Isu Positif Mendekatkan Bidan dengan Masyarakat

Opini ini hemat saya berat sebelah sebab dilontarkan di tengah tingginya usaha organisasi profesi Bidan

Editor: Dion DB Putra

Menyoal Pernyataan dan Opini Pos Kupang yang Memojokkan Profesi Bidan

Oleh Yohanes Dion, S.Kep.,Ns.,M.Kes.
Dosen Keperawatan/Ners STIKES CHMK

POS KUPANG.COM - Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu provinsi yang memiliki banyak tenaga Bidan. Banyaknya jumlah lulusan mahasiswa bidan yang mencapai 500-700 orang/tahun yang mengenyam pendidikan pada perguruan tinggi di NTT, Jawa dan Sulawesi tentu membuat kita bangga bahwa daerah kita merupakan lumbung bidan. Namun perkara menjadi seorang bidan ternyata tidaklah mudah, selalu diselimuti oleh persoalan-persoalan yang berhubungan dengan kematian yang ujung-ujungnya menjadikan bidan sebagai alasan kematian tersebut.

Opini ini hemat saya berat sebelah sebab dilontarkan di tengah tingginya usaha organisasi profesi Bidan (Ikatan Bidan Indonesia/IBI) dan Pemerintah meningkatkan kualitas Bidan. Beberapa berita Pos Kupang dalam bulan Juni 2016 menyoroti tentang bobroknya kualitas pendidikan, sikap dan perilaku Bidan di NTT sambil mengaitkannya dengan tingginya angka kematian ibu dan anak. Meski sepintas dapat diterima, klaim-klaim yang termuat dalam lansiran dimaksud terkesan terlalu melebih-lebihkan, berat sebelah dan mengkambinghitamkan bidan sebagai penyebab utama kematian ibu dan anak.

Headline PK (10/6) berbunyi, Bidan Ketakutan Melihat Darah. Temuan Tim Pembina Audit Maternal Perinatal Nusa Tenggara Timur (NTT) ini sangat mengejutkan. Ada bidan di beberapa daerah yang lari ketakutan saat melihat darah ibu hamil yang mereka tolong. "Kami menemukan bidan yang lari saat persalinan di desa-desa. Saya tahu langsung dari Sekretaris Daerah dan kepala dinas kabupaten. Setelah diusut ternyata bidan itu tidak pernah menolong persalinan secara mandiri, makanya desa itu sering ditinggal bidannya. Itu masalah serius," ujar Koordinator Tim Pembina Audit Maternal Perinatal NTT, dr. Laurens Paulus, S.POG.

Pernyataan dr. Laurens dalam berita ini terkesan melompat-lompat dan tidak logis. Pertama, ternyata yang bersangkutan mendapatkan berita tersebut dari pihak lain (Sekda dan Kadis) yang mungkin saja tidak benar; kedua, tidak dijelaskan tempat kejadiannya; ketiga, tidak menjelaskan secara logis tentang bidan yang takut hanya karena melihat darah atau takut akan terjadinya perdarahan. Biasanya orang kesehatan takut akan terjadinya perdarahan pada ibu melahirkan, bukannya takut akan darah. Pernyataan beliau ini terkesan membesar-besarkan kenyataan dan tidak logis.

Gawatnya pernyataan ini dapat digeneralisasikan sebagai sebuah gambaran (baca: kenyataan) umum kinerja bidan di NTT. Tentunya hal ini tidak dapat diterima, terlebih khusus oleh para bidan NTT.

Berikutnya, PK memuat berita (8/6) dan opini (10/6) yang temanya mempersoalkan kualitas bidan. Muatan baik berita maupun opini tersebut adalah bahwa di NTT masih banyak bidan yang belum berkualitas lantaran banyak yang belum mengikuti pelatihan. Untuk itu pemerintah provinsi dan kabupaten/kota harus banyak membuat pelatihan bagi bidan agar makin meningkat kualitasnya, demikian disampaikan Ketua Komisi V DPRD NTT, Winston Rondo (Rabu, 8/6/2016). Juga diharapkan ikatan profesi bisa mendorong kinerja bidan lebih bagus agar kematian ibu dan anak di NTT bisa ditekan.

Argumen ini didukung oleh pernyataan dr. Kornelis K. Mete dalam berita PK berjudul, Dibuat Program Pelatihan Untuk Bidan. Beliau menekankan pentingnya pelatihan bagi bidan demi menekan tingginya mortalitas ibu dan anak.
Apa yang disampaikan baik oleh Bapak Winston Rondo maupun dr. Kornelis kiranya tidak diterima begitu saja. Kesimpulan dua premis di atas terlalu menyudutkan bidan. Mohon dibandingkan dengan persentase kelulusan ujian kompetensi Bidan tahun 2016.

Rata-rata kelulusan ujian kompetensi Bidan di NTT ada yang sudah mencapai 85%. Tingginya angka kelulusan ujian kompetensi tersebut mestinya mengindikasikan bahwa secara potensial kualitas bidan kita mumpuni. Sekedar mengingat kembali bahwa saat ini yang menjadi Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan bidan yang terakreditasi di dalam dan di luar negeri dan memiliki kompetensi, memenuhi kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan atau secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan praktik kebidanan.

Bidan yang bekerja di NTT adalah lulusan sekolah tinggi kebidanan yang sudah mengikuti ujian kompetensi, memiliki STR dan memiliki Surat Ijin Bidan.

Pernyataan bapak dr. Kornelis K. Mete pun terkesan menempatkan Bidan sebagai pemicu utama tingginya angka kematian ibu dan anak di NTT. Tentang pelatihan untuk meningkatkan kualitas Bidan, pasti Bidan juga sependapat dengan beliau. Akan tetapi tentang tingginya kematian ibu dan bayi sebenarnya bukan tanggung jawab bidan saja, tetapi semua pihak yang terkait termasuk pemerintah dan masyarakat itu sendiri. Berkaitan dengan hal ini harusnya program Revolusi KIA dievaluasi kembali secara mendalam mengingat selama ini banyak pihak mengklaim bahwa Revolusi KIA NTT sudah berhasil menekan angka kematian Ibu dan Anak.

Opini PK yang ditulis oleh rekan saya saudara Vinsen Making berjudul "Dukun beranak lebih hebat dari Bidan" menekankan bahwa masih banyak ibu melahirkan yang dibantu oleh dukun (Data di Desa Nule -TTS), serta menyoroti tentang sistem pendidikan calon bidan yang masuk institusi abal-abal.

Ada beberapa hal yang perlu dicermati oleh pembaca opini tersebut.
1) semua institusi pendidikan Kebidanan di NTT sudah memenuhi syarat dan sudah diakreditasi; 2) yang menjadi bidan saat ini adalah lulusan pendidikan tinggi kebidanan yang sudah dinyatakan lulus ujian kompetensi yang dikelola oleh Majelis Tenaga Kesehatan (di NTT dilakukan oleh MTKP dan salah satu institusi pendidikan di NTT sudah mencapai nilai kelulusan ujian kompetensi 85%); 3) secara umum yang dibahas dalam opini tersebut justru menjurus pada masalah kesehatan masyarakat yang berhubungan erat dengan kinerja pengelola program promosi kesehatan di Puskesmas yang sampai saat ini belum efektif. Mestinya opini tersebut lebih banyak menyoroti kinerja bagian promosi kesehatan di Puskesmas bukan bidan.
Konteks Bidan sangatlah kecil oleh sebabnya opini ini menimbulkan perdebatan di kalangan Bidan yang merasa dipojokkan.

Dukun adalah mitra Bidan dalam melaksanakan asuhan kebidanan. Dukun tidak bisa dihilangkan, oleh karenanya pelatihan dukun yang sering dilakukan oleh pemerintah di NTT sudah menghasilkan banyak dukun terlatih. Dukun yang bersangkutan sudah mengetahui tanda-tanda bahaya dalam menolong persalinan, sudah menerapkan standar bahan dan alat yang baik. Ini jangan diremehkan. Survei yang dilakukan di Desa Nule tidak merepresentasi cara kerja dukun dan tidak valid sebab hampir semua dukun beranak sudah mengikuti pelatihan dukun yang dilaksanakan oleh Puskesmas setempat. Hal ini bisa divalidasi pada Puskesmas yang dimaksud.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved