Yusuf Meninggal
YUSUF, tukang mimpi itu meninggal dunia. Selama hidupnya yang berjumlah 110 tahun ia bermimpi sebanyak dua kali. Isi dari kedua mimpi itu sangat aneh dan sepertinya sulit menjadi kenyataan.
Oleh Pdt. Dr. Ebenhaizer Nuban Timo
(Rohaniawan, Tinggal di Kupang)
YUSUF, tukang mimpi itu meninggal dunia. Selama hidupnya yang berjumlah 110 tahun ia bermimpi sebanyak dua kali. Isi dari kedua mimpi itu sangat aneh dan sepertinya sulit menjadi kenyataan.
Tetapi kedua mimpinya itu menjadi nyata. Selain itu, dalam masa hidupnya, dia diperha-dapkan dengan empat buah mimpi lain, dua buah mimpi dari pembesar istana Mesir dan dua buah mimpi lainnya dari raja Firaun sendiri. Yusuf mencoba meng-artikan isi atau maksud dari keempat mimpi yang aneh itu. Penjelasan Yusuf tentang arti dari empat mimpi tadi ternyata benar.
Yusuf, si tukang mimpi sekaligus juru tafsir mimpi yang sangat piawai meninggal dunia. Pada detik-detik terakhir dari hidupnya, Yusuf masih bermimpi. Kali ini, ia tidak hanya bermimpi tentang keselamatan dirinya. Ia bermimpi tentang masa depan bangsa pilihan Allah. Kali ini tentu bukan mimpi sebagaimana dua mimpinya ketika masih muda. Mimpi Yusuf pada saat-saat sebelum menghembuskan nafas terakhir lebih tepat disebut sebagai sebuah pernyataan iman atau percaya.
Ibrani 11:1 mendefinisikan iman sebagai dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Dalam Ibrani 11:22, pernyataan Yusuf dari Kejadian 50:22-26 dikategorikan sebagai iman. Di situ ditulis begini: “Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang-tulangnya.”
Ya, pada detik-detik terakhir dari masa hidupnya, Yusuf mengungkapkan iman-nya. Ia berkata kepada saudara-saudara-nya: “Tidak lama lagi aku akan mati; tentulah Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikanNya, dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub. pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini.”
Yusuf, tukang mimpi sekaligus juru tafsir mimpi yang terkenal itu mati. Ia mati di Mesir. Mati di negeri asing, di tanah perantauan melipatgandakan pedihan, bukan hanya bagi si mati, tetapi juga bagi keluarga yang ditinggalkan. Betapa pedih dan sesak hati orang-orang meninggal di tanah asing. Yusuf meninggal di tanah perantauan. Bukan hanya itu. Nama negeri perantauan itu adalah Mesir.
Orang Israel mengenang Mesir sebagai rumah perbudakan (Kel. 20:1). Ingatan kolektif mereka terhadap negeri itu sangatlah buruk. Itu terungkap dalam nama yang mereka berikan kepada Mesir, yakni mitsraim yang secara harafiah berarti penuh dengan keburukan, penderitaan dan malapetaka.
Yusuf meninggal dunia di Mesir, negeri penderitaan. Waktu Asnat, istri Yusuf melahirkan baginya anak yang kedua, Yusuf memberi nama anak itu: Efraim, yang artinya: “Allah membuat aku mendapat anak dalam negeri kesengsaraanku” (Kej. 41:52). Pada waktu anaknya yang pertama lahir, Yusuf menamakan anak itu Manasye, yang artinya: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesengsaraanku dan kepada rumah bapaku” (Kej. 41:51).
Melupakan kesengsaraan dan kepedihan hidup pada masa lalu adalah sesuatu yang mungkin. Tetapi melupakan rumah bapa, tempat kita lahir dan dibesarkan dalam kasih yang hangat. Apakah itu mungkin? Saya tidak percaya kalau Yusuf melupakan rumah bapanya. Benarkah Yusuf seratus persen melupakan rumah bapanya dengan lahirnya kedua anaknya di Mesir dan setelah memperoleh kedudukan yang tinggi di negeri itu?
Mesir bagi Yusuf tetaplah negeri kesengsaraan, betapapun di sana ia membangun keluarga, meraih sukses dan memperoleh anak-anak. Mesir adalah rumah bagi Yusuf. Ia sukses besar di Mesir, tetapi Mesir bukanlah negeri impian Yusuf. Di saat-saat terakhir dari hidupnya, Yusuf menceritakan mimpinya tentang negeri impian kepada saudara-saudaranya. Negeri impian itu adalah Kanaan. Yusuf berkata:
“Tentulah Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini, ke negeri yang telah dijanjikanNya, dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub. pada waktu itu kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini.”
Mesir adalah tempat Yusuf membangun karir, rumah tangga dan keluarga, tetapi itu bukan terminal terakhir. Ia ingin agar rumah tangga dan keluarga masuk ke negeri impian, yakni Kanaan negeri yang telah dijanjikan Allah dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub.
Yusuf membangun hidup di Mesir, tetapi kemewahan hidup di Mesir, sukses yang ia raih baik secara ekonomi dan politik, popularitas yang berhasil ia peroleh di negeri itu, tidak membuat Yusuf lupa akan negeri perjanjian yang Allah sumpahkan untuk diberikan kepada anak cucu Israel. Yusuf tidak terbuai dengan pangkat dan jabatan yang ia miliki sehingga melupakan janji Tuhan. Sambil meniti karir dan membangun kehidupan rumah tangga di Mesir, Yusuf tetap mempersiapkan diri untuk ikut memasuk ke negeri yang disediakan Allah.
Yusuf tidak hanya melakukan hal itu dalam kata-kata dan secara verbal. Yusuf tunjukkan kerinduannya untuk memperoleh bagian di negeri perjanjian dalam perilaku hidupnya, pola pemerintahannya dan juga relasi-relasi sosial yang ia bangun. Adalah mudah bagi Yusuf untuk melakukan pembalasan dendam kepada saudara-saudaranya yang mereka-reka baginya hal yang buruk pada masa lalu.
Bukankah Yusuf adalah pejabat tinggi di Mesir sehingga ia bebas melakukan itu?
Semua orang akan menganggap normal apabila Yusuf menumpuk kekayaan bagi diri sendiri selama menjabat sebagai perdana mentri atau mentri urusan pangan selama di Mesir selama kurang lebih 14 tahun.
Tetapi Yusuf tidak melakukan itu. Ia membagi-bagikan makanan kepada setiap warga negara Mesir yang kehabisan pangan. Ia juga menanggung hidup saudara-saudaranya yang datang ke Mesir sebanyak 70 jiwa (Kej. 46:27, Kel. 1:5) selama lebih dari 50 tahun (Kej. 50:20-21).
Kita jarang menemukan pejabat tinggi negeri kita yang bertindak menurut teladan Yusuf ini. Model managemen yang diterapkan pejabat tinggi negeri kita adalah memperkaya diri sendiri sambil membiarkan rakyat terus hidup dalam kemiskinan dan kemelaratan.
Mereka membuat perda atau undang-undang dengan maksud melindungi niat memperkaya diri sambil memeras dan mempermiskin sesama anak bangsa yang disebut rakyat. Betapa memalukan sikap hidup para pejabat seperti ini.
Di Kupang ada istilah kanik (kepiting) dalam menggambarkan managemen pelayanan para pejabat tinggi kepada orang miskin.
Selain pejabat dan petinggi negeri, banyak juga keluarga-keluarga yang kehilangan orientasi iman dan lupa pada janji-janji Allah pada saat mereka menjalani hidup, membangun rumah tangga dan membentuk keluarga selama masa-masa hidup yang diberikan Tuhan. Ruang lingkup pikiran mereka hanyalah terbatas pada sukses di bidang karir dan mapan secara ekonomi. Apakah nanti akan ada bagian di dalam janji yang disediakan Allah, itu urusan belakangan.
Yusuf tidak bertindak demikian. Ia membangun hidup, membentuk rumag tangga dan mengembangkan karir di Mesir, tetapi Ia tetap ingat dan percaya pada janji Allah dan ingin memiliki bagian dalam janji itu. Sebagai ayah ia mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai kebaikan. Itu terlihat saat ia membawa kedua anaknya: Manasye dan Efraim kepada Yakub untuk menerima berkat penumpangan tangan (Kej. 48). Sebagai orang bersaudara, Yusuf yang mampu secara ekonomi dan memiliki akses yang besar terhadap penggambilan keputusan melindungi saudara-saudara sebangsanya, baik orang Mesir maupu non Mesir.
Dan sebagai seorang pejabat publik, Yusuf menampilkan managemen pelayanan yang berbelas kasihan sekaligus peduli kepada rakyat dan saudara-saudaranya yang membutuhkan pertolongan karena ia percaya bahwa hanya dengan jalan itu, ia akan memperoleh bagian di tanah perjanjian, ketika Allah membawa saudara-saudaranya kembali dari Mesir ke Kanaan.
Bagi Yusuf, Mesir adalah negeri tempat berkarya tetapi itu bukanlah rumah bapa. Selama hidupnya di Mesir, ia tidak lupa mendisiplinkan diri dengan nilai-nilai dan ketentuan-ketentuan yang perlu agar bagiannya di rumah bapa tidak diberikan kepada orang lain. Dengan melakukan nilai-nilai ini, Yusuf makin dikasihi dan dicintai oleh saudara-saudaranya dan juga anak cucu dan saudara-saudaranya, bukan hanya pada saat ia masih hidup. Ketika ia mati, mayatnya dirempah-rempahi, suatu tanda betapa dia dihormat. Dan pada saat orang Israel bertolak dari Mesir, tulang-tulang Yusuf pun dibawa serta (Kel. 13:19).
Pola hidup Yusuf benar-benar sebuah teladan yang patut ditiru, bukan hanya oleh para ayah dan keluarga, tetapi juga oleh para pejabat dan petinggi negeri. *