Kamis, 16 April 2026

Salib dan Sejarahnya

Di NTT, dewasa ini, salib selain sebagai simbol kekristenan tetapi menjadi kelengkapan bagi para rohaniwan Protestan maupun Katolik

Editor: Benny Dasman
POS KUPANG/DION KOTA
Inilah salah satu Bukit Golgota yang dibangun para pemuda dari Jemaat Kota Baru, Kupang dalam rangka perayaan Paskah 2015. Gambar diabadikan, Rabu (1/4/2015). 

Oleh Pdt. Yuda D Hawu Haba, M.Th
Tamatan SD Negeri Fatumonas 1983, Kecamatan Amfoang Selatan, Kabupaten Kupang

SAAT ini, umat kritiani sedang memperingati Minggu Sengsara Tuhan Yesus (Jalan Salib). Menurut Yesaya 53:4. 5, "Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. . dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh."

Kisah tentang Salib Kristus merupakan topik penting di dalam seluruh Alkitab, khususnya Perjanjian Baru. Seluruh tema-tema penting di dalam Alkitab bermuara kepada peristiwa penyaliban Yesus Kristus. Tidak hanya itu saja, peristiwa penyaliban Yesus Kristus membawa makna yang dalam sekali bagi orang percaya, yaitu penderitaan-Nya telah menyelamatkan orang-orang berdosa dari hukuman Allah. Bahkan tidak berlebihan, bahwa di dalam kekristenan, salib Kristus mendapat tempat yang istimewa.

Latar Belakang Penggunaan Salib
Salib adalah salah satu lambang keagamaan yang kuno, namun cukup dikenal luas oleh masyarakat pada waktu itu. Agama-agama kuno yang dianut oleh masyarakat Asia tengah kuno sudah mengenal salib. Salib bukan saja digunakan sebagai cara menghukum para penjahat, namun lebih dari itu, salib telah digunakan sebagai objek penyembahan dari agama-agama kafir pada waktu itu. Di kemudian hari, kekristenan menggunakan salib ini sebagai simbol penderitaan dan kematian Yesus Kristus. Simbol ini telah menjadi ciri khas di dalam tradisi kekristenan selama ribuan tahun. Tidak heran jika di kemudian hari ada yang berpendapat bahwa kekristenan mengadopsi budaya dan tradisi kafir di dalam kepercayaannya. Di mana mula-mula Salib dipakai?

Persia
Salib mula-mula digunakan oleh bangsa Persia sebagai cara untuk menyatakan penghukuman. Tidak jelas bagaimana bentuk salib yang dikenal oleh bangsa ini, apakah mirip atau bahkan sama sebagaimana yang digunakan oleh masyarakat Mesir, Fenisia dan Kartago? Dalam tulisan Herodutus dan Thucydides, Martin Hengel menuliskan: penyaliban dimulai di antara bangsa Persia sebagai bentuk penghukuman berkaitan dengan penyembahan kepada dewa-dewa tertentu dan penghukuman bagi para penjahat.

Mesir Kuno, Fenisia dan Kartago
Sejarah Mesir Kuno mencatat bahwa salib telah dikenal juga pada waktu itu. Mula-mula masyarakat Mesir kuno mengenal salib di dalam bentuk Tau dan kemudian digabungkan dengan lingkaran di atasnya yang melambangkan adanya suatu kehidupan. Salib di Mesir dikenal dengan nama "Crux Ansata" atau biasa disebut "Key of the Nile."

Menurut penelitian, pada masa itu ada bermacam-macam salib yang tersebar dan diterima oleh masyarakat Mesir kuno. Di dalam penelitian itu, ada dugaan bahwa salib Mesir Kuno menunjuk kepada simbol seksual. Hal ini berkaitan dengan ritual penyembahan terhadap Dewa Matahari. Salib yang merupakan simbol seksual ini kemudian oleh masyarakat Mesir kuno dihubungkan dengan simbol "Kehidupan" dan "Pemberi Hidup" yang menunjuk kepada Dewa Matahari.

Sir J Gardner Wilkinson dalam salah satu karyanya "Manners and Customs of the Ancient Egyptians" menuliskan bahwa pada pemerintahan ini dikenal dengan Amenophis IV dan istrinya, keduanya telah menerima salib (Crux Ansata) dari Dewa Matahari, kemudian mereka menggabungkan matahari dengan salib (Crux Ansata) menjadi suatu simbol aneh yang disembah pada waktu itu. Jadi pada masa sebelum kekristenan eksis, salib bagi masyarakat Mesir kuno dihubungkan dengan simbol "Kehidupan" dan "Pemberi hidup" yang menunjuk kepada penyembahan Dewa Matahari.

Hal yang sama juga berlaku bagi suku bangsa Fenisia dan Kartago. Jauh sebelum kekristenan eksis, masyarakat yang ada di kedua wilayah ini juga telah mengenal salib. Salib di dalam kedua wilayah ini memiliki kesamaan dengan salib yang dikenal oleh masyarakat Mesir kuno. Namun di dalam memahami arti simbol kedua masyarakat ini memiliki perbedaan. Jika di Mesir, masyarakat pada waktu itu mengenal salib dengan simbol lingkaran di atasnya artinya "simbol kehidupan" atau "Pemberi hidup", sedangkan bagi masyarakat Fenisia dan Kartago, salib dengan simbol lingkaran di bawahnya menunjuk kepada "kebaikan" di dalam arti "kebaikan mula-mula." Di kemudian hari, salib dengan lingkaran di bawahnya menunjuk kepada sebuah hati.

Yunani
Penghukuman para penjahat dengan cara disalibkan juga telah dikenal oleh masyarakat Yunani. Salib bukanlah produk murni dari masyarakat Yunani. Ada dugaan bahwa penggunaan salib oleh masyarakat Yunani telah mengadopsi cara penghukuman dari suku bangsa Persia, Mesir, Fenisia atau Kartago yang lebih dahulu menggunakan cara ini untuk menghukum para penjahat. Menurut D.G. Burke, "Penghukuman dalam bentuk salib diadopsi oleh bangsa Yunani, khususnya Alexander Agung. Bagi masyarakat Yunani, penghukuman ini hanya dilakukan untuk para budak, dan bukan kepada masyarakat Yunani (freeborn) yang merupakan penduduk kota". Hal yang sama berlaku bagi masyarakat Romawi.

Masyarakat Yunani mengenal salib ini dengan nama Equal-arms. Bentuk salib ini berbeda dari salib yang digunakan oleh masyarakat Persia, atau Mesir. Salib yang dikenal oleh masyarakat Yunani ini memiliki empat sisi yang sama (equal arms). Keempat sisi yang sama dianggap sebagai 4 elemen dasar, yaitu bumi, udara, air dan api. Melalui simbol ini masyarakat Yunani meyakini bahwa segala sesuatu telah diciptakan. Keempat elemen itu disusun permanen, dan mereka percaya bahwa semua hal dapat berubah, tetapi semuanya itu tidak dapat dihilangkan.

Romawi
Bukti-bukti tentang adanya penyaliban (penggunaan salib sebagai hukuman bagi masyarakat Roma) ditemukan di dalam tulisan-tulisan Cicero dan Quantilian. Cicero menyatakan di dalam tulisannya (Pro Rabiro 5): "Biarlah setiap nama yang ada di atas salib dijauhkan tidak hanya dari tubuh penduduk Romawi, tetapi bahkan dari pikirannya." Quantilian juga di dalam karyanya (Declamationes minores 274): menemukan penyaliban sebagai alat untuk menghindar yang efektif bagi penjahat dan pendurhaka dan juga merupakan sumber kepuasan untuk korban dari suatu perbuatan jahat yang dilakukan seseorang."

Mirip dengan kebiasaan bangsa-bangsa di sekitarnya, penyaliban di dalam masyarakat Romawi berkaitan dengan proses penyembahan kepada dewa-dewa. Hengel mengutip Dionysius of Helicarnassus dalam karyanya Antiquitates Romane 2.10.3, menuliskan bahwa, "Aslinya, ini merupakan cara untuk mempersembahkan para kriminal kepada dewa-dewa yang dari neraka. Sesuai dengan hukum Roma yang lama (old Roman law): "Romulus" penghianat itu mati sebagai "persembahan untuk Zeus dari neraka."

Masyarakat Roma mengenal salib tidak hanya dalam proses penyembahan kepada para dewa, tetapi juga sebagai salah satu cara penghukuman yang paling keji. Pada masa pemerintahan Roma, penghukuman salib hanya ditujukan kepada para penjahat dan golongan budak yang merupakan masyarakat golongan bawah (lowest-class). Hal ini tidak diberlakukan kepada masyarakat golongan atas, yaitu penduduk kota Roma yang memiliki status sebagai orang bebas (freeborn). Di wilayah kekuasaan Romawi, hukuman salib menjadi sangat populer. Sejarah kekristenan mencatat, bahwa Yesus Kristus mati di atas kayu salib di dalam pemerintahan Pontius Pilatus, perwakilan kekaisaran Romawi yang ada di daerah Yudea.

China dan India
Di China, terdapat simbol kuno tentang salib yang diekspresikan di dalam ideogram dari kata-kata dunia yang menunjuk kepada salib dalam persegi empat. Di India, juga terdapat simbol salib yang diyakini oleh masyarakat India, bahwa Khrisna pernah menceritakan tentang dewa-manusia yang disalibkan. Kisah ini dikenal secara umum melalui lukisan di dalam ikonografi keagamaan di India.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved