Berita Kabupaten Lembata Terkini

Apperal Lembata Tuntut Ajal Dulu Baru Pariwisata

Aliansi Pemuda Peduli Rakyat Lembata ( Apperal ) Dalam Aksinya Tuntut Ajal Dulu Baru Pariwisata

Apperal Lembata Tuntut Ajal Dulu Baru Pariwisata
POS KUPANG.COM/FRANS KROWIN
Apperal bersama sekelompok masyarakat saat menggelar unjuk rasa di Pulau Siput, Awololong, Kamis (24/1/2019). 

Aliansi Pemuda Peduli Rakyat Lembata ( Apperal ) Dalam Aksinya Tuntut Ajal Dulu Baru Pariwisata

POS KUPANG.COM | LEWOLEBA -- Aliansi Pemuda Peduli Rakyat Lembata ( Apperal ) berpendapat, selama Bupati Eliaser Yentji Sunur memimpin Lembata pariwisata telah dijadikan sebagai leading sector. Tapi persoalannya, adalah sarana penunjang pariwisata di daerah ini masih jauh dari harapan.

Alangkah baiknya Bupati Sunur terlebih dahulu membangun sarana dan prasarana penunjang seperti air jalan dan listrik (ajal) daripada membangun destinasi wisata dan menomorsekiankan sarana dan prasarana pendukung sektor utama tersebut.

Pendapat itu disampaikan APPERAL secara tertulis dalam pernyataan sikapnya dan diterima Pos Kupang.Com di Lewoleba, Kabupaten Lembata, Kamis (24/1/2019). Pernyataan sikap itu dibawah tanggung jawab Abdul Gafur Sarabiti.

Hujan dan Angin Kencang di NTT Berlangsung Hingga 30 Januari 2019

Disebutkan, pariwisata memang penting tapi lebih penting sarana dan prasarana pendukungnya.
"Yang paling penting saat ini adalah bagaimana membangun jalan, menuntaskan persoalan air di beberapa wilayah di Lembata dan membuat seluruh desa dan semua rumah memiliki akses terhadap listrik," tulis Koordinator APPERAL, Abdul Gafur Sarabiti.

Dikatakannya, jika semua tempat telah diakses jalan, air dan listrik, maka pariwisata akan tumbuh dengan sendirinya. Karena bagi masyarakat, sektor pariwisata akan tumbuh dan berkembang baik, manakala air, jalan dan listrik telah tersedia sebagaimana yang diharapkan.

Universal Taekwondo Indonesia Adakan Ujian Fisik dan Penyematan Sabuk di Oematnunu

Berikutnya, tulis Abdul Gafur, adalah manfaat dan urgensi pembangunan pariwisata, sebagai misal di Pulau Siput, Awololong. Saat ini, katanya, masyarakat belum terlalu membutuhkan tempat-tempat wisata. Karena yang ada saat ini tak mampu dikelola secara baik bagi pemasukan kas daerah.

Saat ini, katanya, masyarakat butuh pekerjaan, butuh makan. Bukan butuh tempat-tempat wisata seperti pelabuhan jetty, kolam apung dan pusat kuliner di pulau siput Awololong.

Pembangunan fasilitas pariwisata di Awololong, katanya, menelan anggaran Rp 7 miliar dan pembangunan pusat kuliner yang membutuhkan Rp 600 juta, sama sekali tidak didahului dengan sosialisasi publik, terutama kepada nelayan di daerah pesisir. Padahal Awololong merupakan salah satu denyut nadi ekonomi masyarakat.

Menurut APPERAL, apabila Awololong dibangun fasilitas wisata, maka akan membatasi aktivitas nelayan menangkap ikan di sekitar pulau tersebut. Padahal perairan di sekitar Awololong merupakan tempat nelayan mencari ikan.

Disebutkan pula, bahwa Awololong merupakan tempat bersejarah. Dulu, Awololong adalah kampung lama yang merupakan rumah awal bagi sejumlah suku di Kabupaten Lembata. Olehnya, apabila dibangun pusat pariwisata di atas tempat itu, sama artinya dengan membunuh ingatan masyarakat nelayan sekaligus membunuh adat istiadat masyarakat Lembata.

Berdasarkan hal itu, tandas Abdul Gafur, maka APPERAL bersama seluruh masyarakat nelayan yang bermukim di sepanjag Teluk Lewoleba menyatakan menolak pembangunan kolam apung dan fasilitas lainnya di Awololong. (Laporan Reporter  Pos-Kupang.Com, Frans Krowin)

Penulis: Frans Krowin
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved