Berita Maumere

Sudah Ditemukan `Saudara' Anjing Rabies Asal Desa Baimekot

Seekor anjing yang merupakan 'saudara' dari anjing rabies yang gigitannya menewaskan EG (5,5) bocah asal Desa Baomekot, Kecamatan Hewokloang

Sudah Ditemukan `Saudara' Anjing Rabies Asal Desa Baimekot
POS-KUPANG.COM/Eginius Mo'a
Dr. Fadjar Sumping Tjatur Rasa (kiri) 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eginius Mo'a

POS-KUPANG.COM | MAUMERE - Seekor anjing yang merupakan 'saudara' dari anjing rabies yang gigitannya menewaskan EG (5,5) bocah asal Desa Baomekot, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), sudah ditemukan keberadaannya, Rabu (5/9/2018).

Keberadaan anjing di wilayah Iligetang, Kelurahan Beru, Kecamatan Alok Timur, Kota Maumere ditemukan dalam pelacakan oleh aparat Dinas Pertanian Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Sikka.

"Sudah ditemukan, dirantai dan divaksin anti rabies," kata Kadis Pertanian Perkebunan dan Peternakan Sikka, Ir. Hengki Sali, dalam pertemuan dengan Direktur Kesehatan Hewan Dirjen Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Dr. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Kepala Balai Besar Veteriner Nusa Tenggara, Dr.Mosa Tenaya, Kasubdit Zoonosis Kementarian Kesehatan RI, drh. Endang Burni, Kabid Kesehatan Hewan Disnak NTT, Yos Dandut, Sekretaris Penanggulangan Rabies, dr.Asep Purnama, S.Pd, Kamis (6/9/2018) siang di Aula Dinas Pertanian Sikka.

Baca: Rizal Mallarangeng Jabat Plt Ketua DPD Golkar DKI Gantikan Agus Gumiwang

Hengki menambahkan, temuan spesimen positif rabies selama Januari-Agustus 2018 sebanyak 29 spesimen bertambah tiga spesimen positif menjadi 31 spesimen dari 66 sempel gigitan dari keseluruhan 732 kasus gigitan anjing.

Dikatakanya lagi,seekor lain dari `saudara' anjing yang pernah mencakar EG juga dibawa Talibura. Namun ketika berada di sana, anjing ini berperilaku agresif kemudian dibunuh oleh tuannya.

"Yang seekor di Baomekot ini bukan mengigit tapi mencakar korban (EG) menimbulkan goresan, namun lukanya tidak dicuci dengan sabun kemudian dia divaksin. Sedangkan dua orang yang juga digigit sempat dicuci lukanya dan disuntik vaksin anti rabies sehat hingga saat ini," beber Hengki.

Hengky menduga keterbatasan pemahaman penanganan dini gigitan, sehingga korban hanya terkena cakaran ini tidak diberikan pertolongan pertama. Ia menyesal kasus ini menimbulkan korban nyawa, Minggu (2/9/2018) pagi setelah korban dirawat satu malam di RSUD dr.T.C.Hillres Maumere.

Direktur Kesehatan Hewan Dirjen Kesehatan Hewan Kementrian Pertanian RI, Dr. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, mengaku diutus Dirjen Kesehatan Hewan ke Sikka setelah mengetahui kasus kematian rabies dari pemberitaan media massa.

Ia menilai wajar kasus kematian akibat virus rabies menjadi berita media massa. Ia berharap kematian ini menjadi pelajaran bersama dalam upaya penanggulangan rabies di Flores.

"Saya dimintai Pak Dirjen ke lapangan supaya bisa lebih tahu kondisi dan situasi sebenarnya di Sikka.Upaya yang sudah dilakukan pemerintah daerah,apakah sudah efektif untuk ke depannya," kata Fadjar.

Mendengar pemaparan Hengki, Fadjar mengapresiasi upaya penanggulangan rabies yang telah lama dilakukan. Namun perkembangan virus rabies ini fluktuaktif butuh terobosan lain. (*)

Penulis: Eugenius Moa
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved