NTT Bingkai Kerukunan?

Dua pertanyaan sederhana ini menjadi acuan sorotan saya mengenai realitas kerukunan antarumat beragama di NTT.

NTT Bingkai Kerukunan?
BMKG
Nusa Tenggara Timur

Menimang Kualifikasi NTT sebagai Penerima Harmony Award 2015

Oleh Hesikius Junedin
Tinggal di Biara Karmel OCD San Juan, Penfui-Kupang

POS KUPANG.COM - Pada Senin, 4 Januari 2016, tajuk (Salam) pada harian ini menampilkan tulisan berjudul: "NTT Bingkai Kerukunan". Dari judulnya, saya terpikat dan membawa mata untuk melahap habis isinya. Selesai dibaca, saya biarkan halamannya tetap terbuka dan sekali lagi saya tertegun. "NTT mendapat trofi kerukunan umat beragama (Harmony Award) 2015 yang diberikan Menteri Agama RI."

Saya dihinggapi dua bentuk pertanyaan ini, kualifikasi apakah yang NTT miliki sehingga layak menerima trofi dimaksud. Dengan kata lain apa bukti riil kelayakannya? Bagaimanakah sikap kita (masyarakat NTT) atas penghargaan tersebut? Dua pertanyaan sederhana ini menjadi acuan sorotan saya mengenai realitas kerukunan antarumat beragama di NTT.

Pertama, apakah kerukunan di NTT terjadi karena setiap 'rumah' memiliki pagarnya masing-masing serta merasa aman di balik tembok yang telah dibangun itu? Ataukah karena setiap keber-agama-an itu tercipta dalam lingkungan yang dipagari tembok yang sama yang mana tiap agama dan tradisinya hidup berdampingan, bersama dan tidak saling beradu? Juga, apakah kerukunan itu dikarenakan setiap 'rumah' hanya membuka pintu bagi kerabatnya saja serta mampu hidup mandiri sehingga tidak perlu lagi rewel dengan tetangganya? Ataukah kerukunan itu terjadi karena masing-masing berani keluar dari bilik perbedaannya tanpa membawa perbedaan yang memang selalu berarti berbeda itu dan bersama-sama membangun nilai kemanusiaan yang lebih universal?

Jika karena alasan ini, maka juga tidak ada alasan untuk mengatakan NTT tidak layak untuk itu.

Pos Kupang mengapresiasi penghargaan Kemenag itu secara positif dengan melihatnya bukan saja sebagai simbol, tapi merupakan bentuk pengakuan secara nasional (PK, Senin, 4 Januari 2016, hlm. 6).

Ini wajar. Sebuah ekspresi bangga yang sama sebagai warga NTT. Namun, sebelum sampai pada nada serupa, penulis menghadapkan kemungkinan lain bahwa penghargaan yang diberikan itu boleh jadi merupakan bentuk 'pemerataan trofi' setelah NTT gagal dalam cabang perlombaan lainnya seperti: kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, SDM, dll. Atau trofi serupa hanyalah bukti bahwa pemerintah pusat masih sedikit berempati terhadap rakyat NTT yang hampir dilupakan sebab dalam segala bidang hanya menempati urutan akhir di tingkat nasional, suatu hierarki yang paling dekat dengan titik lupa dan dilupakan. Begitu konstan berada di posisi ekor, NTT (pemimpin, rakyat, termasuk unsur keber-agama-annya) hampir merasa nyaman dalam ketidakamanan situasinya.

Lebih parah lagi kalau-kalau keadaan ini melahirkan masyarakat NTT yang berpandangan hidup fatalistik, suatu bentuk kepasrahan terhadap nasib, menerima segala sesuatu sebagai takdir/kodrat. Kemiskinan dilihat sebagai takdir, serta kebodohan dan sebagainya juga sebagai hadiah dan harga yang patut bagi orang NTT.

Saya hampir yakin bahwa kita (orang NTT) bukanlah orang-orang yang fatalistik, sebab tidak menjauhi perjuangan dan tidak menolak untuk berusaha. Kita tidak pernah merancang atau mengimpikan suatu kegagalan, hanya saja hasilnya yang masih terlalu jauh untuk diraih. Kita tentunya masih menginginkan -- kalau tidak di mata dunia - -sekurang-kurangnya di hadapan bangsa Indonesia, orang NTT menjadi aktor atau subjek bagi perubahan bangsanya sendiri. Orang NTT juga pasti mendambakan agar tidak hanya diingat sebagai penghuni tetap klasemen bawah nasional. Juga tidak hanya diingat pada saat terangnya siang lalu hilang bersama datangnya malam.

Sebagai misal, teropong dunia terarah ke NTT saat berlangsungnya Sail Komodo beberapa bulan silam. Setelah itu, dunia lupa bahkan masyarakat Labuan Bajo dan sekitarnya yang menjadi saksi atas perhelatan akbar tersebut merasakan seakan-akan Sail Komodo itu hanyalah mimpi yang terlambat disadari realitas, sebab jejak dan bekas peristiwanya pun tidak kelihatan. Dampak langsung bagi masyarakat sendiri pun tak pernah bersua rasa puas. Berseberangan dengan cita-cita yang mendorong terlaksananya kegiatan dimaksud, yang banyak terekam hanyalah potretan bisu sebagai kenangan peristiwa dan letupan apresiasi karena berhasil diselenggarakan.

Lebih jauh manfaat paling besar yang orang NTT dapatkan hanyalah dunia tahu bahwa di ujung terbarat pulau Flores ada spesies langka yang masih bertahan hidup dan rukun dengan alamnya. Saya berani berandai-andai bahwa jika saja kategori yang sama dikenakan pada mereka (harmony award), maka seharusnya 'kawanan komodo' itulah yang juga layak menerimanya.

Kembali kepada trofi tadi. Nampaknya NTT banyak diuntungkan karena kelangkaan. Tadinya, Komodo yang langka, sekarang nilai kerukunan (kemanusiaan) yang langka kembali memberi trofi bagi masyarakat NTT. Jika memang NTT benar-benar layak, syukur dan bersukacita. Tapi, menjadi kemalangan jika yang terjadi karena Kemenag RI bingung menentukan pemenang karena kelangkaan tadi; apalagi trofi tahunan itu tetap harus diberi. Jika demikian yang terjadi, maka bersedihlah karena kita (warga NTT) hanyalah pemenang minus malum. Pemenang yang diuntungkan karena tidak ada lawan yang tangguh. Sehingga kualitas trofinya pun, yach, mari ditimang-timang.

Kedua, euforia atas trofi urutan satu kerukunan umat beragama tingkat nasional 2015 jangan sampai membuat kita lupa apa yang seharusnya kita beri. Kita perlu memberi bukti kepada publik nasional bahwa kita memang layak menerimanya. Bukan pembuktian berkala, tapi pada seluruh detik dan pergulatan kehidupan. Tidak penting seberapa sering kita mendapat trofi serupa, tapi seberapa besar nilai solidaritas yang tertanam antar warga di tengah pluralitas, dan seberapa luas hati dilapangkan di tengah banyaknya api kebencian antargolongan yang tersulut.

Proficiat umat beragama NTT! Kalaupun komodo yang langka akan segera punah dan musnah, semoga saja tidak dengan nilai kerukunan dan kemanusiaan NTT.*

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved