Gubernur NTT Frans Lebu Raya Ambil Langkah Cepat Sikapi Aksi Terorisme di Surabaya

Gubernur Frans Lebu Raya, menyampaikan turut berduka dan berbelasungkawa atas meninggalnya korban akibat

Gubernur NTT Frans Lebu Raya Ambil Langkah Cepat Sikapi Aksi Terorisme di Surabaya
Pos Kupang/Hermina Pello
Gubernur NTT, Frans Lebu Raya 

POS KUPANG.COM, KUPANG -- Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, mengambil langkah cepat menggelar rapat menyikapi aksi terorisme, kejahatan terhadap kemanusiaan dan keindonesiaan. Pemerintah dan masyarakat NTT mengutuk tindakan keji dan tidak berprikemanusiaan yang terjadi di Makro Brimob dan gereja-gereja di Surabaya, Jawa Timur.

Rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopikda) itu dipimpin langsung Gubernur Frans Lebu Raya, bertempat di ruang rapat Gubernur, di gedung Sasando, di Kupang, Minggu (13/5/2018) petang.

Rapat mengikutsertakan Pimpinan Agama, Forum Pemuda (PMKRI, HMI, GMKI), Tokoh Masyarakat dan Tokoh Perempuan serta Pimpinan Perangkat Daerah Terkait.

Gubernur Frans Lebu Raya, menyampaikan turut berduka dan berbelasungkawa atas meninggalnya korban akibat dari peristiwa kekerasan terhadap kemanusiaan itu.

Lebu Raya, meminta seluruh masyarakat NTT untuk tenang dan menahan diri serta tidak terprovokasi atas peristiwa yang terjadi. Dia, berharap masyarakat NTT tetap menjaga perdamaian serta persatuan di daerah ini.

"Memang peristiwa yang terjadi ini mengundang banyak komentar. Tapi saya minta supaya kita menahan diri dan jaga daerah ini dalam kebersamaan agar NTT tetap menjadi rukun, aman dan toleran. Juga saya minta masyarakat dapat menjalin kebersamaan dengan TNI, Polri untuk memberantas aksi terorisme," pinta Lebu Raya.

Melalui rapat Forkopimda dan seluruh elemen masyarakat itu, terdapat berbagai masukan dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Tokoh Pemuda, bahwa peristiwa Mako Brimob dan bom bunuh diri di halaman gereja di Surabaya, Minggu (13/5/2018), tidak ada kaitan dengan agama. Kendati menggunakan simbol-simbol agama untuk kepentingan tertentu, tetapi jejadian itu adalah murni tindakan terorisme. Sebab, semua agama mengajarkan kedamaian.

Lebih lanjut, Gubernur Lebu Raya, menyatakan negara tidak boleh kalah dan negara harus melaksanakan kewajibannya untuk melindungi warga. Ucap Gubernur, negara juga harus nenyiapkan instrumen untuk melawan aksi terorisme.

"Saya berharap masyarakat, TNI dan Polri dapat menjalin kebersamaan menjaga suasana kondusif. Mengawasi tempat ibadah, mesjid, gereja, Pura, agar unat dapat beribadah dengan aman dan nyaman," tutur Lebu Raya.

Wakil Kapolda NTT, Brigjen Pol. Drs. Victor Gustaaf Manoppo, mengatakan Polri bersama pemerintah membutuhkan dukungan dan bantuan seluruh elemen masyarakat untuk memberantas aksi terorisme. Terutama dalam menghadapi pelaksanaan Pemilukada serentak dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden.

"Perlu dukungan dari seluruh elemen masyarakat bersama Polri dalam mengamankan situasi. Perlu juga diterbitkan Perpu Anti Terorisme sebagai langkah penegakan hukum. Mengingat, Undang-Undang Anti Terorisme hingga kini masih dibahas di DPR RI,"

Dari rapat yang dipimpin Gubernur Lebu Raya bersama Forkopimda, Pimpinan Agama, Forum Pemuda, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Perempuan, berhasil ditetapkan pernyataan bersama terkait kerusuhan di Mako Brimob, Jakarta dan bom bunuh diri pada Minggu (13/5/2018) di Surabaya.

Pernyataan bersama itu ditandatangani oleh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya dan Forkopimda serta seluruh elemen masyarakat, baik dari Tokoh Agama, Tokoh Pemuda maupun Tokoh Perembuan di NTT untuk segera dipublikasikan lewat media massa dan dibaca di depan apel pagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di setiap perangkat daerah pada Senin (14/5/2018).(*)

Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved