Jumat, 12 Juni 2026

Oleh HAD Seda

Menabung sebagai Sikap Hidup

"INI kesempatan baik, sayamengajak Saudara semua, dan Saudara-saudara di seluruh tanah air untuk benar-benar memperkuat budaya menabung. Untuk bangsa, kalau kita memiliki budaya menabung yang kuat, maka kemandirian ekonomi kita akan makin meningkat. Ini penting di samping tentu kapasitas pembiayaan pembangunan juga akan makin kuat.

Tayang:

"INI kesempatan baik, sayamengajak Saudara semua, dan Saudara-saudara di seluruh tanah air untuk benar-benar memperkuat budaya menabung. Untuk bangsa, kalau kita memiliki budaya menabung yang kuat, maka kemandirian ekonomi kita akan makin meningkat. Ini penting di samping tentu kapasitas pembiayaan pembangunan juga akan makin kuat. Untuk ibu rumah tangga, kalau kita punya budaya menabung, kegemaran menabung dan betul-betul menabung, maka kita terhindar dari perilaku hidup yang konsumtif, boros. Yang mestinya  tidak dibeli, dibeli karena tidak punya pikiran atau budaya untuk menabung itu..., kepada para gubernur, para bupati dan para walikota, sukseskan Gerakan Indonesia Menabung ini. Perkuat ketahanan ekonomi di wilayah- wilayah Saudara di seluruh tanah air. Perkuat pula sumber-sumber pendanaan daerah dengan menggalakkan budaya menabung bagi masyarakatnya,” ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya ketika mencanangkan Gerakan Indonesia Menabung sekaligus diluncurkannya Produk Tabunganku, 20 Februari 2010 yang lalu.

Menabung merupakan sikap yang diperlukan untuk bisa membangun masa depan yang lebih baik. Pepatah lama kita mengajarkan bahwa hemat pangkal kaya. Sikap hemat merupakan induk dari investasi. Karena menabung adalah memupuk modal bagi investasi di masa yang akan datang. Oleh karena itu menabung harus menjadi bagian yang tak terpisahkan, bahkan menjadi budaya dari kehidupan masyarakat kita. Menabung selalu dihubungkan dengan pembangunan bangsa dan negara ini.

Dengan menunjukkan menabung sebagai sikap hidup, suatu masyarakat akan berhasil dalam pembangunannya. Budaya menabung adalah salah satu ciri dari masyarakat  modern. Kemajuan yang dialami oleh Jepang  – sebagai negara modern – salah satu faktor adalah karena sikap masyarakatnya yang gemar menabung. Sebenarnya budaya menabung tidak sulit diterapkan, asalkan setiap orang mau mengubah sikap. Mengubah sikap boros menjadi sikap hemat, sikap suka dan pintar menyimpan uang. 
                   

Menabung dalam masyarakat

Bagaimana dengan menabung dalam masyarakat kita? Apakah masyarakat kita pun sudah dapat dikategorikan sebagai masyarakat yang telah menjadikan menabung sebagai budaya? Artinya masyarakat telah mampu menjadikan menabung sebagai sikap hidupnya, sikap yang senantiasa melekat dalam dirinya?

Rentetan pertanyaan tersebut kiranya sulit untuk dijawab begitu saja. Namun jika kita melihat praktek kehidupan masyarakat kita sehari-hari, kita harus dengan jujur mau mengakui bahwa masyarakat kita pun masih tergolong sebagai masyarakat yang terkenal belum menjadikan menabung sebagai sikap hidup.

Tengok saja misalnya, sebagian besar masyarakat kita untuk menabung atau investasi adalah nomor dua dan jarang sekali dilakukan. Orang mau menabung jika ada uang lebih, padahal jika kita berpikir seperti itu tidak akan pernah menabung. Jika pemikiran tentang menabung semacam itu, memang sulit diharapkan bahwa masyarakat akan dapat menumbuhkan suatu iklim budaya menabung dalam kehidupan demi kelancaran pembangunan yang tengah giat dilaksanakan ini. Masyarakat kita cenderung menganggap budaya menabung sebagai sesuatu yang tak punya arti apa-apa, bahkan dianggap sebagai penghalang bagi tujuan-tujuan tertentu sehingga tak usah heran kalau mental menerabas atau menempuh jalan pintas dengan menghalalkan segala macam cara dalam mengejar tujuan yang bersifat pribadi masih merajalela dalam praktek kehidupan masyarakat kita. Untuk itu, hal yang perlu ditekankan di sini, ubahlah pikiran kita dan menjadikan menabung adalah pertama dan utama, barulah memenuhi kebutuhan kita.

Umumnya orang mengatakan bahwa tabungan adalah pendapatan minus konsumsi. Tetapi Christian Johan Maria Melchers, seorang imam Jesuit  – pendiri Bank Purba Danarta – mengatakan, konsumsi adalah pendapatan minus tabungan. Dengan kata lain, menabung adalah sesuatu yang harus dilakukan. Bisa tidak bisa kita harus menabung untuk masa depan kita. Kesejahteraan kita di masa depan adalah sikap kita mau atau tidak mau untuk menabung saat ini. Jadi, pengaturan menyisihkan uang sebagai tabungan adalah kebiasaan yang perlu dikembangkan.

Tengok pula misalnya sambutan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika mencanangkan Gerakan Indonesia Menabung tanggal 20 Februari 2010: "Saya tertarik dengan apa yang disampaikan oleh Pejabat Gubernur Bank Indonesia tadi. Dari 135 juta usia dewasa yang belum punya tabungan adalah 80 juta.”  Data ini menggambarkan kepada  kita bahwa menabung belum merupakan budaya dalam kehidupan masyarakat kita. Budaya menabung tidak lahir dan terwujud dengan begitu saja. Budaya itu harus dipupuk dan dilatih dalam proses suatu jangka waktu relatif lama.


Beberapa alasan

Menabung dalam masyarakat kita tidak hanya kendor tapi memang belum mempunyai budaya menabung. Mengapa? Beberapa alasan dapat disebutkan di sini antara lain, pertama, ketidaksadaran masyarakat tentang bahaya jika tidak menabung. Sebuah survai dari Citigroep (2009) mengambil sampel 400 responden. Dari 400 responden tersebut kurang dari 47 persennya yang menyisihkan pendapatannya untuk ditabung. Dan responden yang menabung pun ketika ditanya seandainya mereka di-PHK dari tempat kerjanya, maka tabungan mereka hanya cukup untuk hidup empat minggu saja. Kecilnya tabungan mereka disebabkan lebih banyak mereka kurang rajin dan disiplin dalam menyisihkan pendapatannya untuk ditabung.

Kedua, sikap boros dari masyarakat Indonesia yang sebenarnya mampu untuk menabung. Sikap boros terjadi ketika membelanjakan sesuatu yang melebihi kesanggupan. Atau mengeluarkan dana semata-mata karena keinginan belaka, bukan suatu kebutuhan. Perilaku boros ini tampaknya sengaja diciptakan oleh para kapitalis di negara-negara maju lewat iklan. Lewat iklan yang sangat intensif masyarakat dibius untuk membeli barang, bukan karena kebutuhan tetapi karena gengsi. Dalam bukunya Manusia Indonesia, Mochtar Lubis menulis, "Manusia Indonesia sekarang ini tidak hemat, dia bukan economic animal.  Malahan dia pandai mengeluarkan terlebih dahulu penghasilan yang belum diterimanya, atau akan diterimanya. Dia cenderung boros. Dia senang berpakaian bagus, memakai perhiasan, berpesta-pesta. Hari ini ciri manusia Indonesia ini menjelma dalam membangun rumah mewah, mobil mewah, pesta besar, hanya memakai barang buatan luar negeri, main golf, singkatnya segala apa yang serba mahal.”

Selain pengaruh iklan di televisi, lingkungan tempat bermain anak-anak pun sangat memberikan dampak terhadap minat dan motivasi seorang anak untuk menabung. Lingkungan kawan-kawan sekolah maupun teman-teman bermain, seringkali membentuk  tren kegiatan konsumsi tersendiri, sehingga seorang anak sering menginginkan sesuatu  yang telah dimiliki oleh kawan-kawannya namun belum ia punyai.

Ketiga, budaya masyarakat Indonesia yang berorientasi masa lalu. Menurut Koentjaraningrat, salah satu ciri masyarakat di negara sedang berkembang – termasuk Indonesia – adalah berorientasi pada masa lalu dan bukan pada masa depan. Perilaku gemar menabung sebenarnya perilaku untuk melihat ke masa depan. Maka sebenarnya  gerakan untuk membuat orang suka menabung bukan semata-mata teknis-ekonomis semata, tetapi harus juga merupakan gerakan budaya dan oleh karena itu diperlukan rekayasa kebudayaan pula.

Meningkatkan budaya menabung dari mana harus memulainya? Budaya menabung itu adalah suatu nilai. Nilai yang patut dikembangkan dan dipelihara oleh masyarakat Indonesia. Seperti dikemukakan di atas, budaya menabung itu tidak lahir dan terwujud begitu saja. Budaya menabung itu harus dipupuk dan dipelihara dalam jangka waktu yang relatif lama, sehingga akhirnya mengakar dalam pemikiran dan jiwa masyarakat.

Tanpa budaya menabung sulit dibayangkan tingkat kesejahteraan mayarakat Indonesia di masa depan. Karena itu, supaya budaya menabung dapat ditingkatkan, masyarakat pertama-tama harus menyadari bahwa budaya menabung itu adalah suatu nilai yang berguna bagi kehidupan bersama, kehidupan masyarakat itu sendiri di masa depan. Budaya menabung adalah kesediaan untuk menyisihkan sejumlah uang secara teratur berdasarkan kesadaran diri, maksudnya seseorang mau melakukan kegiatan menabung bukan karena paksaan dari luar tapi karena ia sadar sesungguhnya bahwa menabung itu penting buat masa depannya.

Jika di atas tadi ditegaskan bahwa masyarakat kita masih tergolong sebagai masyarakat yang belum menjadikan menabung sebagai sikap hidup, maka tugas kita terutama adalah membangun budaya menabung dalam masyarakat kita. Namun dari mana harus memulainya? Jawabannya sebenarnya mudah saja, yaitu dari diri kita masing-masing. Artinya kita masing-masing harus berani untuk memulai hidup secara hemat. Berbelanja tidak melebihi pendapatan, berbelanja seperlunya. Hidup hemat adalah suatu  sifat yang baik dan menjadi salah satu formula penting keberhasilan bangsa yang maju di dunia ini.

Namun supaya tiap-tiap anggota masyarakat dapat mewujudkan budaya menabung dalam  kehidupannya diperlukan suatu ruang tempat terlaksananya budaya menabung termaksud. Untuk itu peningkatan taraf hidup rakyat harus diwujudkan secara nyata; menanamkan sikap budaya menabung lewat pendidikan; pihak atas, para pejabat hendaknya mampu memberikan teladan yang patut dicontoh dalam hal hidup hemat. Jika tidak maka budaya menabung tinggal menjadi slogan usang yang tak ada artinya apa-apa.

Ada sebuah kisah menarik yang mungkin dapat membuat kita bercermin. Di sebuah pantai yang berbatu karang, terdapat sebuah mercusuar yang dijaga seorang penjaga. Setiap bulan si penjaga menerima jatah minyak untuk lampu, dan tugasnya mengawasi agar mercusuar itu tetap menyala. Karena lokasinya dekat pantai, ia sering kedatangan tamu yang minta tolong. Seorang ibu datang meminta sedikit minyak untuk menghangatkan keluarganya yang kedinginan. Kali berikut ada bapak yang meminta minyak untuk mengisi lampu. Yang lain perlu minyak untuk melumasi roda pedati. Demikian seterusnya, si penjaga tidak merasa melanggar peraturan. Karena menganggap hanya memberi sedikit minyak untuk menolong orang. Demikian ia selalu berusaha untuk menyenangkan semua orang.

Menjelang akhir bulan, ia baru sadar bahwa persediaan minyaknya telah habis. Lampu di mercusuar pun akhirnya padam. Malam itu dalam keadaan gelap-gulita sebuah kapal menabrak karang dan menelan korban jiwa. Karena kelalaian yang dianggap sepele, menimbulkan kerugian dan bencana yang besar. Penyesalan kini tak berguna lagi.

Seperti ilustrasi di atas, kita pun sering lalai dalam mengatur keuangan khususnya keuangan keluarga : berbelanja melebihi pendapatan, cenderung bersikap boros/mengeluarkan dana semata-mata karena keinginan belaka, bukan kebutuhan. Kita pun sering lalai menabung untuk membangun masa depan yang lebih baik. Singkatnya, kita lalai menjadikan menabung sebagai sikap hidup. *


Pemerhati Masalah Perbankan, tinggal di Kupang

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 02:00 WIB
Mexico
Meksiko
2 - 0
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
2 - 1
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved