera Wulan Tana Ekan (sebutan untuk Allah).

Di sini jelas bahwa tradisi tena laja tidak hanya sekedar merepresentasikan, tapi juga mengabadikan (mempertahankan) korps, keberadaan orang-orang Lamalera sebagai tubuh yang hidup. Hidup dengan pengertian, makna, filosofi, hasrat dan persepsi kultural tertentu diwujudkan dengan menghidupkan tradisi ini. Melalui penghidupan ini, orang-orang Lamalera dimungkinkan untuk menemukan dan mendefinisikan identitas mereka sendiri di hadapan suatu entitas sosial atau kultural tertentu; identitas sosial yang telah banyak berurusan dengan bagaimana suatu masyarakat memahami karya yang diolahnya sendiri dan karya orang lain. Dengan kata lain, upaya penghidupan ini tidak lain adalah cara vital orang-orang Lamalera dalam melanggengkan pengertian, makna, hasrat dan filosofi yang sudah dianutnya.

Hingga kini tradisi itu masih dipertahankan dan telah menjadi daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Pemertahanan ini bukan karena daya atraktif tradisi ini, melainkan karena nilai sosio-kultural tradisi yang bersinggungan langsung dengan identitas orang-orang Lamalera. Itu artinya pelbagai upaya pembangunan yang berkenaan dengan tradisi ini, termasuk pengembangan pariwisata tidak bisa tidak menjunjung nilai-nilai sosio-kultural tradisi ini, bukan sebaliknya menggerus atau menghilangkannya. Amat disayangkan jika pemerintah dengan alasan yang tampak sangat mulia sekalipun, tidak memedulikan nilai-nilai dari tradisi tena laja ini. Bukankah dengan memutus penerus lamafa atau wisata nonton paus misalnya, pemerintah sedang membunuh orang-orang Lamalera?

Community Based Tourism
Tidak dapat disangkal bahwa pariwisata telah menjadi kebutuhan yang berdaya mendongkrak ekonomi masyarakat. Pengembangan pariwisata, karena itu, tampak sebagai suatu keharusan. Namun dalam kasus Lamalera pengembangan pariwisata tidak bisa diterjemahkan seturut logika kapitalis yang melihat ekonomi uang sebagai mainstream pariwisata sebagaimana terjadi di kebanyakan masyarakat/komunitas adat. Alasannya jelas: penangkapan Paus di Lamalera adalah suatu aktivitas sosial-kultural demi melanggengkan identitas mereka sebagai orang-orang Lamalera. Ekonomi lebih tampak sebagai dampak dari aktivitas yang dihidupi sebagai tradisi. Ekonomi bukan tujuan. Karena itu, model pariwisata yang patut diupayakan di Lamalera adalah pariwisata yang berbasis komunitas Lamalera (Community Based Tourism) atau pariwisata yang berbasis tradisi tena laja.

Itu artinya tanpa (bermaksud) menghilangkan tradisi tena laja, pariwisata pun dapat dikembangkan. Pemerintah mesti turun dan bicara dengan orang-orang Lamalera bagaimana mendongkrak arus pariwisata ke Lamalera dengan terus menjaga tradisi tena laja sebagai ikon pariwisata yang unik. Amat jauh dari standar kepatutan sebuah kebijakan jika pengembangan pariwisata tidak benar berbasis pada tradisi orang-orang Lamalera (top down tourism).

Dalam konteks ini, yang perlu dipikirkan pemerintah adalah selain bagaimana mendongkrak partisipasi, juga capacity building masyarakat Lamalera untuk melanggengkan tradisi dimaksud yang berdampak signifikan pada arus pariwisata. Gianna Moscardo menulis: "The community capacity-building approach directs attention towards strategies and programmes to enhance the domains identified as critical to overall community capacity, including local leaders and entrepreneurs, coordination mechanisms, networks and equitable partnerships. These activities run parallel to specific planning for tourism and should enhance the destination community's abilities not only to implement the tourism plans, but also to retain control over the plans themselves".*

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved