Keajaiban dan Seninya Bola Kaki

Proficiat untuk Portugal yang membuktikan kalau mereka bisa meraih mahkota Piala Eropa 2016 setelah melalui perjuangan yang kurang menyakinkan.

Editor: Agustinus Sape
PATRIK STOLLARZ/AFP
Portugal menjadi juara Piala Eropa 2016 seusai menang 1-0 atas Perancis pada final di Stade de France, Minggu (10/7/2016). 

Catatan Akhir Piala Eropa 2016
Oleh: Gabriel Adur SVD
Rohaniwan dan Penikmat Bola, Tinggal di Belanda

BUKANNYA menepis kritikan filosofis Umberto Ecco yang melihat bola kaki sebagai Opium bagi manusia. Tulisan ini mencoba menawarkan sebuah idealisme sederhana tentang si kulit bundar. Bukan pula bertendensi untuk menegasikan berbagai hal buruk yang menggerogoti olah raga populer ini, tetapi menawarkan sebuah perspektif konstruktif tentangnya.

Penulis berpikir sederhana, tak mungkin kita mendapat jawaban positif tentang sesuatu kalau kita hanya berpikir negatif tentang adanya hal yang kita pikirkan. Landasan pemikiran inilah yang membuat saya memaknai kembali estetika dan seni bola kaki untuk kehidupan di akhir Piala Eropa 2016.

Estetika (keindahan) terbentuk ketika karya seni itu sendiri bukan saja dipandang sebagai buah karya pemikiran logis-kritis, tapi merupakan perpaduan dari logika dan rasa. Banyak orang menilai sebuah keindahan, karya seni musik dan lukis, sebagai pemisal, berdasarkan aturan-aturan atau rumusan-rumusan tertentu (kesimetrisan) dan juga keberadaan. Patut diakui bahwa yang indah membutuhkan sebuah aspek teknis untuk memujudkan ide menjadi sebuak karya seni.

Seiring dengan perubahan pola pikir, dalam perkembangan waktu penilaian terhadap keindahan pun mengalami perubahan. Pelukis-pelukis dan pemusik-pemusik klasik Perancis pada masa romantisme melihat keindahan sebuah karya seni pada hasil karya yang menciptakan keagungan. Kemudian keindahan diinterpretasikan dan dimaknai ketika sesuatu ditampilkan apa adanya (real).

Realisme yang berkembang cukup lama di Eropa berjibaku dengan pemikiran para seniman Belanda yang melihat keindahan ketika ada sebuah harmonisasi dan perpaduan yang asri antara ruang dan warna yang diperkuat dengan daya abstraksi tentang sebuah benda dalam ide untuk membentuk karya seni.

Estetika dan seni, kalau kita sepakat, memiliki pertautan yang tak dapat dipisahkan. Seni lahir dari perwujudan kreativitas berpikir manusia. Manusia berpikir secara kreatif untuk menciptakan sesuatu. Berpikir kreatif an sich sudah menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi estetis dalam diri. Konsekuensi praktisnya, karya yang dihasilkan manusia juga memiliki unsur estetis.

Tidak bermaksud menolak pendapat Aristoleles yang melihat keindahan sebagai pertautan dari keberadaan dan aturan-aturan tentang seni. Bukan pula membenarkan pendapat lain yang melihat bahwa setiap orang memiliki ukuran tertentu untuk mengatakan indah dan seni dari sesuatu yang dihasilkan dalam sebuah karya.

Namun bagi penulis keindahan dan seni mungkin juga tidak bisa ditakar dengan ukuran-ukuran tertentu yang bisa jadi menyempitkan makna keduanya yang sebenarnya. Keindahan dan seni mesti diterima apa adanya sesuai dengan cita rasa, imajinasi dan intensi sang penciptanya. Dengan demikian, keindahan dan seni tidak bisa ditakar oleh ukuran-ukuran dari luar yang mendefinisikannya. Aspek-aspek interen tentang adanya cita rasa estetis yang melahirkan sebuah karya juga tetap menjadi ukuran yang bebas diintepretasi.

Bola Kaki Sebuah Keajaiban
Ketika Inggris mengklaim dirinya sebagai rahim dan ibunya bola kaki, mungkin orang-orang China tersenyum lucu dan geli. Alasannya sederhana. Jauh sebelum warga Inggris bisa bermain bola, orang China sudah menemukan permainan ini yang mereka sebut cuju (Ts,uh -küh). Menurut tradisi lisan orang China, permainan dengan bola bundar sudah mereka temukan sejak abad ke-3 sebelum masehi.

Inilah sebuah penemuan yang sangat luar biasa dan fantastis. Para Kaiser China memikirkan sebuah modus operandi dalam hidup bersama yang bebas dari kekerasan dan aturan yang ketat. Kemudian mereka memasukkan olahraga ini sebagai karya keindahan berpikir untuk mendidik kemiliteran dengan sebuah permainan. Disinyalir bahwa bola kaki yang populer di China menjadi cikal bakal untuk sepak bola modern. Dalam arti yang lebih luas juga liga-liga bola kaki.

Berpulang pada historisitas kelahirannya, bola kaki merupakan ekspresi dari karya berpikir manusia (orang China?) yang secara kreatif ingin menemukan sebuah bentuk kehidupan bersama melalui sebuah permainan. Estetika pemikiran yang menemukan bentuknya dalam sebuah permainan yang merupakan kombinasi dari kesebelas pemain melawan kesebelasan lain untuk memainkan sebuah bola bundar dengan aturan-aturan tertentu pula. Di sini perlu ada sebuah perpaduan untuk membentuk sebuah tim.

Dalam arti bola kaki merupakan pertautan dari kemampuan individu dan tim yang dikomandani oleh seorang pelatih yang telaten mengkombinasi kepribadian dan skil (kemampuan individu) para pemain untuk menemukan sebuah tim yang baik. Kolaborasi yang baik dari berbagai elemen dalam tim akan menciptakan sebuah seni tersendiri dalam sebuah klub.

Dengan demikian, dalam klub-klub bola kaki seorang penyerang tidak mungkin bisa menjadi pencetak gol yang baik tanpa ada pemain tengah, sayap dan pemain belakang yang mampu membacking dan menyuplai bola. Tanpa seorang penjaga gawang yang memberi perlindungan terhadap gawang, bola kaki juga tidak menemukan sebuah bentuk indah sebagai sebuah permainan.

Seninya bola kaki menemukan bentuknya juga dalam menentukan menang atau kalah. Bahkan dalam kurun waktu main selama lebih dari 90 menit (plus waktu tambahan), kedua tim bahkan tidak mencetak gol. Sehingga pertaruhan dan keputusan final harus melalui adu penalti yang bisa mengundang emosi dan air mata kegembiraan karena menang dan air mata kesedihan karena kalah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved