Fenomena Toronto

Kalau acara wisuda tadi boleh saya analogikan dan sandingkan dengan peristiwa pelantikan bupati dan wakil bupati

Editor: Dion DB Putra

Melalui peristiwa pelantikan itu pula, kita semua hendak menegaskan bahwa rakyat NTT telah lulus dalam ujian berdemokrasi sekaligus berhak mendapatkan ijazah dalam wujud hidup, yakni bupati/wakil bupati pilihan mereka; yang daripadanya rakyat jelata berharap akan mendapatkan kehidupan yang lebih berkualitas, baik bagi dirinya sendiri, keluarga maupun masyarakatnya. Tentu rakyat tidak sembarang berharap.

Mereka memiliki alasan untuk itu karena jauh-jauh hari sebelumnya setiap kontestan telah menyampaikan dengan terang benderang, dan rakyat pun menyerap kemudian menyimpannya di lubuk hati mereka yang paling dalam. Di sinilah rakyat butuh konsistensi, artinya apa yang pernah diucapkan, itulah yang harus dilakukan dan mereka dapatkan. Ini sesuatu yang amat sulit. Hanya butuh beberapa detik saja untuk mengucap janji, tetapi perlu perjuangan seumur hidup untuk bisa memenuhinya.

Rakyat NTT bukanlah manusia yang tidak punya hati dan tega melihat pemimpinnya menderita. Rakyat NTT punya perasaan yang sangat peka. Mereka tahu persis siapa yang benar-benar berjuang untuk memenuhi janji yang diucapkannya, dan hafal di luar kepala siapa-siapa saja yang hanya pura-pura berjuang untuk rakyat, tetapi diam-diam melakukannya untuk kepentingan dirinya sendiri, sanak saudara, kerabat maupun golongannya.

Rakyat NTT tidak menuntut sesuatu yang di luar batas kemampuan manusia. Mereka juga maklum bahwa mengubah kualitas hidup itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mereka hanya butuh bupati/wakil bupati yang sungguh-sungguh menjalankan mandat yang mereka berikan dan mau berkorban bersama-sama mereka. Pada titik ini saya yakin, sebagai seorang wisudawan terbaik dengan predikat cum laude, rakyat akan mempertahankan mati-matian ijazah yang telah mereka peroleh dengan susah payah. Ia tidak akan merobek-robeknya, kecuali bila terpaksa. Siapa yang mau fenomena Toronto terulang?

Hanya bupati/wakil bupati yang bisa memastikannya, dan sang wisudawan akan terus mengawasi dan mencermati setiap jejak langkah pengabdian. Bukan untuk apa-apa, mereka hanya ingin mengisi ruang kosong dalam jiwa mereka yang terlalu lama diabaikan. Berkat Tuhan bersama bupati/wakil bupati yang sudah dilantik.*

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved