Oleh Fary Djemy Francis
Mohon Maaf
HARI ini saya bangun agak siang. Jam pada layar telepon genggam di tangan saya menunjuk angka 06:45, tanggal 28 September 2010. Padahal kemarin dan hari-hari sebelumnya saya biasanya sudah bangun jam empat atau jam lima pagi, kemudian membaca bahan presentasi, laporan, maupun rencana kerja pemerintah dan membuat catatan untuk dibahas dalam sidang komisi, badan, fraksi, atau panitia kerja hari itu.
HARI ini saya bangun agak siang. Jam pada layar telepon genggam di tangan saya menunjuk angka 06:45, tanggal 28 September 2010. Padahal kemarin dan hari-hari sebelumnya saya biasanya sudah bangun jam empat atau jam lima pagi, kemudian membaca bahan presentasi, laporan, maupun rencana kerja pemerintah dan membuat catatan untuk dibahas dalam sidang komisi, badan, fraksi, atau panitia kerja hari itu. Sebelum sampai di ruang sidang, saya biasa mendiskusikannya lebih dulu dengan advisor sekaligus sahabat saya Pak Yan Ghewa di meja makan sambil sarapan, dan berlanjut di dalam mobil selama perjalanan menuju ruang sidang.
Saya terhenyak melihat tanggal itu, karena ternyata tiga hari lagi, genap setahun saya menjadi anggota DPR RI yang dalam acara-acara resmi sering disapa dengan 'yang terhormat' meskipun sebenarnya saya sendiri agak risih mendengar sapaan itu. Terlebih pada saat-saat awal. Namun lama kelamaan jadi biasa saja. Tadi malam pun saya masih mendengarnya dalam acara pertemuan dengan gubernur dan bupati/walikota se-NTT dan anggota DPR/DPD RI Dapil NTT.
Semalam semua anggota DPR berbicara, sementara saya sendiri memilih diam karena topik anggaran sepertinya jadi primadona malam itu. Seakan-akan peran, fungsi dan tanggung jawab anggota DPR RI itu hanya membahas anggaran. Sejujurnya saya ingin sekali menyinggung tugas dan fungsi lain dari seorang anggota DPR, yaitu soal pengawasan dan legislasi dalam kontribusinya terhadap peningkatan dan daya serap anggaran di NTT, yang kita tahu bersama masih belum menunjukkan tren membaik dari tahun ke tahun.
Mengenai hal ini, Pos Kupang pada bulan Februari 2008 melaporkan dana pembangunan yang bersumber dari APBN hanya bisa diserap 65,63 persen selama Januari-November 2007, dan yang bersumber dari APBD, khusus pos belanja langsung tingkat penyerapannya hanya mencapai 53,26 persen. Di tingkat kabupaten/kota bahkan lebih seret lagi. Dalam periode yang sama pada tahun 2007, secara umum, khusus pos belanja langsung, dari total alokasi dana Rp 3,26 triliun lebih, penyerapannya Rp 1,4 triliun lebih atau 44,29 persen dan pelaksanaan fisik 56,68 persen, meskipun acuannya adalah tujuh kabupaten yang memberi laporan November dan sembilan kabupaten memasukkan laporan per Oktober tahun 2007.
Namun, saya putuskan untuk tetap menahan diri sambil menunggu saat yang tampan untuk mengungkapkan dan membahasnya secara sungguh-sungguh karena atmosfir pertemuan malam itu, seperti saya katakan tadi, praktis dipenuhi oleh aroma anggaran. Padahal, hemat saya, peran pengawasan dan legislasi tidak kurang strategisnya dibandingkan dengan budgeting, apalagi bila dikaitkan dengan seretnya tingkat penyerapan seperti yang saya ungkapkan di atas, dan gencarnya perjuangan untuk menggolkan RUU Provinsi kepulauan yang akan berdampak besar terhadap pembangunan NTT.
Setelah acara itu, saya menuju Puncak, Bogor karena ada agenda berkaitan dengan pembahasan asumsi APBN 2011. Dalam perangkap kemacetan sepanjang jalan tol Cibubur-Ciawi saya kembali merenungi acara tadi dan bertanya, bukankah ketiga peran DPR itu setara dan sama pentingnya? Mengapa banyak orang lebih terpikat membicarakan peningkatan besaran anggaran dan terkesan kurang peduli pada manajemen anggaran dan dampak anggaran itu pada rakyat NTT? Dari sini saya mulai memahami mengapa kinerja pelaksanaan anggaran belum sesuai dengan harapan. Dan sebagai anggota DPR saya berniat mulai lebih sensitif memperhatikan hal itu dengan melaksanakan fungsi ke-dewanan dalam satu paket utuh secara lebih paripurna, agar tidak terkesan terlepas-lepas. Sejumlah teman tadi malam mengirim SMS menanyakan kenapa saya diam saja? Saya menjawab singkat, mohon maaf, pada pertemuan berikut kita mesti berani jujur terhadap diri kita masing-masing, dan terutama terhadap rakyat yang menjadi alasan kita untuk berada pada posisi kita masing-masing saat sini.
Benar itu. Memang telah menjadi niat saya sejak memutuskan untuk dicalonkan menjadi anggota DPR. Apalagi setelah dilantik 1 Oktober 2009 niat itu akhirnya bulat sudah. Saya mulai dengan berusaha untuk selalu konsisten. Dalam hal memanfaatkan waktu, misalnya, saya selalu berusaha untuk tiba lebih awal dan tinggalkan kantor lebih larut. Selama berada di kantor, saya mengikuti semua sidang dan kegiatan DPR yang diagendakan tiap hari, dan syukurlah, saat berbagai surat kabar dan media massa lainnya mengumumkan para anggota yang sering bolos saat paripurna, nama saya tidak tercantum di dalamnya.
Demikian pula, dalam kunjungan kerja saya berusaha membuat catatan atas semua yang saya temui, termasuk hal-hal yang oleh teman sejawat saya dianggap sepele. Misalnya saya pernah mengambil contoh batu dari sebuah landasan lapangan terbang perintis di Kabupaten Maluku Tenggara, kemudian memasukkannya dalam tas keresek dan saat sidang komisi saya menunjukkan bahwa kondisi landasan dengan struktur seperti itu sangat berbahaya bagi keselamatan penerbangan. Dalam sesi dialog, saya merasa lebih bersemangat mengobrol langsung bersama para petani, nelayan, pengemudi speed boat, ojek, sopir angkutan kota, maupun pemilik rumah sederhana. Dalam sesi seperti itulah saya menemukan dan memahami hubungan timbal balik antara konsep dan konteks pembangunan. Kemudian banyak yang bilang, apa yang saya lakukan sudah tepat, tetapi ada juga selentingan saya kurang beradaptasi pada aturan protokoler, terutama ketika saya berterus terang pada mereka untuk tidak dikekang oleh aturan protokol, makanya saya mohon maaf.
Ketika saya masih menjadi fasilitator masyarakat, banyak kali saya menemui kesulitan untuk bertemu dengan para pejabat. Saat ini setelah saya menjadi pejabat, banyak orang juga kepingin bertemu, meskipun kadang hanya sekadar bersalaman dan curhat. Karena itu, hal pertama yang saya nasihatkan kepada asisten saya adalah menyapa setiap telepon, membalas setiap SMS, mencari waktu yang pas, dan menyambut setiap tamu dengan ramah. Saya beruntung mendapatkan seorang asisten seperti Ibu Susan Marey, yang dapat menterjemahkan harapan saya secara sempurna. Misalnya ketika ada tamu yang kebingungan dan tersesat di tengah hiruk pikuk dan ketatnya pengamanan Senayan, dia akan dengan sigap berlari menjemputnya dan mendampinginya sampai tiba di ruangan saya dengan sukacita.
Tak ada kategori tamu di kantor saya, orang kampung atau kota, rakyat jelata maupun pejabat semua adalah tamu VIP saya. Pernah sekali, pada bulan Agustus 2010, saya mendapat pesan singkat dari Kepala Bappeda NTT ingin bertemu untuk menyerahkan sejumlah dokumen terkait pembangunan infrastruktur. Saya pun bergegas meninggalkan kantor malam-malam, menemui beliau di Kantor Penghubung NTT di daerah Tebet, dan menerima dokumen tersebut dari tangannya. Terhadap apa yang saya lakukan, seorang teman di DPR RI kemudian nyeletuk "E... Anda ini anggota DPR RI lo..." Ya, ya! Saya lupa bahwa saya sudah menjadi anggota DPR. Dalam hal pertemuan pun, banyak yang saya jamu di kantor, kadang-kadang bahkan saya ajak menginap di rumah, dan sering pula di warung pinggir jalan saya lupa kalau saya sudah menjadi pejabat negara yang diatur secara protokoler. Tetapi di situlah kebahagiaan saya, mengalami kebersamaan dengan mereka dalam suasana yang serba biasa, dan pada saat bersamaan mengingatkan saya akan ramahnya bapak, ibu, saudara dan sahabat di kampung-kampung yang pernah saya singgahi. Terhadap pelayanan macam itu, ada banyak yang kemudian mengatakan, mereka sangat puas, tetapi saya kira, ada pula yang mungkin kecewa. Karena itu saya mohon maaf.
Penyakit rindu pada kampung dan desa memang sulit terobati di Senayan, karena itu saya sering tidak sabaran menanti saat reses - bukan karena saya akan dapat SPPD. Bukan itu. Bercengkrama, mengobrol, tukar pikiran, makan, mandi dan tidur di kampung, itulah yang sering saya tunggu-tunggu. Rupanya karena separuh lebih perjalanan karir saya ada di tengah dan bersama-sama mereka di kampung-kampung, jadi seorang fasilitator, sebuah peran yang amat sangat saya cintai, tetapi harus saya tinggalkan sementara karena saya bertekad untuk fokus ke peran, fungsi, dan tanggung jawab baru ini. Sejak masuk Senayan, hanya satu kali saya menjadi fasilitator di sebuah pelatihan. Namun, dari kampung-kampung saya mendapat cerita bahwa banyak yang gembira karena bisa bersama mereka selama reses.
Seminggu yang lalu, ketika membahas sumber pembiayaan APBN 2011, advisor saya bertanya apakah dengan mengandalkan PHLN (pinjaman dan hibah luar negeri) untuk menutupi defisit, bangsa kita tidak terjebak dalam kendali pihak luar? Saya jadi teringat tulisan saya di Pos Kupang, dua tahun lalu, yang mengulas isu yang sama dari perspektif cathaconic error. Namun bukan itu yang saya pikirkan. Saya justru merasa kehilangan sebagian dari diri saya yang suka menulis di media, berdiskusi di milis Forum Academia NTT (FAN), membimbing anak-anak di INCREASE, dan bersendagurau dengan aktivis LSM dan sahabat lainnya. Semuanya karena saya ingin fokus. Terhadap itu semua, sebagian teman saya mengatakan, apa yang saya lakukan sudah tepat, namun selebihnya menyarankan agar dijaga keseimbangannya supaya tidak terkesan lupa teman. Karena itu sekali lagi saya mohon maaf.
Untuk merespon saran teman-teman, di tengah ribut-ribut soal dana untuk rumah aspirasi, saya membuka Rumah Rakyat Indonesia Raya (R2IR) dengan kocek sendiri agar siapa pun, termasuk teman-teman di mana pun berada bisa curhat setiap saat. Caranya sangat sederhana, yakni kirim SMS ke 081 339 888 555; fax ke 0215755668 dan kirim komentar ke facebook: Kabar Fary Francis, ke Website: http://www.faryfrancis.com dan Kota Pos NTT 555.
Demikianlah usaha saya untuk melengkapi pemahaman tentang seluk beluk DPR RI, dan hubungannya dengan rakyat yang diwakilinya. Namun saya merasa selalu ada yang kurang. Ada peluang belajar lain bagi anggota DPR RI dengan melakukan studi banding di luar negeri, namun saya lebih memilih untuk ke daerah. Ada lima kali saya mendapat peluang itu, namun saya hanya menggunakannya 1 kali, yakni ke Austria dari tanggal 28 Juli-3 Agustus 2010. Itu pun karena saya pandang dapat memperluas wawasan dan kapasitas saya dalam rangka pembahasan RUU Perumahan dan Permukiman yang lebih berpihak pada masyarakat berpenghasilan rendah dan kepemilikan rumah bagi WNA. Di sana saya belajar tentang Leo Haus atau Rumah Leo untuk masyarakat kalangan tidak mampu. Bapak/ibu/saudara dan sahabat dapat membaca ulasannya di website saya http://www.faryfrancis.com. Karena kunjungan luar negeri tersebut saya harus meninggalkan 3 rapat paripurna, dan 2 rapat Badan Anggaran. Saya sungguh sangat menyesalinya, karena itu untuk ke sekian kalinya. Saya mohon maaf.
Komitmen saya untuk selalu ke daerah, seperti saya singgung di atas, sesunggunya didorong oleh cita-cita saya selaku wakil rakyat untuk terlibat langsung dalam upaya memecahkan berbagai isu kronis seperti rawan pangan, gizi buruk, rumah layak huni maupun urusan transportasi di NTT. Saya sangat yakin, NTT tidak semiskin dan terbelakang seperti yang disebarluaskan selama ini. Saya hanya perlu terus menerus mencari dan memenukan strategi yang tepat agar Laut Sawu menjadi lebih ramai, air hujan semakin mudah dipanen, dan demokrasi dikembalikan kepada rakyat yang adalah empunya kekuasaan. Tuntutan saya dan teman-teman di Komisi V DPR RI agar pemerintah serius memecahkan persoalan pencemaran Laut Timor, permintaan untuk membuka rute pelayaran KM Awu ke Kabupaten Sabu Raijua, perjuangan untuk meningkatkan anggaran pembangunan transportasi laut maupun udara di Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata dan sekitarnya adalah bagian dari strategi meramaikan Laut Sawu tersebut.
Hari ini akan segera berakhir, namun dalam sebuah permenungan yang spontan itu, saya dapati bahwa selama satu tahun saya benar-benar telah mencari, menemukan, menghayati, dan belajar mengamalkan fungsi saya sebagai wakil rakyat. Akan tetapi semakin keras saya berusaha, semakin terasa pula saya belum banyak berbuat apa-apa. Dan saya harus jujur mengakui bahwa tugas sebagai wakil rakyat ternyata sangatlah berat, dan tidak seindah bayangan banyak orang. Oleh sebab itu demi kehormatan bapak, ibu, saudari, saudara dan sahabat semua, dan untuk kemuliaan namaNya, saya sekali lagi mohon maaf seraya memohon dukungan dan bimbingan dalam perjuangan 1 tahun mendatang. Dan, esok saya harus bangun lebih pagi untuk lanjutkan perjuangan.*
Anggota DPR RI 2009-2014 dari Dapil NTT II