Bermainlah, Maka Anak Jadi Cerdas
Dia juga mengritik model pendidikan kita di tanah air yang terlalu menjejali anak dengan begitu banyak hal.
Oleh Tony Kleden
Wartawan, Mengajar Jurnalistik dan Public Speaking di SMA Seminari St. Rafael Kupang
POS KUPANG.COM - Teringat kritikan Profesor Dr. Conny R Semiawan, yang pada masa Orde Baru pernah heboh dengan buku Adik Baru itu. Dalam sebuah workshop tentang pendidikan anak usia dini di Bogor, Semiawan menyindir model pendidikan taman kanak-kanak di Indonesia karena lebih banyak memaksa anak untuk belajar. "Ketika anak mau sekolah dasar, ditanya sudah bisa membaca atau belum? Ada sekolah dasar yang menolak anak-anak yang belum bisa membaca. Ini konyol," sindir Semiawan.
Dia juga mengritik model pendidikan kita di tanah air yang terlalu menjejali anak dengan begitu banyak hal. "Anak-anak kita terlalu dipaksa untuk menghafal ini dan itu. Menghafal adalah penyakit bangsa Indonesia. Anak disuruh belajar, belajar untuk mengejar ranking. Tetapi dia kehilangan masa bermain. Padahal bermain itu merupakan kebutuhan yang paling penting buat anak," katanya.
Satu Miliar Komputer
Otak manusia yang kecil di batok kepala itu ternyata punya kapasitas yang luar fantastis dan luar biasa canggihnya. Para ilmuwan sering menganalogikan otak manusia dengan komputer super canggih, super istiwewa atau entah super apa lagi. Jika satu unit komputer memiliki 100 neuron (jaringan), maka otak manusia memiliki 100 miliar neuron. Itu berarti bahwa satu otak manusia, sama dengan 1 miliar unit komputer. Bayangkan ruang sebesar apa menampung komputer sebanyak itu.
Studi ilmu neurologi (ilmu tentang saraf) membenarkan bahwa dalam setiap jaringan otak manusia terdapat sekitar 100 miliar neuron itu yang lazim disebut jaringan saraf. Berbeda dengan komputer yang beroperasi setelah dihidupkan manusia, jaringan otak manusia telah mulai bekerja beberapa minggu setelah pembuahan dalam rahim ibunya. Kalau para ilmuwan dapat menguping bunyi otak pada satu janin manusia berusia 10 atau 12 minggu sesudah pembuahan, mereka akan mendengar hiruk- pikuk yang mencengangkan.
Di dalam rahim, ketika berumur seperti itu, sel-sel saraf pada otak yang sedang berkembang sibuk dengan kegiatan yang terencana. Sel saraf panjang itulah yang dikenal dengan neuron tadi. Neuron itu ibarat kawat yang menghantar pesan-pesan listrik lewat sistem saraf dan otak. Neuron ini tidak mengirim sinyal dan menyebarkannya secara sembarangan.
Kalau sembarangan, maka bunyi detak otak akan mirip seperti radio yang disetel setengah-setengah antara dua stasiun. Sebaliknya bunyi detak otak itu sangat jelas karena berasal dari gelombang kegiatan neuron yang terkoordinasi. Gelombang kegiatan otak itu membentuk sirkuit otak menjadi pola yang lama-kelamaan akan menyebabkan bayi yang lahir nanti mampu menangkap suara ayah, sentuhan ibu, atau gerakan mainan.
Ketika dilahirkan bayi akan hadir dengan 100 miliar neuron di otaknya. Otak bayi itu sudah berisi hampir semua sel saraf yang akan dimilikinya. Namun pola penyambungan antara sel-sel itu masih harus dimantapkan. Sebelum kelahiran kegiatan neuronlah yang berperan untuk memperhalus jaringan. Tetapi setelah kelahiran, kegiatan neuron itu tidak spontan lagi. Tugas memperhalus jaringan itu digerakkan oleh banjir pengalaman indra.
Selama tahun-tahun pertama kehidupan, otak manusia mengalami rangkaian perubahan yang luar biasa. Tidak lama sesudah kelahiran, otak bayi menghasilkan berkelimpahan biologis berupa bertriliun-triliun sambungan antarneuron. Bila tidak mendapat lingkungan yang merangsangnya, otak seorang anak akan menderita. Menurut penelitian, anak-anak yang jarang diajak bermain atau jarang disentuh, perkembangan otaknya 20 atau 30 persen lebih kecil daripada ukuran normalnya pada usia itu.
Ketika lahir, otak bayi seberat 350 gram. Berturut-turut pertambahan berat otaknya adalah sebagai berikut: tiga bulan: 500 gram; 6 bulan: 650 gram; 9 bulan: 750 gram; 12 bulan: 925 gram; 18 bulan: 1000 gram (1 kg). Berat otak anak umur enam tahun sudah sama seperti otak orang dewasa, yaitu sekitar 1,3 kg.
Setelah lahir, jumlah sel saraf tidak bertambah lagi, karena sel saraf itu tidak dapat membelah diri lagi. Tetapi masing-masing sel yang mempunyai juluran-julurannya mempunyai daya untuk bercabang-cabang lagi dan membuat ranting-ranting hingga usia lanjut. Keajaiban otak ialah bahwa bila disentuh melalui rangsangan seperti belajar atau bermain, maka cabang-cabang dan ranting-ranting juluran sel saraf tumbuh berkembang, menjalin hubungan-hubungan yang semakin rimbun. Bila tidak digunakan, maka cabang-cabang ini akan mati dan hubungan antarsel menjadi kurang rimbun.
Sebuah percobaan menarik dilakukan pada bayi kucing. Bayi kucing yang baru dilahirkan ditempatkan dalam kandang yang dindingnya tertutup bergaris-garis horizontal. Setelah berumur tiga bulan, ia dilepas di luar kandang. Ternyata, ia hanya melihat benda-benda yang horizontal, yang vertikal tidak dilihatnya.
Ketika berjalan kaki meja, kursi yang vertikal ditabraknya. Ini berarti bahwa sel-sel di pusat penglihatan yang fungsinya melihat garis vertikal tidak tumbuh, malah mati. Hal ini berlaku juga bagi sel-sel yang mengolah rangsangan dari indra-indra.
Otak bayi manusia juga sama seperti itu. Jika tidak ada rangsangan yang cukup, maka jaringan-jaringan yang tidak mendapat rangsangan akan mati dan tidak berfungsi. Karena itu, banyak ahli menganjurkan agar ketika sadar, seorang bayi sebaiknya diletakkan di tempat terbuka sehingga ia dapat melihat apa yang ada di sekelilingnya.
Ia perlu mendapat rangsangan dari semua indranya. Ia perlu mendapat rangsangan pendengaran bunyi bahasa untuk merangsang perkembangan pusat bahasa dalam otaknya. Penelitian menunjukkan bahwa ocehan bayi berumur 3-6 bulan sesuai dengan fonem bahasanya. Ini berarti bahwa kita memang harus berbicara dengan bayi, meskipun ia belum mengerti.
Selain 100 miliar neuron, ketika lahir otak bayi juga dilengkapi dengan satu triliun sel yang disebut sel glia yang berfungsi sebagai perekat dan synap (cabang-cabang) yang akan membentuk sambungan antarneuron. Synap ini akan bekerja secara cepat sampai anak berusia 5-6 tahun. Banyaknya jumlah sambungan tersebut mempengaruhi kualitas kemampuan otak sepanjang hidupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/anak-bermain-di-maumere.jpg)