Opini Pos Kupang

Matematika Hidup Harian 5 x 2 = 10

Ide untuk judul opini ini muncul dari pidato Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat, SH, M.Si., Gubernur NTT, pada acara malam

Matematika Hidup Harian 5 x 2 = 10
Ilustrasi

Oleh: Anton Bele
Warga Kota Kupang

POS-KUPANG.COM - Judul opini ini matematika biasa. Anak kelas satu SD juga tahu, lima kali dua itu sepuluh.

Ide untuk judul opini ini muncul dari pidato Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat, SH, M.Si., Gubernur NTT, pada acara malam Perayaan HUT ke-60 Provinsi NTT, tanggal 20 Desember 2018 di alun-alun depan Rumah Jabatan Gubernur di hadapan ribuan warga kota Kupang yang berjubel memenuhi lapangan yang begitu luas.

Ide yang dicetuskan Pak Viktor ini senapas dengan ungkapan-ungkapan bernas yang terungkap dari mulut Pak Drs. Josef Nae Soi, M.M., Wakil Gubernur NTT yang pernah menyatakan bahwa kita manusia NTT jangan tidur-tidur saja dan membiarkan lahan tidur di mana-mana. Memang kalau manusianya tidur mana lahannya akan bangun, Bung Yos.

Jeremias Aogust Pah, Sang Maestro Sasando, Berpulang

Nasib Dosen Politani Kupang Selingkuh Belum Diputuskan, Usai Disidang Bikin Pengakuan ini

Ramalan Zodiak Selasa 15 Januari 2019, Taurus Konflik, Scorpio Gembira, Sagitarius Kacau

Tiga angka di atas, 5, 2, 10 merupakan penegasan, bukan hanya gagasan dari Pak Viktor untuk kita penduduk Nusa Tenggara Timur, supaya maju dalam pembangunan. Kita harus tidur cukup 5 (lima) jam sehari, baca 2 (dua) jam sehari dan lari 10 (sepuluh) jam sehari. Penegasan `gila', tapi sangat bermakna.

Tidur adalah kebutuhan manusiawi. Ini Nafsu. Nafsu tidur, nafsu bangun, nafsu makan, nafsu seks. Nafsu adalah unsur hakiki dalam diri kita setiap manusia. Semua nafsu ini normal.

Nafsu tidur ini yang ditegaskan oleh Bung Viktor, dikendali, tidak boleh berlama-lama, cukup lima jam sehari dari dua puluh empat jam. Lalu baca dua jam sehari. Baca itu kebutuhan Nalar. Nalar adalah unsur hakiki yang kedua dalam diri kita manusia untuk mengetahui diri dan sekitar diri kita. Dengan baca, nalar kita bertumbuh-kembang, luas wawas, lapang pandang. Hasilnya, wawasan luas tidak hanya selebar daun kelor.

Lari 10 (sepuluh) kilometer. Bung Viktor, ini bukan gagasan aneh. Saya teringat pengalaman masa kecil saya, usia SR (Sekolah Rakyat) di Desa Lakmaras, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu, Timor. Itu tahun lima puluhan, SR VI tahun, 1953-1959. Saya pergi ke sekolah, dari kampung Lakmaras ke SR di Kotasa'i, lima kilometer. Pergi pulang, sepuluh kilometer, setiap hari sekolah, enam tahun, jalan kaki, tanpa alas kaki.

Mana anak petani kenal sendal pada waktu itu, apalagi sepatu. Kedua orang tua saya, pergi pulang dari kampung ke kebun, berkaki tanpa alas, sepuluh kilometer setiap hari kerja, ke kebun membawa bekal seadanya, dan pulang dari kebun sore hari, ke kampung, Mama menjujung ubi-ubian dalam bakul seberat sepuluh kiloan dan Ayah memikul di bahunya kayu bakar satu ikat sekitar sepuluh kilogram beratnya sambil menarik kuda-kuda piaraan.

Jalan atau lari sepuluh kilometer menurut Pak Viktor itu masuk dalam kegiatan Naluri. Salah satu unsur hakiki dalam diri kita manusia adalah Naluri. Dengan berlari atau berjalan, entah itu namanya olah raga atau menuju tempat kerja, kita manusia bersama sesama bergerak menuju satu tujuan tertentu di tempat tertentu pada waktu tertentu dengan tujuan tertentu.

Halaman
123
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved