Mata Air Mengering, Air Mata Mengalir

Penegasan atas fungsi air, bukan saja sebuah afirmasi pragmatis, tapi ajakan

Editor: Dion DB Putra

Menyikapi Kelangkaan Air di NTT Khususnya di Ruteng

Oleh Gabriel Adur SVD
Warga Kota Ruteng, tinggal di Steyl-Belanda

POS KUPANG.COM - Air menjadi sumber kehidupan. Tanpa air tak ada kehidupan. Keduanya tak dapat dipisahkan. Sebuah kesimpulan yang tak perlu dinegasikan. Penegasan atas fungsi air, bukan saja sebuah afirmasi pragmatis, tapi ajakan untuk menyadari arti dan pentingnya zat cair ini untuk kehidupan.

Mengangkat kembali kegunaannya untuk keseimbangan ekologis pada rana publik merupakan upaya etis dan moral. Mendorong setiap kita untuk memeliharanya. Selayaknya memelihara kehidupan.

Krisis Air dan Dampak Sosialnya
Tulisan ini lahir dari perjumpaan penulis dengan realitas pahit. Masyarakat mengalami krisis air. Sebuah persoalan eksistensial untuk masyarakat yang perlu penanganan yang serius pula.

Sebuah sampel nyata keluhan banyak masyarakat di Kota Ruteng. Daerah yang dari dulu terkenal sebagai tempat kaya dan memiliki banyak sumber mata air. Kini menjadi kota, di mana masyarakatnya mengeluhkan tentang krisis air. Malah sudah agak lama.

Persawahan yang dulu menjadi andalan masyarakat petani di Ruteng untuk menyambung hidup (Tenda, Kumba, Waso, Lawir, sebagai contoh) kini perlahan berubah menjadi lahan kering. Kebanyakan masyarakat mengalihfungsikan tanah-tanah persawahan menjadi lahan-lahan hidup perkebunan sayur-mayur.

Namun usaha-usaha konkret masyarakat mengalami kendala. Semuanya berpulang pada rendahnya debit air. Daerah subur tanpa didukung oleh sumber daya air menjadi mubazir. Minim fungsi. Menjadi lahan kosong. Tidak bisa digarap untuk dikelola menjadi areal menanam tumbuhan jangka pendek untuk bisa memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Keluhan masyarakat atas situasi tersebut terus menjadi lintani sosial.

Bahkan melankoli kehidupan. Lahir dari situasi tertekan oleh beban kehidupan nyata.Mau hidup enggan. Juga kematian yang dinantikan masih lama.Gagal panen menciptakan kehilangan harapan untuk hidup. Stres sosial kolektif masyarakat pun menjadi salib hidup bersama pula oleh rakyat kecil.

Usaha mengail kembali pada kolam dan lautan kehidupan untuk membiarkan asap dapur tetap mengepul, terperangkap pada kenyataan: air sebagai nafkah atas tanah-tanah mereka kini berkurang. Bahkan kosong. Bendungan-bendungan dan selokan-selokan air untuk persawahan tinggal mosaik-mosaik kenangan. Sekedar menghidupkan kembali memori pada masa silam tentang daerah subur dan kaya akan makanan dan minuman.

Ongkos kehidupan semakin mahal. Hasil pertanian dan perkebunan rakyat untuk menyambung asa kehidupan semakin berkurang. Perubahan harga barang-barang untuk kebutuhan pangan, sandang dan papan di pertokoan melangit. Sistem penjualan dan pasar yang bersifat kapitalis semakin menekan hidup.

Tak terelakan lagi. Rakyat menjadi mangsa sistem sosial. Kapitalisme tak berpihak pada kebutuhan rakyat kecil dan miskin. Logika ekonomi pebisnis mengejar keuntungan sebar-besarnya, didukung oleh sifat korup sistem pemerintahan menjadi monster sosial. Keadaan ini membawa masyarakat hidup bagai telur di ujung tanduk. Untuk menyambung asa pun, masyarakat petani semakin kehilangan nyali.

Keluhan itu sudah lama disuarakan. Namun rupanya belum terlalu lantang sampai di telinga-telinga pengambil kebijakan. Atau sudah didengar, namun diabaikan. Dicuekin.
Dari keluhan rakyat seperti ini, penulis, dalam kesempatan berlibur ke kampung halaman di Ruteng, coba menyusuri sumber-sumber mata air di Ulu Wae Ces, di Kampung Waso dan Cunca Bor (Carep-Laci), sumber mata air di Kumba, Waebuka, Karot dan beberapa sumber mata air di sekitar bandar udara Frans Sales Lega Ruteng. Kenyataan yang dijumpai penulis membahasakan, bahwa sumber-sumber air ini masih ada dan debitnya semakin berkurang.

Ajakan Etis-Ekologis
Minimnya debit air menjadi pertanyaan bersama (Pemerintah dan masyarakat), mengapa terjadi? Apa upaya kita untuk bisa menghidupkan kembali sumber-sumber mata air?

Langkah-langkah konkret melindungi sumber-sumber mata air perlu diambil. Sebagai contoh, program penanaman Bambu oleh kelompok penggiat lingkungan hidup, pak Jefri Teping dan simpatisan, beberapa waktu lalu di sumber mata air Wae Ces. Ini merupakan langkah strategis untuk perlindungan sekaligus antisipasi krisis air langsung pada sumbernya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved