Monumen Sasando, Ilham yang Luar Biasa
Dan alat musik sasando sebagai kekayaan intelektual tertinggi manusia NTT pantas menggenapi seluruh obyek yang ada
Oleh Yoss Gerard Lema
Komisioner KPID NTT
MENARA miring Pisa di Italia adalah ikon Kota Roma. Ribuan wisatawan dari berbagai penjuru dunia setiap hari membanjiri lokasi tersebut. Saya menjadi salah satu yang berpose di bangunan miring, yang lain nekat menaiki gedung tua yang seakan-akan hendak roboh itu.
Pemandangan serupa saya lihat di menara Eifel yang menjadi ikon kota Paris, Perancis. Ribuan wisatawan menaiki Eifel menggunakan lift untuk mencapai ketinggian dan menyaksikan kota Paris secara utuh. Ikon hebat lainnya adalah Big Ben Clock, menara jam setinggi 96,3 meter yang menjadi ikon kota London.
Lalu Golden Gate Bridge, jembatan gantung berwarna merah sepanjang 2.727 meter dengan tinggi menara 230 meter menjadi ikon kota San Fransisco. Opera House and Harbour Bridge yang dirancang John Utzon asal Denmark menjadi ikon kota Sydney. Kemudian Taj Mahal, Monas, Menara Kembar, dll adalah ikon yang mendunia.
Di pulau Timor Patung Yesus setinggi 27 meter yang berada di puncak Tanjung Fatucama telah menjadi ikon kota Dili. Siapa saja yang berkunjung ke Dili selalu menyempatkan diri bertandang kesana. Berdoa disana, memanjatkan harapan dan impian kepada Yesus Kristus Sang Juru Selamat manusia.
Sasando?
Oleh karena itu, ketika pemenang lomba rancangan Kantor Gubernur NTT diperlihatkan kepada publik, sungguh saya terkesiap. Ternyata lomba tersebut telah melahirkan seorang arsitek besar dari rahim bumi Nusa Tenggara Timur. Perhatikan, ada sekian banyak bangunan bertebaran di sekitar kita, namun tak satu pun yang sungguh-sungguh bertumpu dan berakar pada latar budaya kita. Kalau pun ada, paling-paling menduplikasi bentuk atap sebuah rumah adat dengan sentuhan yang sangat sederhana.
Beda dengan Monumen Sasando yang diabadikan sebagai Kantor Gubernur NTT menyiratkan kepenuhan ilham yang mengalir dari kemurnian permenungan sang arsiteknya. Ini persis seperti ketika Sasando diciptakan dari ilham para leluhur ratusan tahun silam. Kemurnian dan kesempurnaan ilham inilah yang membedakan sasando dengan berbagai alat musik manapun di kolong langit ini.
Sehingga ketika sidang paripurna DPRD NTT pada Desember 2014 silam mengetuk palu menyetujui pembangunan Monumen Sasando dalam rupa Kantor
Gubernur NTT bagi saya adalah tanda bahwa ilham itu terpancar begitu kuat melalui keindahan arsitekturnya. Betapa elok, anggun, cantik dan megah bangunan rancangan putra asli NTT tersebut. Betapa bangganya anak cucu kelak bila diwariskan sebuah karya terhebat yang menjadi mesin penghasil devisa.
Bahwa ada dentingan fals yang menggugat dan mempersoalkan anggaran, itu wajar. Sebab hampir semua ikon hebat yang kini menghasilkan devisa miliaran dolar pada awalnya juga dikritisi soal biaya. Namun, hanya orang besar berpikiran besar yang mampu membangun hal-hal besar demi kemakmuran dan kejayaan bangsanya. Kita berharap saat ini NTT pun sedang dalam genggaman para pemimpin sekelas itu.
Filosofi Pohon Lontar
Lantas makna apa yang tersirat pada bangunan Monumen Sasando? Yoseph Liem, sang arsitek, putra asli SoE-TTS, menyebutnya sebagai harmonisasi. Siapapun yang bekerja di dalam Monumen Sasando harus menyadari peran yang dimainkan. Harus paham akan tugas dan tanggung jawabnya didalam melayani masyarakat. Semua mesti harmoni, sehati sesuara, baru bisa menghadapi badai dan rintangan yang menghadang.
Di titik inilah kebeningan ilham yang mewarnai imajinasi seorang Yoseph Liem sebagai arsitektur menemukan sumbu apinya. Kerja keras, kerja cerdas, kerja jujur dan pantang menyerah menjadi latar harmonisasi dentingan sasando yang seharusnya menggema di setiap tarikan nafas putra-putri Nusa Tenggara Timur. Sebab yang pokok dari sasando, inti dari seluruh nilai yang terpatri didalamnya adalah lontar.
Jiwa dan roh sasando ada pada pohon lontar. Daun lontar, ditekuk melengkung, membentuk haig, di tengahnya dipasang ruas bambu, lalu puluhan senar dan harmonisasi nada itu pun tercipta. Filosofi pohon lontar inilah yang hendak dinyatakan seorang Yoseph Liem dibalik bangunan Monumen Sasando yang istimewa tersebut.
Maka manusia Nusa Tenggara Timur (apapun latar profesinya) harus tegak berdiri, percaya diri, mandiri dan berguna seperti pohon lontar. Hidup di tanah kering kerontang, bahkan di batu, tanpa disiram, dipupuk, disemprot pestisida, dll namun lontar tetap tumbuh dan menghasilkan banyak manfaat bagi manusia. Alat musik sasando hanya satu dari sekian banyak manfaat pohon lontar. Batang dan daun untuk bahan bangunan, sapu, juga anyam-anyaman. Air dari buahnya sebagai bahan baku pembuatan tuak, arak, gula air, gula lempeng dan lain sebagainya.
Pariwisata
Kini alat musik sasando sudah mendunia. Wisatawan yang datang ke Kupang selalu menyempatkan diri menikmati alat musik ini di beberapa hotel ternama. Tidak sedikit yang memboyong sebagai souvenir ke negaranya. Harmpir pasti alat musik ini bertebaran di negara-negara Asean, Jepang, Hongkong, Amerika, Eropa, dll. Bahkan belakangan dalam misi budaya Indonesia ke manca negara selalu menyertakan permainan alat musik sasando.
Karenanya, keutuhan keunggukan NTT sebagai propinsi pariwisata dengan sejumlah obyek wisata kelas dunia seperti binatang purba komodo di pulau komodo, danau tiga warna kelimutu di Ende, penangkapan ikan paus di Lamalera-Lembata, pekan Samana Santa di Larantuka-Flores Timur, budaya megalitik di Pulau Sumba, keindahan bawah laut di Alor mesti digenapi. Dan alat musik sasando sebagai kekayaan intelektual tertinggi manusia NTT pantas menggenapi seluruh obyek yang ada. Pantas pula dilestarikan sebagai monumen untuk pewarisan nilai kepada generasi berlanjut daerah ini.
Pada simpul inilah Monumen Sasando karya cipta seorang Yoseph Liem adalah tanda sejarah. Sejarah apakah alat musik ini akan semakin mendunia, subur berkembang dan dimainkan segenap anak cucu Nusa Tenggara Timur, bahkan hingga ke manca negara? Ataukah justru sebaliknya, seperti Universitas Nusa Cendana Kupang yang mengabadikan nama harum tanaman cendana yang kini terancam punah.
Ini realita, ini tantangan sejarah bagi segenap putra-putri Nusa Tenggara Timur, terutama mereka yang dipercaya rakyat memimpin darerah ini. Kita butuh devisa, kalau pun itu baru terealisasi seratus tahun lagi, ya tak mengapa. Asalkan hari ini kita sudah mempersembahkan yang terbaik bagi nusa, bagi kesejahteraan anak cucu kelak. Yang pasti Monumen Sasando akan mendentingkan nada-nada indah tentang kebesaran dan kehebatan pariwista di Nusa Tenggara Timur tercinta.
Selamat membangun daerah ini. Proficiat buat semuanya...!!!