Oleh Charles Beraf
Mengapa Tolak Tambang?
KONTROVERSI seputar tambang di NTT bisa dibaca dalam konteks yang lebih luas. Dengan satu 'imajinasi sosiologis', saya boleh menilai bahwa tambang merupakan bias dari arus besar bernama globalisasi. Terhadapnya (globalisasi) orang bisa serta merta menolak, tetapi bisa juga serta merta menerima atau pun menerima dengan sikap yang (sedikit) akomodatif.
Dalam banyak kasus kita mudah untuk berteriak 'menolak' pelbagai arus dari luar, tapi gagal membangun lokalitas kita. Dengan begitu, teriakan kita seolah-olah hanya dari 'belakang meja', menjadi sloganistis, tidak argumentatif dan tanpa dasar. Ya, kalau lokalitas belum tampak kuat di NTT, mengapa kita harus tolak tambang? *
Pendiri Komunitas Baca dan Sastra Lamalera, staf pengajar pada Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Uniflor Ende