Opini Pos Kupang

Undana: Antara Distopia dan Elysium Tahun 2154

Rumah-rumah kelas menengah atas akan memperkerjakan robot-robot pemotong rumput hingga robot-robot yang bertugas sebagai satpam.

Undana: Antara Distopia  dan Elysium Tahun 2154
istimewa
gerbang masuk ke Kampus Undana Kupang 

Oleh Dr. Jonatan A Lassa, Co-founder IRGSC

DARI Teori Birokrasi Musa 4.000 tahun lalu yang meletakkan dasar-dasar soal delegasi dalam hierarki birokrasi, tak lama lagi akan muncul birokrasi berbasis robot-robot. Suatu hari nanti, di seratus tahun yang akan datang, robot-robot akan menggantikan peran manusia.

Tenaga kerja NTT dan Indonesia umumnya akan bertarung dengan korporasi pencipta robot-robot yang cukup dibeli dengan harga Rp 1 juta-10 juta, bisa digunakan sebagai pembantu bertahun-tahun ketimbang manusia yang harus digaji setiap bulan. Rumah-rumah kelas menengah atas akan memperkerjakan robot-robot pemotong rumput hingga robot-robot yang bertugas sebagai satpam.

Manusia bermimpi kalau tentara dan polisi bisa digantikan robot sehingga untuk berperang, tidak harus menghasilkan yatim piatu selain rongsokan besi. Robot yang menjadi polisi tentunya tidak harus menjadi penghisap duit rakyat ketika mengurus SIM maupun ketika ditilang. Imajinasi munculnya era robot memberikan utopia soal masa depan yang lebih baik yang kurang korupsi dan nepotisme.

Utopia bukan sesuatu yang buruk sebagaimana pandangan generasi-generasi abad-20. Dalam pandangan yang lain, utopia adalah fasilitas alamiah dalam sanubari manusia yang bertugas sebagai titik bantu yang memberdayakan manusia dalam membangun masa depan yang lebih baik, lebih ideal, lebih manusiawi. Sebaliknya dystopia adalah kebalikan dari utopia, sesuatu yang tidak diinginkan yang dibenci dan diharapkan berakhir.

Elysium adalah visi orang Yunani tentang tempat setelah kematian yang terletak di atas sana, tempat mereka yang terpilih oleh para dewa karena kepahlawanan, kesucian dan kelebihan tertentu dalam nalar dewa-dewi. Mereka tetap hidup dalam suasana yang terberkarti dan berbahagia.

Dalam imajinasi Hollywood, Elysium adalah kota utopis 'di atas' langit di 150 tahun yang akan datang. Karya film science fiction oleh Neill Blomkamp ini diperankan secara apik oleh Matt Damon, Jodie Foster dan Alice Braga.

Dalam setting tahun 2154, bumi menjadi distopia yang dikontrol oleh robot-robot yang berprofesi sebagai polisi. Bumi bermasalah. Penduduk semakin padat, kondisi kota-kota seperti California menjadi sangat kumuh, ketidakadilan memenuhi bumi, saling mengeksploitasi terjadi.

Distopia adalah ciri khas bumi 2154. Sedangkan Elysium adalah kota di langit yang bebas dari sakit penyakit, mewah, indah, sebuah surga yang diciptakan science dan teknologi.

Orang-orang di bumi bermimpi ke Elysium. Penyakti selevel leukimia pun dapat disembuhkan dengan scanning canggih, mirip pembersihan antivirius oleh quantum komputer.

Umur manusia dapat dikembalikan untuk menjadi muda sepanjang masa. Bila dalam narasi kitab Wahyu, Tuhan menurunkan Surga (bumi) yang baru, maka dalam imajinasi Hollywood, manusia menciptakan Surga di atas sana. Mungkin suatu hari manusia akan hidup di mars dan bulan, cikal bakal Elysium.

Elysium dipimpin presiden yang manusiawi dan terkesan lembek serta kompromistis dalam berhadapan dengan para penyelundup manusia dari bumi. Sedangkan menteri pertahanan Delacourt (yang diperankan Jodie Foster) adalah sosok yang tegas keras tanpa rasa kasihan. Bekerja sama dengan John Carlyle bos perusahaan Armadyne yang mengontrol semua program Elysium, Delacourt ingin melakukan kudeta demi munculnya rejim yang tegas dan memberikan proteksi total pada Elysium.

Syaratnya Konstitusi Elysium harus "diprogram ulang" oleh John Carlyle dengan mengganti Delacourt sebagai pengambil keputusuan tertinggi.

Warga kelas bawah tidak mungkin mampu membeli kewarganegaraan Elysium.
Adalah Max Da Costa (Matt Demon) sebagai mantan kepala pencuri kemudian bekerja dalam pabrik robot yang dicetak dan di program penguasa Elysium untuk mengawasi kota yang mengalami kehancuran dan degradasi. Suatu hari setelah mengalami radiasi mematikan dan hanya memiliki waktu lima hari untuk bertahan hidup, kecuali diobati di Elysium.

Max terpaksa bekerja sama dengan mantan teman yang juga bos penyelundup adalah Spider (Wagner Moura) seorang jagoan teknologi informasi berencana terbang ke Elysium. Singkat cerita, Max dan tim berhasil menculik John Carlyle yang kemudian mentransfer informasi program Elysium yang yang dengan melakukan re-booting (sebuah proses re-start).

Target re-booting adalah membuat sistem Elysium menjadi lebih inklusif. Cerita ini berakhir bahagia di mana setelah Elysium diprogram ulang, teknologi-teknologi kesehatannya diexport sebagai bantuan ke pelosok-pelosok bumi termasuk Afrika demi menyembuhkan mereka yang sakit.
                                  
Pembelajaran menarik dari Elyisum adalah dengan sistem yang terkomputerasi dan berbasis robot, dengan mudah kita tergoda untuk mengatakan bahwa tidak mungkin ada moral hazard yang bekerja melawan akal sehat dan kehendak baik masyarakat manusia. Kita melupakan prinsip dasar bahwa teknologi adalah alat yang tidak sepenuhnya netral dan otonom dari faktor manusia.

Sistem-sistem tender pemerintah berbasis komputerisasi terkadang menciptakan ilusi di negara berkembang. Impian menghasilkan sistem birokrasi yang tidak memiliki emosi, dingin dan rasional prosedural sering dikenal dengan Birokrasi Weberian.

Karena sulit menciptakan birokrasi yang demikian, di Indonesia, impian mencapai birokrasi Weberian dicoba dengan e-birokrasi, yakni dengan berbasis online tanpa berhadapan muka antara yang dilayani dan yang melayani.

Walaupun e-birokrasi ini mungkin saja mengurangi kontak-kontak yang koruptif dan kolutif, yang kita lupakan termasuk para cerdik pandai bergelar doktor maupun para chauvinist e-birokrasi (apapun yang terjadi prosedur online selalu benar) suka lupa bahwa yang diperankan oleh Elyisum maupun kejadian ditolaknya Dr. DEL yang gagal diterima Undana tetapi diterima di Harvard (baca opini "Undana Tolak, Harvard Terima" (Pos Kupang 5 Mei 2014), selalu terkait dengan sistem manusia yang korup-kolutif. Robot-robot polisi pun dengan gampang diprogram untuk menguntungkan penguasa korup dan haus kuasa.

Dalam tanggapan Bung Meksianis Ndii yang dengan segenap argumentasi berbasis proseduralisme mengatakan Dr. DEL tidak ditolak Undana (baca Undana Tidak Tolak, Pos Kupang 12 Mei 2014), rupanya mengabaikan fakta-fakta empirik dan terjebak dalam argumentasi chauvinist e-birokrasi.

Tulisan ini tidak hanya bermaksud menanggapi tulisan Bung Meksianis Ndii tersebut. Tetapi juga sebuah tanggapan tentang respons beragam yang terbagi menjadi dua bagian. Pertama, Kelompok deniers (penyangkal) yang diwakili secara sopan oleh Bung Meksianis Ndii. Kedua, kelompok proponent (pendukung) yang memberikan informasi-informasi tambahan soal krisis senyap (silent emergency) kelembagaan di Undana.

Di tahun 1980-an, Bank Dunia mencoba membangun sistem formal di negara-negara berkembang yang dikenal dengan nama deregulasi. Yakni sebuah proses yang menawarkan pengurangan dan penyederhanaan proses regulasi (dan birokrasi?) yang berujung pada meningkatnya kompetisi dan berujung pada produktifitas yang meningkat dan efisiensi serta harga-harga komoditas yang lebih rendah. Sayangnya, impian tersebut tidak sepenuhnya terjadi.

Salah satu sanggahan datang dari Douglas North, pemenang Nobel Prize Ekonomi tahun 1993. North memberikan bukti yang begitu banyak bukti empirik tentang bagaimana negara berkembang (terutama Afrika dan Asia) yang satu langkah seolah bergerak menuju sistem yang formal, sedangkan pada waktu yang bersamaan realitas empirik berbicara lain di mana sistem keputusan lebih bersifat informal. Ada tensi antara yang formal (konstitusi, hukum, undang-undang, regulasi, aturan) dan yang informal (sanksi, tabu, kebiasaan, tradisi, perilaku) yang menata masyarakat.

Teori-teori kelembagaan (institutions) Douglas North mungkin sudah tua tetapi bukti empiriknya masih dengan muda ditemukan di Indonesia. Sayangnya adalah akademisi-akademisi muda dan tua begitu mudah terjebak dalam proseduralisme yang chauvinist tanpa melihat pada bukti-bukti empirik.

Bila Anda pernah mencoba mengikuti pra-test online menjadi Permanent Resident di Kanada ataupun di New Zealand, pemerintah kedua negara tersebut memberikan pre-test yang sederhana dengan rumusan yang jelas. Semakin tinggi pendidikan, dengan umur di bawah 35 tahun, skill beragam (termasuk Bahasa), maka nilai skor Anda akan terbantukan karena Anda adalah calon warga yang dianggap berkualitas.

Dalam imajinasi tentang robot yang diprogram secara benar, tanpa sentimen dan emosi, kita tentu secara logis menerima calon dosen yang berkualitas (diukur dari portofolio riset, kualifikasi dsb) seharusnya mendapatkan scoring lebih tinggi.

Pertanyaannya, mengapa prosedur dan teknologi dipakai sebagai tameng dalam mengeluarkan orang berkualitas tetapi memasukan orang kurang kualifikasi? Mengapa proseduralisme tidak mampu tiba di titik substantif dari perdebatan soal inti recruitment birokrasi kampus? Mengapa institusi pendidikan tinggi yang mengaku menggunakan teknologi tinggi gagal mendapatkan yang terbaik? Apakah Undana sebuah dystopia? *

Editor: Benny Dasman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved