Berita Flores Timur Terkini
Di Hadapan Puluhan Peserta, Kades Birawan Berbagi Konsep Tentang Konservasi Terumbu Karang
Pertemuan para kepala desa di halaman Gedung OMK Keuskupan Larantuka menjadi moment penting bagi para kepala desa saling berbagi gagasan
Penulis: Felix Janggu | Editor: Kanis Jehola
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Feliks Janggu
POS-KUPANG.COM | LARANTUKA - Pertemuan para kepala desa di halaman Gedung OMK Keuskupan Larantuka Jumat (28/9/2018) menjadi moment penting bagi para kepala desa saling berbagi gagasan tentang program inovatif di desa.
Salah satunya Kepala Desa Birawan Kecamatan Ilebura Tarsisius Buto Muda. Desa Birawan pada lomba desa inovasi tingkat Provinsi NTT 2018 mendapat jura kedua.
Dan pada pertemuan para kepala desa hari itu, Tarsi Muda didaulat oleh panitia untuk mensharingkan program inovasi desanya yakni konservasi terumbu karang.
Baca: Seniman Asal Kolimasan Flotim Ini Hasilkan Karya Ukiran Kayu yang Mengagumkan
Konservasi terumbu karang, kata Tarsi Muda dengan menggali kearifan lokal dengan melakukan seminar berbasis budaya ekologis.
Seminar menghadirkan stakeholders terkait di desa seperti tokoh tokoh adat, tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Baca: Transmart Fashion Carnaval 2018 Berlangsung Serempak di Seluruh Indonesia
Dalam seminar ditemukan ternyata orang tua dulu memberlakukan peraturan melarang pada saat tertentu tidak boleh melaut.
Dari kekayaan kearifan lokal itu lalu digodok Peraturan Desa tentang konservasi terumbu karang.
Proyek awal dibantu oleh LSM Misool Baseftin melalukan penanaman terhadap terumbu karang pada area tertentu.
Mengapa tanam terumbu karang? Tarsi Buto menjelaskan ternyata dasar laut wilayah Birawan seperti lapangan sepak bola, tidak ada terumbu karang.
Hal itu sebagai akibat dari maraknya aksi pengeboman ikan di perairan desa itu dan desa-desa sekitarnta pada dekade terakhir.
Bibit terumbu karang ditanam 2017, ketinggiannya hanya lima centimeter. Tapi per 2018 terumbu karang sudah sekitar 30 centimeter.
Dampak kehadiran terumbu karan, kata Tarsi Buto sudah mulai dirakan masyarakat. Hasil tangkapan nelayan meningkat.
Dalam perdes konservasi terumbu karang juga dilarang keras mengambil pasir dan batu di laut. Dilarang bekarang, pencarian ikan dengan merusak bebatuan di pantai.
Dampak lain, semakin tingginya kesadaran masyarakat akan hewan laut yang dilindungi. Kata Tarsi Buto, beberapa kali nelayannya menyelamatkan penyu dan telur-telur penyu di pantai.
Pemerintah desa per 2018, kata Tarsi Buto memperkuat kelompok konservasi terumbu karang dengan peralatan renang.
Harap Tarsi Muda para kepala desa pesisir di Flotim bisa melakukan hal yang sama untuk melindungi terumbu karang di perairan Flotim yang memprihatinkan.
Meski waktu bicara hanya lima menit, Tarsi Muda menyampaikan program inovasinya singkat, padat dan jelas. (*)