Berita Kota Kupang

VIDEO: Shirley Manutede Paling Jago Bikin Tenun Ikat NTT Jadi Busana Menarik

DALAM berbagai kesempatan, kecuali saat bekerja, perempuan ini selalu berupaya mengenakan aksesoris atau busana modifikasi tenun ikat NTT (TIN).

Penulis: omdsmy_novemy_leo | Editor: Rosalina Woso

Laporan Wartawan Pos Kupang, Novemy Leo

POS KUPANG.COM, KUPANG - DALAM berbagai kesempatan, kecuali saat bekerja, perempuan ini selalu berupaya mengenakan aksesoris atau busana modifikasi tenun ikat NTT (TIN).

Tak berlebihan jika dikatakan dia sangat identik dengan TIN. Matanya langsung berbinar, suaranya langsung lantang dan idenya langsung muncul ketika diajak berbincang soal TIN, bersama Pos Kupang, Jumat (17/3/2017).

Shirley Manutede, SH, salah seorang pencinta sekaligus desainer busana modifikasi TIN, ini memang dikenal sebagai 'duta tenun ikat ntt'.

Pasalnya dimana ada Shirley, disitu pasti ada busana atau aksesoris modifikasi TIN.

Padahal semula, ibu dua anak ini mengaku tidak terlalu suka mengenakan busana yang terbuat dari TIN, karena bahannya tebal sehingga panas saat dijadikan busana.

Tapi, dia mulai mencari cara agar bisa mendesain busana TIN agar bisa nyaman dikenakan, yakni dengan cara modifikasi TIN dengan kain polos atau kain kulit, agar terasa nyaman namun tetap terlihat menarik dan cantik.

"Ternyata ketika TIN dimodifikasi dengan kain polos atau kulit, hasilnya sangat bagus, menarik dan tidak bikin gerah. Kini saya selalu jatuh cinta pada kain TIN. Baju modifikasi desain saya itu saya kenakan dalam berbagai kesempatan lalu saya upload ke media sosial (medos) seperti Facebook, Instagram, Line, WA. Hal itu untuk bisa memberi ide tentang busana modifikasi TIN sekaligus mempromosikan TIN ke masyarakat di dalam dan luar NTT bahkan masyarakat dunia," kata Owner Shirley Manutede (SM) Colection ini.

Perempuan berkulit terang ini memiliki ribuan teman di medsosnya bahkan kini akun medsos FB sudah dua akun dan rata-rata temannya itu akhirnya 'terpengaruh' untuk menyukai TIN karena melihat keindahan TIN yang dikenakan Shirley.

"Teman medsos saya yang dari NTT bahkan dari luar NTT termausk di luar negeri, akhirnya ikutan suka dan membeli kain TIN lalu dibuatkan busana modifikasi atau aksesoris seperti tas dan sepatu. Busana dan aksesoris modifikasi TIN yang saya upload di medsos itu hanyalah ide dan inspirasi saya agar orang lain bisa mengambil ide atau berkreasi lebih baik," kata jaksa senior pada Kantor Kejati NTT ini.

Tak saja teman, bahkan penjahit yang menjahitkan busana modifikasi TIN juga selalu `diajari' Shirley untuk bisa menjahit dengan lebih baik dan teliti agar menghasilkan jahitan berkualitas.

"Saya selalu mendesain secara menggambar model busananya lalu dengan rinci dan detail mewarnai gambar busana itu sesuai motif kain. Tujuannya agar penjahit tidak sulit menempatkan motif saat menjahit dan agar penjahit bisa belajar menjahit busana modifikasi TIN dengan lebih baik dari waktu ke waktu," kata perempuan kelahiran 11 Oktober 1975 ini.

Bahkan hingga ke pengrajin TIN, Shirley selalu memberikan masukan untuk bisa lebih banyak mengikuti selera pasar seperti membuat motif baru, menggunakan warna menarik namun tidak luntur.

"Saya sering menyarankan kepada pengrajin TIN agar menggunakan benang yang lebih tipis seperti benang sutera agar hasil kainnya lebih tipis. Memang harga benangnya mahal namun harga jualnya pasti juga bisa mahal, dan ini sebenarnya menjawab selera pasar," jelas ibu dari Diana dan Dinda ini.

Saking gencarnya memromosikan TIN di dalam dan di luar NTT, tak heran jika perempuan berambut lurus ini pun rela mensuport busana-busana modifikasi TIN bagi Andmes Kamaleng, salah satu peserta Rissing Star 2017 asal NTT.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved