Yusuf Meninggal
YUSUF, tukang mimpi itu meninggal dunia. Selama hidupnya yang berjumlah 110 tahun ia bermimpi sebanyak dua kali. Isi dari kedua mimpi itu sangat aneh dan sepertinya sulit menjadi kenyataan.
Bukankah Yusuf adalah pejabat tinggi di Mesir sehingga ia bebas melakukan itu?
Semua orang akan menganggap normal apabila Yusuf menumpuk kekayaan bagi diri sendiri selama menjabat sebagai perdana mentri atau mentri urusan pangan selama di Mesir selama kurang lebih 14 tahun.
Tetapi Yusuf tidak melakukan itu. Ia membagi-bagikan makanan kepada setiap warga negara Mesir yang kehabisan pangan. Ia juga menanggung hidup saudara-saudaranya yang datang ke Mesir sebanyak 70 jiwa (Kej. 46:27, Kel. 1:5) selama lebih dari 50 tahun (Kej. 50:20-21).
Kita jarang menemukan pejabat tinggi negeri kita yang bertindak menurut teladan Yusuf ini. Model managemen yang diterapkan pejabat tinggi negeri kita adalah memperkaya diri sendiri sambil membiarkan rakyat terus hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan.
Mereka membuat perda atau undang-undang dengan maksud melindungi niat memperkaya diri sambil memeras dan mempermiskin sesama anak bangsa yang disebut rakyat. Betapa memalukan sikap hidup para pejabat seperti ini.
Di Kupang ada istilah kanik (kepiting) dalam menggambarkan managemen pelayanan para pejabat tinggi kepada orang miskin.
Selain pejabat dan petinggi negeri, banyak juga keluarga-keluarga yang kehilangan orientasi iman dan lupa pada janji-janji Allah pada saat mereka menjalani hidup, membangun rumah tangga dan membentuk keluarga selama masa-masa hidup yang diberikan Tuhan. Ruang lingkup pikiran mereka hanyalah terbatas pada sukses di bidang karir dan mapan secara ekonomi. Apakah nanti akan ada bagian di dalam janji yang disediakan Allah, itu urusan belakangan.
Yusuf tidak bertindak demikian. Ia membangun hidup, membentuk rumag tangga dan mengembangkan karir di Mesir, tetapi Ia tetap ingat dan percaya pada janji Allah dan ingin memiliki bagian dalam janji itu. Sebagai ayah ia mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai kebaikan. Itu terlihat saat ia membawa kedua anaknya: Manasye dan Efraim kepada Yakub untuk menerima berkat penumpangan tangan (Kej. 48). Sebagai orang bersaudara, Yusuf yang mampu secara ekonomi dan memiliki akses yang besar terhadap penggambilan keputusan melindungi saudara-saudara sebangsanya, baik orang Mesir maupu non Mesir.
Dan sebagai seorang pejabat publik, Yusuf menampilkan managemen pelayanan yang berbelas kasihan sekaligus peduli kepada rakyat dan saudara-saudaranya yang membutuhkan pertolongan karena ia percaya bahwa hanya dengan jalan itu, ia akan memperoleh bagian di tanah perjanjian, ketika Allah membawa saudara-saudaranya kembali dari Mesir ke Kanaan.
Bagi Yusuf, Mesir adalah negeri tempat berkarya tetapi itu bukanlah rumah bapa. Selama hidupnya di Mesir, ia tidak lupa mendisiplinkan diri dengan nilai-nilai dan ketentuan-ketentuan yang perlu agar bagiannya di rumah bapa tidak diberikan kepada orang lain. Dengan melakukan nilai-nilai ini, Yusuf makin dikasihi dan dicintai oleh saudara-saudaranya dan juga anak cucu dan saudara-saudaranya, bukan hanya pada saat ia masih hidup. Ketika ia mati, mayatnya dirempah-rempahi, suatu tanda betapa dia dihormat. Dan pada saat orang Israel bertolak dari Mesir, tulang-tulang Yusuf pun dibawa serta (Kel. 13:19).
Pola hidup Yusuf benar-benar sebuah teladan yang patut ditiru, bukan hanya oleh para ayah dan keluarga, tetapi juga oleh para pejabat dan petinggi negeri. *