Ole Ole Ole Ola Copa do Mundo Brasil 2014
Lagu resmi (official theme song) piala dunia saat itu Waka Waka Eh Eh, Tzamina zangalewa, seketika menjadi hit musik di atas lapangan hijau.
Oleh Willem B Berybe
EMPAT tahun lalu saya menulis opini di harian ini dengan judul, "Belajar dari Spirit Waka Waka, Eh, Eh" ( 14 Juli 2010). Sebuah catatan Piala Dunia 2010 Afrika Selatan yang menyejarah bagi benua Afrika umumnya dan khusus Afrika Selatan sebagai negara yang pernah dipimpin oleh seorang tokoh dunia bidang kemanusiaan, Nelson Mandela. Lagu resmi (official theme song) piala dunia saat itu Waka Waka Eh Eh, Tzamina zangalewa, seketika menjadi hit musik di atas lapangan hijau.
Bintang panggung Shakira, artis penyanyi internasional asal Colombia yang energik itu, tampak menyatu dengan para artis lokal berkulit hitam legam dan memburatkan sebuah hentakan harmonisasi musik universal.
Lantas apa pesan lagu itu? `This time for Afrika' inilah waktunya bagi Afrika. Sebuah deklarasi bahwa mereka juga bisa menjadi tuan rumah penyelenggara sepak bola akbar dan tidak kalah dengan negara-negara lain. Lagu Waka Waka Eh Eh .. adalah representasi musik tradisi Afrika yang melambangkan keramahtamahan, kehangatan, kekeluargaan antara negara dan bangsa di muka bumi melalui event ini.
Piala Dunia Afrika Selatan 2010 memperlihatkan keterbukaan masyarakat sejagat bahwa tidak ada sekat-sekat rasisme, kaya-miskin, perbedaan agama, ideologi, warna kulit, dan sebagainya yang sering memberondong negara-negara Afrika. Dan, Tsamine eh eh, Waka waka eh eh .. pun tercatat dalam daftar deretan lagu-lagu resmi piala dunia dengan karakter African hit.
Ole ola
Lain Afrika lain Brasil. Lagu resmi Piala Dunia Basil 2014 We are one (Ole ola) oleh Pitbull yang didukung dua artis beken Jennifer Lopez dan Claudia Leitte menggelindingkan tema besar `Kita adalah satu' (We are one, Ole Ola).
Semua peserta Piala Dunia termasuk penonton di stadion-stadion megah dan seluruh pemirsa televisi seantero jagat lebur menjadi satu dalam humanitas rasa gembira, basodara, rasa kecewa-marah-kesal atas terkaparnya raksasa Spanyol pemegang hegemoni sepak bola dunia beberapa tahun terakhir dan mau tidak mau harus dengan lapang dada angkat koper lebih awal, rasa bangga (suka cita) karena menang seperti dialami Jerman ketika menekuk Portugal dengan skor telak 4-0, rasa ambisius dan optimisme tuan rumah (Brasil) untuk merengkuh piala dunia kebanggaan kali ini, aksi menentang penyelenggaraan Piala Dunia oleh para demonstran Brasil karena hajatan ini dianggap menghambur-hamburkan uang, menikmati musik, tempat-tempat wisata, kehidupan masyarakat Brasil, dan tentu saja yang paling difavoritkan ialah keindahan dan seni menggocek si kulit bundar di lapangan hijau sebagai hidangan yang sedap dan enak dipandang. Semua ini adalah realitas kehidupan yang tersaji dalam One love, one life, one world (lirik bait ketiga).
Ada yang menarik ketika lagu `We are one' ini diluncurkan. Banyak komentar-komentar yang bernada sumbang muncul lewat Youtube Piala Dunia 2014. antara lain `I don't like this song, no hate to Pitbull or JLO (Jennifer Lopez) but this song doesn't really talk about soccer or world culture bringing every nation together that what FIFA world cup is all about and many Brazilians are mad due to them not showing there true culture of Brazil, demikian diungkapkan Vivianaloveable tentang kekecewaannya seakan lagu ini tidak menampakkan kultur orang Brasil.
Menurut Adeel Lodhi lagu ini miskin ide `a rubbish song' dan lagu ini jelek `this song is too bad! kata Eva Carolina De Henderson, `I don't think this song gives us the real world cup moment' komentar Timen Crusher tentang ekspektasinya terhadap sebuah pentas piala dunia. Semua ini menunjukkan ada relevansi yang kuat antara musik dan lagu piala dunia dengan peristiwa sepak bola itu sendiri, apa pesan yang terkandung di dalamnya dengan realitas kehidupan (kultur) masyarakat Brasil. Artinya, bayangkan jika event bertaraf internasional seperti ini tanpa kehadiran sebuah tontonan musik dan lagu identitas pagelaran `bola sepak' tersebut yang menarik.
Tidak ada pertandingan sepak bola di muka bumi tanpa gemuruhnya instrument musik (di Afrika terkenal dengan vuvuzela), terompet, tambur, genderang, tepuk tangan, pekik sorak dalam sebuah polifon raksasa di stadion. Sense of music (rasa musik) dan pertarungan fisik sepak bola memiliki dua unsur yang saling berkemistri, melekat kuat dalam dinamika kehidupan manusia. Ada pemahaman jika event piala dunia diselenggarakan di sebuah (dua) negara maka budaya setempat hendaknya tampak lewat musik, budaya, gerak, bahasa yang menjadi kekhasan tuan rumah. Inilah cerita sebuah Piala Dunia abad ini.
Namun demikian, di antara komentar-komentar `miring' tadi ada juga yang memuji-muji lagu `We are one` sebagaimana diungkapkan oleh Jack1994hoo ` the song sounds good hanya saja menurut dia tidak cocok dibawakan oleh Pitbull dan menurut Jason Levy `Pitbull and Jennifer Lopez honestly go really well together. ...give two thumbs up for `We are one'. Di sini Levy memberikan acungan dua jempol untuk lagu `We are one'.
Salam Dua Jari
Antara musik dan peristiwa selalu terajut dalam satu kemasan agar peristiwa tersebut bermakna harmoni bahkan saling mengisi sehingga pada akhirnya membuahkan hasil. Demikian halnya dengan gebiyar kampanye pilpres kali ini dimana dua pasangan capres-cawapres sama-sama didukung oleh komunitas musisi Inonesia.
Capres Prabowo didukung oleh pemusik Ahmad Dhani dengan lagu resmi `Sudah saatnya kita bangkit' (baris pertama). Musik yang dominan dengan karakter vokal dan gaya serak-serak Ahmad Dhani sangat menonjol. Syair lagu ini memang tidak beda jauh dari visi misi capresnya, pemerintahan yang tegas, kuat, bersih.
Berbeda dengan lagu resmi capres Jokowi-JK `Salam dua jari' hasil karya grup musik Slank & Friends (Komunitas Revolusi Harmoni, termasuk vokalis Ivan Nestorman, artis musik nasional asal Kabupaten Manggarai, NTT) adalah sosok sebuah lagu sederhana, merakyat, jenaka, mengajak untuk bergoyang-goyang (gembira), sebagaimana terlihat di Youtube.
Salah satu instrumen musik `ukulele' yang digunakan oleh Slank adalah simbol musik rakyat Ambon (Maluku), pertama kali alat ini masuk ke Indonesia (berasal dari Hawai), lalu ke Makasar, terus ke Jawa seiring dengan merebaknya musik keroncong di tanah air dan alat musik ukulele. ini menjadi kekhasannya. Di NTT lebih dikenal dengan sebutan `juk' dan laris di masyarakat lokal.
Baik musik, lagu, olah raga, bahkan politik sekali pun dapat menjadi sebuah karya yang indah ketika terlebur menjadi satu produk yang harmoni dan bermakna. Wilfred Owen, penyair masa perang Dunia I mengutip sebagian kata-kata Horatius `Dulce et decorum est', indah dan pas. * (Peminat Musik)