Fenomena Toronto
Kalau acara wisuda tadi boleh saya analogikan dan sandingkan dengan peristiwa pelantikan bupati dan wakil bupati
Apresiasi terhadap Pelantikan 9 Kepala Daerah di NTT
Oleh Fary Dj Francis
Wakil Rakyat NTT di DPR RI
POS KUPANG.COM - Pada suatu hari di tahun 1968 terjadi kehebohan di Universitas Toronto, Kanada. Kehebohan itu konon dipicu oleh ulah seorang wisudawan terbaik dengan predikat cum laude yang tiba-tiba merobek-robek ijazah yang baru saja diterimanya di depan mata para profesornya, sesama yubilaris dan seluruh tamu undangan sambil mencak-mencak.
"Selama saya studi di universitas ini banyak yang saya pelajari, akan tetapi tidak satupun dari pelajaran itu dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang membenak dalam hatiku, tidak terjawab pula oleh ilmu pengetahuan yang saya terima. Generasi kami mempunyai bermacam-macam problem. Problem-problem yang merangsang jiwa kami setiap hari, tetapi tidak terjawab. Yang diajarkan hanyalah ilmu, ilmu dan ilmu pengetahuan. Otak kami diisi, tetapi jiwa kami tetap kosong."
Kalau acara wisuda tadi boleh saya analogikan dan sandingkan dengan peristiwa pelantikan bupati dan wakil bupati pada hari Rabu (17/2/2016), maka para pembaca harian ini mungkin akan terkejut dan sedikit tidak nyaman ketika saya tempatkan rakyat NTT sebagai wisudawannya.
Tidak apa-apa, setiap kita bebas berimajinasi, bahkan boleh menggugat logika yang sedang saya bangun ini. Pertanyaan spontan atau celetukan ringan yang mungkin lepas dari mulut kita adalah, "Lantas siapa para dosen dan profesornya, siapa penyelenggaranya, mana ijazahnya, dan sebagainya."
Masih dalam koridor logika tadi, saya mengajak kita semua untuk berkilas balik sejenak. Siapa pun dari antara kita tidak dapat menampik kenyataan bahwa sejak pemerintah pusat menetapkan PILKADA serentak tanggal 9 Desember 2015 yang lalu, berbagai komponen bangsa dan elemen masyarakat dari kalangan pemerintahan maupun non-pemerintahan beramai-ramai menggelar diskusi, mulai dari pinggir jalan, sudut-sudut pasar, warung kopi, sampai ke ruang-ruang kantor, restoran dan hotel-hotel bergengsi.
Tema, nada dasar maupun sasarannya sama seperti yang sudah-sudah, yakni pendidikan politik bagi rakyat jelata agar dapat menumbuhkembangkan budaya maupun sikap demokratis, santun, beradab, dan damai.
Secara pribadi, saya memandang ini sebagai sebuah kesimpulan yang benar, namun sesat pikir, dan sekaligus menyampaikan pesan terselubung bahwa mereka yang gemar menggagas maupun menjalankan kegiatan pendidikan politik adalah golongan yang telah tercerahkan. Kenyataannya tidak!
Bersamaan dengan gencarnya sosialisasi, seminar, lokakarya dan lain-lain dengan tema pendidikan politik tadi, menyeruak pula perasaan cemas kalau-kalau rakyat jelata bersikap sebaliknya; dan yang paling mengkhawatirkan mereka yang merasa sebagai kaum cendekia selama periode pra PILKADA tersebut adalah munculnya tindakan anarkis, baik pada masa kampanye, pemungutan suara maupun pasca pemungutan suara, hinggga saat-saat menjelang pelantikan. Tetapi rakyat NTT membuktikan bahwa mereka adalah manusia-manusia yang cerdas, yang tidak mau lagi diperangkap dan dibodoh-bodohi oleh pihak manapun yang ingin memancing dan meraup kakap di air keruh.
Rakyat NTT sudah makan asam garam dalam berbagai hajatan PEMILU, baik skala PILKADA maupun nasional. Cukup sudah pelajaran pahit di masa lalu, seperti yang pernah dialami saudara/i kita di Sumba Barat Daya. Rakyat NTT mau hidup akur dengan sesama saudaranya, meski berbeda afiliasi politik maupun ideologi sekalipun. Mereka adalah pribadi-pribadi yang sudah matang oleh tempaan pendidikan dan pesan turun- temurun para leluhur yang berlandaskan kearifan budaya di mana benih-benih damai dan kasih ditaburkan dalam berbagai corak dan ragam pengajaran.
Maka kepada sidang pembaca sekalian yang telah dengan setia mengikuti alur nalar saya ini sejak awal, patut saya tandaskan sekali lagi bahwa pada momen pelantikan bupati dan wakil bupati dari 9 kabupaten di NTT yang saya hadiri, yang jadi wisudawan dan jubilarisnya adalah Rakyat NTT. Karena itu, saya haturkan selamat meraih sukses kepada seluruh Rakyat NTT yang telah secara cerdas, arif dan bijak memilih pengemban mandat mereka untuk masa 5 tahun ke depan.
Dan bagi para bupati/wakil bupati pelaksana mandat rakyat: Agustinus Niga Dapawole dan Marthen Ngailun Toni di Sumba Barat; Wilybrodus Lay dan J.T. Ose Luan di Belu; Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke di Sabu Raijua; Deno Kamelus dan Viktor Madur di Manggarai; Agustinus Ch Dula dan Maria Geong di Manggarai Barat; Raymundus Fernandes dan Aloysius Kobes di TTU; Gidion Mbilijora dan Umbu Lili Pekuwali di Sumba Timur; Stefanus Bria Seran dan Daniel Asa di Malaka serta Marianus Sae dan Paulus Soliwoa di Ngada, saya ucapkan proficiat karena telah berhasil menjadi pendidik dan suri teladan, baik bagi rakyat pendukung maupun bagi mereka yang mungkin berseberangan gagasan, cara pandang maupun ideologi dengan bapak/ibu semua selama masa kontestasi yang amat menegangkan itu.
Bapak/ibu semua telah mengangkat sumpah untuk menjadi pelayan bagi seluruh rakyat di kabupaten/kota masing-masing di NTT. Sejatinya, setelah ini tidak ada lagi eforia tim sukses, anak emas dan anak tiri, kawan maupun lawan. Yang seharusnya dilakukan adalah menggalang kebersamaan, persatuan dan kesatuan untuk mengejar dan mewujudnyatakan apa yang menjadi tagline kampanye maupun visi, misi dan program masing-masing.
Peristiwa pelantikan adalah juga momen penegasan bahwa bapak/ibu adalah figur-figur yang paling pantas mengemban amanat Tuhan melalui rakyat jelata yang telah memilih dan menyerahkan diri untuk dipimpin menuju hidup yang lebih baik dan lebih bermartabat.