Tanam Air Lalu Panen Air

Lalu mengharukan karena sebagian mereka (seperti petani Jitro) masih bisa menjual sesuatu

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/DION DB PUTRA
Bendungan Tilong di Kabupaten Kupang diabadikan dari balik jendela pesawat Wings Air pada hari Senin sore 15 Juni 2015. 

Kisah Sukses Kecil dari Amanatun Utara

Oleh Kosmas Damianus Olla
Staf Yayasan Tananua Timor Kupang dan Sekretaris Riset LPTK, Tinggal di Desa Oeltua

POS KUPANG.COM -Menyedihkan sekaligus mengharukan ketika membaca headline Pos Kupang, Senin tanggal 25 Januari 2016 (Jitro Jual Babi untuk Beli Beras). Para petani di Kecamatan Kualin dan Amanuban Selatan-TTS kehilangan harapan panen tahun ini. Bahkan ada yang mulai keluar daerah untuk mencari pekerjaan lain demi menafkahi keluarga.

Lalu mengharukan karena sebagian mereka (seperti petani Jitro) masih bisa menjual sesuatu (=ternak) guna mendapat uang dan membeli makanan. Faktor di balik kisah sedih petani Jitro bersama sesama petani lain di Kecamatan Kualin dan Amanuban Selatan-TTS adalah kekurangan air atau kekeringan akibat minimnya curah hujan untuk mengairi tanaman pangan (padi, jagung dan kacang serta pisang dan ubi-ubian, dsb).

Jika dicermati secara tajam sebenarnya kekurangan air dan pangan adalah dua isu tahunan yang sangat akrab dengan masyarakat NTT. Setiap tahun masyarakat NTT membutuhkan 4,8 miliar m² air. Sementara jumlah ketersediaan air di NTT baru mencapai 2,82 miliar m²/tahun. Artinya masyarakat NTT masih kekurangan 2,95 miliar m²/tahun untuk mencukupi kebutuhan air bagi penduduk NTT (Kementerian Kehutanan RI, 2013). Ditambah perubahan curah hujan yang tidak jelas dua tahun terakhir hingga awal tahun 2016 ini memperparah kondisi kekeringan di NTT. Kondisi faktual ini memberikan sinyal jelas bahwa tahun ini akan menjadi tahun krisis air dan pangan yang dahsyat di NTT.

Tulisan ini sekadar ajakan bagi khalayak untuk melihat daerah lain di TTS (seperti wilayah Amanatun Utara) dan menarik pembelajaran dari petani di Amanatun Utara yang mungkin bisa menginspirasi masyarakat lain untuk melakukan upaya penanggulangan kekeringan atau kekurangan air dan kekurangan pangan.

Tanam Air lalu Panen Air
Kondisi alam Amanatun Utara (khususnya di tiga desa: Sono, Sambet dan Fatuoni) di awal tahun 1990-an hampir sama dengan kondisi daerah lain di TTS dan TTU hari ini yakni kering dan tandus akibat curah hujan yang tidak menentu. Sementara pertanian lahan kering adalah satu-satunya sumber hidup para petani yang nota bene bergantung pada curah hujan. Cita-cita petani saat itu hanya dua yakni memiliki kecukupan pangan dan ketersediaan air.

Berdasarkan cita-cita tersebut, sebuah LSM yang bernama Yayasan Tananua Timor Kupang (waktu itu masih bernama Tananua) melakukan pendampingan terhadap para petani melalui salah satu program yang disebut wanatani/agroforestry.

Melalui program ini para petani mengembangkan suatu konsep kebun ideal. Gambaran kebun ideal itu, antara lain: di kepala kebun ditanami tanaman hutan/tanaman penghasil air (beringin, jambu air hutan dan pohon ara), lalu ada terasering sesuai struktur kemiringan tanah dan ada tanaman penguat teras sekaligus sebagai pakan ternak. Di antara jarak teras ada berbagai tanaman pangan dan komoditi, ada persediaan pupuk bagi tanaman (kompos dan bokasi), ada integrasi usaha ternak dan usaha ekonomi lain.

Semua rencana petani tentang isi kebun termuat di dalam apa yang disebut dengan sketsa kebun. Sketsa kebun ini kemudian menjadi guideline bagi kerja petani ke arah cita-citanya yakni pemenuhan kebutuhan pangan dan air. Oleh karena itu setiap petani diwajibkan memiliki sketsa kebun.

Puluhan tahun kemudian pasca pendampingan, di kebun-kebun petani muncul mata air (sumber air). Petani yang dulu menempu 5 hingga 7 km untuk mengakses air bersih kini bisa mengakses air dari kebunnya sendiri yang terletak ± 300 meter dari rumah. Selain itu, air dimanfaatkan secara baik untuk mengairi tanaman (baik tanaman pangan maupun tanaman komoditi dan tanaman hutan) di kebun.

Dari testimoni di atas dapat disimpulkan beberapa poin penting antara lain: pertama, masalah kekeringan atau kekurangan air bahkan kekurangan pangan sekaligus bisa diatasi dengan menanam (baik tanaman pangan dan komoditi maupun tanaman hutan atau penghasil air). Dengan kata lain menanam pohon (selain tanaman pangan dan komoditi) sama dengan menanam air. Lalu memanen air.

Kedua, bahwa untuk mencapai cita-cita kecukupan pangan dan air bagi petani, maka perlu dikembangkan suatu sistem pertanian yang disebut dengan sistem pertanian integratif dan diversifikasi atau Diversified and Integrated Farming System (DIFS). DIFS menekankan penganekaragaman tanaman pangan dan komoditi serta tanaman penghasil air di kebun. Selain itu, ada integrasi usaha lain di kebun yang sama seperti beternak atau melakukan usaha ekonomi produktif lain yang menunjang pendapatan keluarga. Keunggulan DIFS adalah ketika hujan tidak menentu dan panen tidak menjanjikan, para petani masih bisa makan dari persediaan pangan lain di kebun.

Ketiga, bahwa menanam pohon untuk memanen air adalah aktivitas yang lebih ramah lingkungan (ditinjau dari aspek ekologis) ketimbang nafsu membangun puluhan bendungan atau waduk raksasa dengan merusak alam atau lingkungan yang belum tentu hasilnya (=airnya) menjangkau semua lapisan masyarakat.

Hemat penulis, tidak semua daerah yang rawan kekeringan (kekurangan air) bisa dibangun bendungan atau waduk. Tetapi bahwa semua petani bisa menanam pohon di lahannya dan bisa menghasilkan pangan dan sumber mata air yang bermanfaat bagi tanaman dan komunitas penduduk itu suatu fakta tak terbantahkan. Kecuali kalau manusianya malas dan pasrah serta bergantung pada bantuan pihak luar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved