TOPIK

Oleh Charles Beraf

  • Mengapa Tolak Tambang?

    KONTROVERSI seputar tambang di NTT bisa dibaca dalam konteks yang lebih luas. Dengan satu 'imajinasi sosiologis', saya boleh menilai bahwa tambang merupakan bias dari arus besar bernama globalisasi. Terhadapnya (globalisasi) orang bisa serta merta menolak, tetapi bisa juga serta merta menerima atau pun menerima dengan sikap yang (sedikit) akomodatif.

  • Demokrasi Tambang

    TENTANG tambang, pada 18 Juni 2007 lalu, saya pernah menulis di harian ini artikel berjudul "Jangan Bertindak Bodoh", yang ditanggapi sekitar 20-an penanggap (penulis). Di antara para penanggap, hanya ada dua yang cukup bijaksana seperti Abraham Runga Mali (Pos Kupang, 1 September 2009) yang menjelaskan duduk persoalan tambang, yakni Yustino Kapitan (Pos Kupang, 26 Juni 2007) dan Bruno Ulanaga Dasion, SVD (Pos Kupang, 23 Juli 2007).

  • Dialog Tentang Monolog

    JUDUL tulisan ini diambil dari judul kata pengantar yang ditulis Ignas Kleden atas buku kumpulan teks monolog yang pernah dibawakan Butet Kertaredjasa, Matinya Toekang Kritik (Penerbit Lamalera, Yogya, 2006). Pada acara Deklarasi Pemilu Damai, Rabu (10/6/2009) malam, demi memenuhi permintaan pasangan Megawati- Prabowo, Butet Kertaredjasa membawakan monolog yang berisi kritik terhadap pelbagai ketimpangan yang terjadi di Indonesia.

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved