Kisah Warga Lembata Sekali Kirim Uang Rp 100 Juta

jumlahnya cukup banyak. Karena rumah-rumah yang dibangun itu semuanya permanen dengan kisaran uang sekitar sekitar Rp 100 juta per rumah.

Kisah Warga Lembata Sekali Kirim Uang Rp 100 Juta
Pos Kupang.com/Frans Krowin
Ismail Unu 

Laporan Wartawan Pos Kupang.Com, Frans Krowin

POS KUPANG.COM, LEWOLEBA -- Di Desa Tagawiti ini, warga yang merantau ke Malaysia, cukup banyak. Jumlahnya lebih dari 100 orang. Itu kondisi yang ada saat ini. Tapi jika diungkap kembali dengan kondisi masa lalu, maka umumnya warga desa ini adalah perantau.

Warga yang merantau itu memiliki motivasi yang hampir sama satu dengan yang lain, yaitu membangun rumah dan menyekolahkan anak. Olehnya, satu dua tahun setelah merantau, warga pasti akan mengirimkan uang untuk membangun rumah secara perlahan.

Uang yang dikirim itu tentunya bervariasi sesuai pendapatannya di perantauan. Tapi jika dikalkulasikan, jumlahnya cukup banyak. Karena rumah-rumah yang dibangun itu semuanya permanen dengan kisaran uang sekitar sekitar Rp 100 juta per rumah.

Menurut Kepala Desa Tagawiti, Ismail Unu, di desa itu rumah penduduk unumnya permanen. Dan, rumah-rumah itu dibangun dengan uang yang dikirim dari Malaysia. Uang itu dikirim melalui kakak atau adik yang ada di kampung, selanjutnya keluarga menggunakannya untuk membangun rumah.

Langkah Bupati Manggarai Timur Percepatan Pembangunan Infrastruktur Didukung  DPRD

Italia vs Finlandia skor 2-0, Ini Pembuktian Moise Kean kepada Roberto Mancini

Saat dalam proses pembangunan, kerap sang perantau datang mengecek perkembangannya. Setelah itu yang bersangkutan kembali lagi ke Malaysia. Hal seperti ini biasa terjadi Tagawiti atau desa-desa lainnya di Kabupaten Lembata.

"Di desa ini, orang pergi pulang Malaysia itu hal biasa. Ada yang sudah tiba di kampung, tapi dipanggil lagi ke Malaysia lantaran tenaganya dibutuhkan oleh majikan. Tapi ada juga yang secara mandiri pulang dan beberapa saat kemudian berangkat lagi ke sana. Ini yang terjadi selama ini," ujar Kades Ismail.

Rumah warga di desa itu, katanya, umumnya permanen. Dan, bila ditaksasikan, biayanya cukup besar, sekitar Rp 100 juta. Angka itu relatif besar untuk ukuran masyarakat yang umumnya petani dan nelayan. Sedangkan satu dua warga lainnya, adalah guru dan pegawai yang rumahnya rata-rata bagus.

Kades Ismail tak menyebut angka pasti berapa besar uang yang rutin dikirim para perantau ke desa itu. Sebab jumlah uang umumnya melalui rekening keluarga. Bila suami istri yang merantau, misalnya, tentu uang yang dikirim angkanya lebih tinggi dari perantau lain. Tapi jika perantau itu telah lama bekerja di Malaysia, maka nominal uang yang dikirim, bisa juga lebih besar dari yang lainnya.

"Sebagai kepala desa, kami juga memberi apresiasi terhadap para perantau itu Karena kalau ada hajatan di desa, contohnya, mereka juga mengirimkan bagiannya ke kampung. Jumlahnya cukup besar, mencapai jutaan rupiah," ujar Ismail bangga.

Disaksikan Pos Kupang.Com, wajah Desa Tagawiti itu cukup maju. Rumah-rumah penduduk umumnya permanen dan dibangun dengan ukuran besar. Bila ditaksasikan, setiap rumah itu menghabiskan uang sekitar 100 juta. Besarnya uang itu dikalkulasikan mulai dari fondasi, dinding hingga beratapkan seng.

Untuk mengimbangi kemajuan itu, pemerintah desa mengimbanginya dengan membangun ruas jalan rabat di dalam desa. Ruas jalan rabat itu berukuran lebar sehingga memudahkan arus transportasi dari dan ke luar desa tersebut.

Ketika disinggung, apakah para perantau mengirimkan secara rutin uang untuk keluarganya di desa itu, Kades Ismail mengangguk sambil tersenyum. "Mereka memang selalu kirim uang dari Malaysia. Tapi pengiriman secara rutin, saya tidak tahu persis. Hanya saja selalu ada kiriman uang dari sana," ujarnya.

Ia menambahkan, kalau kiriman uabng orang per orang, mungkin saja terbatas jumlahnya. Tapi kalau total pengiriman uang itu diakumulasikan secara keseluruhan, maka sekali kirim, angkanya mungkin cukup besar, bisa menembus Rp 100 juta. (*)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Ferry Ndoen
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved