Hari Minggu Paskah di Noepesu TTU Desa yang Tenang dan Sunyi

Suasana jelang perayaan Hari Minggu Paskah di Desa Noepesu, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, tenang dan sunyi.

Hari Minggu Paskah di Noepesu TTU Desa yang Tenang dan Sunyi
POS-KUPANG.COM/ LAUS MARKUS GOTI
Hari Minggu Paskah di Noepesu TTU Desa yang Tenang dan Sunyi 

Hari Minggu Paskah di Noepesu TTU Desa yang Tenang dan Sunyi

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Laus Markus Goti

POS-KUPANG.COM | KEFAMENANU- Suasana jelang perayaan Hari Minggu Paskah di Desa Noepesu, Kabupaten Timor Tengah Utara, NTT, tenang dan sunyi.

Sekitar pukul 06.00 Noepesu masih diselimuti kabut putih. Suara ayam berkokok dan kicauan burung mulai terdengar, asap api dari dapur-dapur warga berterbangan.

Tidak ada suara musik atau hiruk-pikuk kendaraan. Sejam kemudian anak-anak, remaja hingga orang tua berbondong-bondong menuju Kapela dengan berjalan kaki.

Jemaat GMIT Pohonitas Manulai 2 Gelar Pawai Obor

Kapela yang mereka tuju dinamai Kapela Santo Saverius letaknya di ketinggian, di kaki bukit, sehingga warga terengah-engah saat tiba di Kapela. Karena Kapela tersebut belum selesai dikerjakan, sebagian warga mengikuti Misa dari halaman Kapela.

Penampilan warga Desa Noepesu sederhana. Di tangan mereka hanya ada rosario atau Alkitab dan buku nyanyian gereja. Sebagian besar orangtua mengenakan kain adat. Kaum ibu mengenakan Tais, kaum bapa mengenakan Bete.

Mereka mengikuti Misa Hari Minggu Paskah dengan khusuk, tak ada yang mengutak-atik handphone. Mereka hanya sibuk membolak-bolak Alkitab atau buku nyanyian.

Lagu Haleluya Handel Bikin Umat Katolik Matani Terkesima

Hampir semua warga desa Noepesu meyambung hidup dengan bertani padi, jagung, ubi-ubian dan sayur-sayuran. Kalaupun ada yang berprofesi sebagai guru atau PNS, mereka tidak tetap bertani.

"Hal inilah yang membuat warga setempat bergaul akrab satu sama lain, tanpa membeda-bedakan pekerjaan atau status sosial," ungkap Piet Banu salah seorang warga Desa Noepesu.

Piet mengatakan, tanah di Desa Noepesu subur. Namun mereka kesulitan menjual hasil pertanian mereka ke pasar karena topografi desa tersebut berbukit-bukit.

"Kebun dan sawah kami jauh dari rumah, kami harus jalan kaki naik turun bukit memikul jagung, padi, ubi dan lain-lain ke rumah. Dari rumah baru tunggu angkot ke pasar Eban, Kecamatan Miomafo Barat, lumayan jauh dan jalannya rusak-rusak," ungkapnya.

Piet mengatakan jalan dari Desa Noepesu ke Pasar Eban, hampir setiap tahun diperbaiki, namun cepat rusak. "Begitulah kondisi kami di sini, kami punya tanah yang subur, kami olah secara tradisional. Kalau infrastruktur jalan di sini bagus, lebih mudah bagi kami menjual hasil pertanian kami," ungkapnya.(*)

Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved