Berita Kupang
Jeremias Aogust Pah, Sang Maestro Sasando, Berpulang
Pria kelahiran Desa Lalukoen, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, 22 Oktober 1939 itu meninggal di umur 79 tahun
Penulis: Gecio Viana | Editor: Agustinus Sape
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gecio Viana
POS-KUPANG.COM | KUPANG - Provinsi NTT kehilangan salah satu seniman terbaiknya, Maestro Sasando, Jeremias Aogust Pah mengembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Leona Kota Kupang pada Rabu (10/1/2019) sekira pukul 03.20 Wita.
Pria kelahiran Desa Lalukoen, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, 22 Oktober 1939 itu meninggal di umur 79 tahun dan meninggalkan seorang istri, Dorche Pah - Ndun, 10 orang anak serta 10 orang cucu.
Suasana duka dan kehilangan sangat terasa di kediamannya di Jalan Timor Raya Km 22 Desa Oebelo, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang pada Kamis (10/1/2019) malam.
Tubuh sang maestro Sasando terbaring kaku di atas tempat tidur. Sanak saudara, kenalan dan kerabat tak henti-hentinya berkunjung mengungkapkan belasungkawa sedalam-dalamnya.
Hingga akhir hayatnya, pria yang dikenal sangat religius dan taat beragama ini memiliki semangat dan loyalitas tinggi dalam melestarikan dan mengembangkan alat musik tradisional Sasando.
Tak heran, semasa hidupnya pada tahun 2006, almarhum Jeremias mendapatkan penghargaan sebagai Pelestari dan Pengembang Warisan Budaya oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI.
Pada tahun berikutnya ia dinobatkan sebagai Seniman Senior Indonesia (Maestro) Seni Tradisi Musik Sasando oleh kementerian yang sama.
Bakat memainkan alat musik Sasando ternyata turun dari sang ayah, Aogust Pah. Ia pun mempelajari alat musik Sasando tersebut sejak kecil.
Bakat yang ia miliki ternyata diturunkan juga kepada semua anaknya. Semua anaknya piawai memainkan alat musik petik Sasando.
Selain memperkenalkan Sasando kepada Nusantara lewat berbagai event, almarhum Jeremias bersama sang istri, Dorche Pah - Ndun juga sempat menampilkan Sasando hingga negeri sakura, Jepang.
Anak-anaknya pun sering tampil memainkan Sasando dalam berbagai event baik dalam dan luar negeri.
Salah seorang anaknya, Djidron Pah sempat menjadi Finalis dalam ajang pencarian bakat Indonesia's Got Talent pada tahun 2010 dan Berto Pah dalam ajang pencarian bakat 'Indonesia Mencari Bakat' di tahun yang sama.
Sehari-hari, almarhum Jeremias menggantungkan hidup dari bertani di lahan miliknya seluas kurang lebih satu hektare. Usaha lainnya yakni sebagai perajin Sasando satu-satunya di Desa Oebelo.
Rumah almarhum Jeremias yang berukuran 12 x 20 meter di sulap menjadi galeri Sasando. Tak hanya memamerkan Sasando, Ti'i Langga (Topi khas Rote terbuat dari daun lontar), alat musik tradisional lainnya seperti gong dan kain tenun Rote Ndao.