Sastra dan Agama Kemanusiaan

Sebetulnya, filosof sosial telah banyak membahas bahwa agama sering mempunyai efek negatif

Editor: Dion DB Putra
Net
Ilustrasi 

Oleh Marsel Robot
Dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Undana

POS KUPANG.COM - Sepotong metafora liris mengiris kalbu ketika John Hick mewanti, "The lamps are different, but the light is the same (lihat Volf, 2008:8; Robot, 2015). Tetapi, Harland Develand berseru sebaliknya, "Realitas keragaman dan perbedaan budaya merupakan 'setan baru' dalam jagat hidup kita" (O'Dea, 1996: 427). Dan salah satu unsur keragaman yang paling emosional memunculkan konflik adalah agama. Surga dan Tuhan begitu mudah diciptakan oleh kefanaan akal manusia.

Sebetulnya, filosof sosial telah banyak membahas bahwa agama sering mempunyai efek negatif terhadap kesejahteraan masyarakat dan individu. Isu-isu agama menjadi salah satu masalah penyebab perang, keyakinan agama sering menimbulkan sikap tidak toleran, loyalitas agama hanya menyatukan beberapa orang tertentu dan memisahkan yang lainnya (O'Dea,1996:139).

Jonathan Wift dengan nada sinis mengatakan: "Kita mempunyai cukup agama hanya untuk membuat kita saling membenci, namun tidak cukup membuat kita untuk saling mencintai (ibid). Kala agama berstatus instrumen, maka agama sering dijadikan kargo yang mengangkut kepentingan tertentu. Agama akhirnya, persis cairan racun yang dituangkan dalam cawan egoisme manusia yang karatan.

Sastra sebagai Aktivitas Religius
Dalam masyarakat tradisional sastra adalah aktivitas religius. Sastra merupakan agama tanpa instansi, tetapi sangat kuat menguratkan praktik etik. Tuturan dalam ritual seser tompok (bersih kampung) di Manggarai (Flores Barat) merupakan firman yang mendorong orang ke luar dari ruang rutin dan perlahan masuk dalam ruang ritual yang sakral magik.

Di sana ia menyerahkan diri secara tulus dan total kepada Moring Agu Ngaran (Maha Pemilik). Dalam konteks itu, kampung tidak dipandang sebagai gugusan rumah, melainkan gugusan makna yang diurapi secara religius melalui ritual dan tuturan tadi.

Sarana kebahasaan digunakan secara maksimal untuk menyatakan keadaan manusia dalam posisi sebagai subordinat semesta. Dalam 'tola kaba' (doa melalui kerbau) misalnya dapat disimak.

Senget lite le pinga lite sina Dengarlah engkau yang di tinggi
Parn awo kolepn sale yang terbitnya di Timur
Ulungn le waing lau dari utara hingga selatan
Tanan wa awangn eta dari bumi hingga langit

Doa tradisional ini diucapkan dalam lagak literer yang unik. Terasa gurih dan merdu dengan konstruksi bunyi i-e menyarankan tentang Wujud Tertinggi yang jauh di singgah sana, dan konstruksi bunyi i-a merujuk kepada leluhur. Wujud Tertinggi tidak dihadirkan dalam denotatif, tetapi hadir secara metanomia. Baris parn awo kolepn sale (yang terbit di timur terbenam di barat) memetanomiakan sifat kemahakuasaan Wujud Tertinggi, sekaligus menerangkan sifat Wujud Tertinggi bagai matahari yang bersinar tidak memihak, teratur, dan memberikan kegembiraan dan bersifat abadi.

Ritual dan tuturan sakral merupakan puncak penghayatan terhadap Wujud Tertinggi. Demikian tuturan diucapkan secara literer, sarat dengan analogis, metaforis, simbolis. Penggunaan bahasa yang alegoris mengawetkan pesan yang hendak disampaikan kepada Wujud Tertinggi.

Sastra dalam lingkungan masyarakat arkais adalah sebuah lembaga nilai yang memfasilitasi cara hidup bersama. Pada zaman raja-raja, pujangga menjadi rasul kerajaan di bidang wangsit dan kerohanian. Pujangga menjadi lingkaran inti penjaga peradaban dan roh kehidupan kerajaan. Karya sastra suci Negarakertagama, karya Mpu Prapanca pada era Majapahit di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk (1365-1389) sebagai bacaan suci yang berisikan nasihat penting, termasuk toleransi keagamaan (Lihat juga, Parakitri T. Simbolon, 2002:432).

Kerukunan beragama, atau beragama untuk kerukunan terbaca jelas dalam buku Sutasoma karya Mpu Tantular. Beberapa kalimat termasyhur yang dipetik menjadi semboyan Indonesia merdeka: Siwa-Budha bhineka tunggal ika, tan hana dharma mangrawa (Agama Hindu dan Budha berbeda tetapi satu, sebab kebenaran tidak pernah mendua).

Y.B. Mangunwijaya (1982) mengatakan, pada awal mulanya, segala sastra adalah religius. Keberadaan agama dalam karya-karya sastra digantikan dengan unsur religius yang lebih luas maknanya dan sifatnya berbeda dengan agama. Unsur religius sebagai penghubung yang mendekatkan para penikmat karya sastra dengan agamanya, religius yang ada dalam karya sastra berasal dari agama, tetapi berbeda dengan unsur agama yang terkandung dalam karya sastra.

Pernyataan Mangunwijaya hendak menegaskan, religiusitas berbeda dengan agama. Religiusitas adalah suatu penghayatan total terhadap kekuatan yang tremendum, transmanusiawi, tanpa instansi tapi bersubstansi, tak tertembus tombak empirical. Religiusitas berbeda dengan agama. Manusia tradisional bersikap religius meski tidak beragama. Sebaliknya, pada zaman modern banyak orang beragama bersikap kafir atau kekafiran kaum beragama.

Agama Kemanusiaan
Dalam kehidupan masyarakat yang eksklusif, pluralitas melahirkan polaritas antagonistik. Dalam konteks demikian, sastra memperlihatkan tangan melakukan interupsi di tengah suasana horor dan penuh teror itu. Namun, interupsi bisa terjadi sebaliknya, sebagai meniup api dalam sekam.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved