Oleh Anton Bele, Dosen Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAS) Keuskupan Agung Kupang
Etik Global
JUDUL ini diambil alih dari Parlemen Agama-agama Dunia yang bertemu di Chicago, Amerika Serikat pada tahun 1993. Dua kata ini asing. Etik itu artinya perilaku. Global artinya mendunia. Etik global, aslinya dalam bahasa Inggris, global ethic. Kita indonesiakan, perilaku mendunia. Atau perilaku umum.
Tayang:
Di Chicago, sekitar 6.500 orang berkumpul menghadiri satu pertemuan raksasa yang diselenggarakan oleh Parlemen Agama-agama Dunia dan pada tanggal 4 September 1993, diproklamasikan Etik Global dengan judul: Declaration Toward a Global Ethic (Hans Küng dan Karl-Josef Kuschel, 1993) dan diterbitkan dalam satu buku kecil dengan judul Global Ethic.
Sesudah deklarasi itu terjadi enam tahun, baru pada tahun 1999 buku kecil itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Sisiphus di Yogyakarta dengan judul Etik Global. Dengan artikel ini, penulis menyebarkan pikiran orang yang telah dicetuskan enam belas tahun lalu di Chicago.
Saat penulis merumuskan opini ini, di Kota Kupang suhu 34 derajat celsius. Panas sekali. Ada pembicaraan umum tentang pemanasan global. Berarti, seluruh dunia mengalami suhu yang semakin panas. Ini akibat dari bumi semakin tandus, bumi semakin dipanaskan dengan berbagai ulah manusia yang membakar hutan di daerah tropis seperti di Indonesia ini, bumi semakin diramaikan dengan berbagai hasil teknologi seperti kulkas (lemari pendingin), ruang ber-AC (air condition), pertanian yang memakai sistim 'rumah kaca', pertanian tradisional yang tetap memakai sistim 'tebas-bakar'. Ini semua terkumpul menjadi satu dan membuat bola bumi ini semakin panas. Manusia gerah kepanasan. Hewan mati bergelimpangan. Tanaman layu dan kering. Padang rumput mengering dan hangus dilalap api.
Ada lagi masalah yang lain. Berbagai jenis tumbuhan musnah dan dimusnahkan manusia dengan merambah hutan. Berbagai jenis hewan pun mengalami kepunahan karena ditangkap atau dibunuh oleh manusia, entah itu di darat atau di laut. Belum lagi ratusan malah ribuan manusia dimatikan dalam perang antarsuku atau antarnegara. Pemusnahan alam secara besar-besaran disebut ecocide, pemusnahan manusia secara massal disebut genocide (ecocide: oikos/Yunani = rumah; caedere-cecidi-caesum/Latin = memotong, membunuh, memusnahkan kehidupan alam; genocide: genos /Yunani= suku bangsa; genocide = pemusnahan suku bangsa. New Webster's Dictionary. ecocide, baca: ekosaid; genocide, baca: jenosaid). Ecocide itu berdampak pula pada terjadinya lubang di lapisan ozon di angkasa bumi yang membuat sinar matahari langsung menghantam bumi tanpa penyaring sehingga sinar ultraviolet merusak tanaman dan kulit manusia (Ensiklopedi Indonesia).
Akibat dari semua ini, manusia menderita, kelaparan, kurang gizi dan tertimpa berbagai macam jenis penyakit. Kemelaratan terjadi di mana-mana. Segelintir orang mencicipi kekayaan berlimpah, sedangkan sebahagian besar penduduk bumi menderita berbagai kekurangan. Kemiskinan dan kemelaratan menjadi pengalaman harian penduduk bumi saat ini. Pencurian, perampokan, penipuan, ketidakjujuran, malah terorisme, pembunuhan manusia, merupakan akibat langsung dan tidak langsung dari kemelaratan yang dialami umat manusia secara keseluruhan. Egoisme pribadi, suku, agama, muncul sebagai reaksi spontan mempertahankan diri dari kemusnahan. Manusia sementara panik. Gelisah. Masa depan suram. Manusia saling memangsa.
Keadaan inilah yang membuat gelisah sekolompok orang yang terhimpun dalam Parlemen Agama-agama Dunia. Mereka berdialog, mereka sepakat dan mereka mencetuskan ide dan ajakan untuk melaksanakan apa yang mereka namakan: Etik Global. Apa itu Etik Global?
Etik itu sendiri berarti sikap perilaku manusia yang mendasar yang tertanam secara kodrati dalam diri manusia. Sikap perilaku ini muncul dalam pergaulan, dalam tradisi dan dalam agama. Pada dasarnya etik itu adalah perilaku yang baik. Yang merusak itu adalah pengaruh yang datang dari luar. Semua manusia itu terdorong untuk berbuat yang baik, inilah yang namanya etik. Semua manusia di bumi ini seharusnya berbuat yang baik bagi sesama. Ini namanya global, artinya, meliputi semua manusia di seluruh dunia. Jadi etik global itu berarti sikap perilaku yang baik yang harus dilakukan oleh semua manusia di bumi ini. Kalau ada kesalahan, segera disadari, diperbaiki dan kembali berperilaku yang baik. Tidak boleh menyuburkan perilaku yang buruk, yang jahat. Gagasan inilah yang dicetuskan di Chicago enam belas tahun yang lalu.
Berikut ini kutipan dari pembukaan deklarasi itu. "Kami mendeklarasikan: kami saling bergantung. Masing-masing dari kami bergantung kepada kebaikan semuanya, karena kami menghormati komunitas makhluk hidup, umat manusia, binatang, tumbuhan, dan bagi pemeliharaan bumi, udara, air dan tanah." Lalu dikemukakan kalimat ini, "Kami harus memperlakukan orang lain sebagaimana kami ingin orang lain memperlakukan kami."
Selanjutnya tentang sesama manusia, dicetuskan kalimat ini, "Kami menganggap semua manusia sebagai keluarga". Terhadap alam sekitar, dikeluarkan pernyataan, "Kami mengikatkan diri kepada etik global, untuk saling memahami, bermanfaat secara sosial, mengembangkan perdamaian, dan cara hidup yang ramah kepada alam." Ajakan untuk berbuat yang baik sebagai tuntutan etik global ini dirumuskan dalam satu kalimat, "Kami mengajak semua orang, beragama atau tidak, untuk melakukan hal yang sama".
Bayangkan, utusan dari seluruh dunia yang berjumlah 6.500 orang membuat satu pernyataan yang begitu kuat dan meyakinkan. Kita manusia ini saling bergantung satu sama lain. Tidak dibenarkan bahwa ada orang yang mau hidup enak sendiri sambil merugikan orang lain. Etik global itu menuntut manusia saling menghormati dan memelihara alam. "Hidup yang ramah kepada alam". Itu berarti tidak seenaknya menggarap alam tanpa ada pertimbangan yang matang. "Mengembangkan perdamaian." Ini merupakan tekad untuk hidup damai. Mulai dari keluarga sampai ke tingkat dunia, global.
Kita di Nusa Tenggara Timur, bagaimana? Kita semua sadar bahwa 'etik global' itu menyangkut kita semua. Hanya ada beberapa catatan penting. Pertama: sebagai manusia yang hidup di NTT, perlu ada rasa tanggung jawab untuk saling menghargai sebagai sesama manusia yang menghuni bumi NTT ini dan memelihara bumi NTT ini. Kedua: sebagai manusia yang menghuni bumi NTT, kita seharusnya semakin sadar bahwa bumi NTT ini penuh dengan kemungkinan untuk menghidupkan kita melalui persediaan yang begitu melimpah di darat dan laut. Ketiga: sebagai manusia yang menghuni bumi NTT ini, kita perlu tingkatkan kemampuan kita melalui pendidikan untuk menguasai teknologi demi pengolahan bumi NTT ini secara tepat dan bermanfaat bagi kesejahteraan kita.
Itulah garis besar inti etik global. Hargai sesama manusia dan pelihara serta manfaatkan alam sekitar. Permusuhan tidak dibenarkan. Pengrusakan alam tidak dibolehkan. Berbuat yang baik, berbuat yang benar dan berbuat yang adil terhadap sesama dan alam sekitar. Secara sederhana, mulai dari diri pribadi, keluarga, tetangga, masyarakat, patuhi dan laksanakan etik global. Hidup kita pasti akan penuh kedamaian, kebenaran dan keadilan. Jadi kita masing-masing mulai berpikir dan bertindak untuk tidak menyusahkan orang lain, tidak merusak alam.
Sebaliknya, semua kita berusaha untuk saling membantu sesama manusia untuk semakin baik, dan memelihara setiap jengkal tanah, memanfaatkan setiap tetes air untuk menghidupkan manusia saupaya hidup dalam kelimpahan kasih dan damai. Berhenti berkelahi. Berhenti mencuri. Berhenti membunuh. Itulah etik global. *