Bermainlah, Maka Anak Jadi Cerdas

Dia juga mengritik model pendidikan kita di tanah air yang terlalu menjejali anak dengan begitu banyak hal.

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/FELIKS JANGGU
ilustrasi 

Kualitas kemampuan otak dalam menyerap dan mengolah informasi tergantung dari banyaknya neuron yang membentuk unit-unit. Pertumbuhan jumlah jaringan dipengaruhi oleh pengalaman yang didapat anak pada awal-awal tahun kehidupannya, terutama pengalaman yang menyenangkan. Pada fase perkembangan ini anak memiliki potensi yang luar biasa dalam mengembangkan kemampuan berbahasa, matematika, keterampilan berpikir dan pembentukan stabilitas emosi.

Bermain di Rumah
Meski volumenya (berat) tidak lagi bertambah setelah anak berumur enam tahun (1,3 kg), otak masih terus berkembang dengan perkembangan sebagai berikut: usia 0 -4 tahun: 50 persen; 8 tahun: 30 persen; di atas 18 tahun : 20 persen. Jelas, empat tahun pertama adalah usia yang menentukan kemampuan intelek seorang anak. Karena itulah empat tahun pertama itu sering disebut sebagai the golden age (usia emas) setiap anak manusia.

Salah mengisi the golden age itu akan sangat merepotkan anak di kemudian hari. Salah satu yang selalu dianjurkan para ahli adalah dengan membiarkan anak bermain. Umur empat tahun pertama adalah umur ketika anak berhadapan dengan dunia bermain. Kerap kali, orangtua keliru mengartikan umur ini dengan misalnya menjejali anaknya dengan begitu banyak pengetahuan sistematis seperti membaca, matematika dan seterusnya.

Dunia anak sejatinya adalah dunia bermain. Pada masa anak-anak kisaran usia 1-6 tahun, aktivitas paling dominan dan menyita perhatian mereka adalah bermain, bermain dan bermain. Hidup seolah hanya bermain dan bermain. Banyak orangtua terganggu melihat anak-anak yang terlalu sering dan terlalu banyak bermain. Mereka ingin anak-anaknya tidur pulas dalam gendongan, duduk manis di pangkuan dan tidak boleh menginjak tanah mengeksplorasi dunia dalam lingkupnya.

Menurut Profesor Dr. Conny R Semiawan, bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius namun mengasyikkan. Melalui bermain, semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Dengan bermain secara bebas, anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Melalui permainan anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal, baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spiritual.

Bermain adalah medium, dimana anak mencobakan diri, bukan saja dalam fantasinya tetapi juga benar nyata secara aktif. Permainan adalah alat bagi anak untuk menjelajah dunianya, dari yang tidak ia kenali sampai pada yang ia ketahui, dan dari yang tidak dapat diperbuatnya hingga mampu melakukannya.
Secara tegas dapat kita katakan, belajar sambil bermain bagi anak usia dini merupakan conditio sine qua non, bila orangtua menginginkan anaknya sehat mental.

Jika keluarga adalah kesatuan unit terkecil di dalam masyarakat, maka keluarga adalah lingkungan pertama, tempat persemaian paling subur dan baik bagi tumbuh dan berkembang seorang anak menuju masa depannya. Jangan biarkan anak salah menemukan lingkungan keluarga, tempat persemaian pertamanya. Sebaliknya, siapkanlah lingkungan yang kondusif, biarkanlah rumah menjadi tempat paling nyaman dan menyenangkan buat anak-anak bermain guna merasang otaknya.

Jika demikian pentingnya perkembangan seorang anak pada usia dininya, maka cuma satu kesadaran yang sangat penting, yakni semakin sering meluangkan waktu untuk bersama-sama dengan anak-anak di rumah. Dorothy Low Nolte dalam Children Learn What They Live With memberikan beberapa petuah:

Jika anak banyak dicela, dia akan terbiasa menyalahkan.
Jika anak banyak dimusuhi, dia akan terbiasa menentang.
Jika anak dihantui ketakutan, dia akan terbiasa merasa cemas.
Jika anak banyak dikasihani, dia akan terbiasa meratapi nasibnya.

Jika anak dikelilingi olok-olok, dia akan terbiasa menjadi pemalu.
Jika anak banyak diberi dorongan, dia akan terbiasa percaya diri.
Jika anak banyak dipuji, dia akan terbiasa menghargai.
Jika anak diterima oleh lingkungannya, dia akan terbiasa menyayangi.
Jika anak diperlakukan dengan jujur, dia akan terbiasa melihat kebenaran.

Bagaimana anak Anda?*

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved