Rote Ndao Terkini
Manfaatkan Status PPPK, Oknum Pegawai KUA di Rote Tega Cabuli Pelajar Berulang Kali
Tersangka ditahan atas kasus dugaan persetubuhan berulang kali terhadap seorang pelajar berinisial PAJM yang merupakan warga Desa Batutua.
Penulis: Mario Giovani Teti | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Mario Giovani Teti
POS-KUPANG.COM, BA'A - Penyidik Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Rote Ndao resmi menjebloskan SSU alias Hardi (30), seorang oknum pegawai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) pada Kantor KUA Rote Barat Daya, ke dalam sel tahanan.
Tersangka ditahan atas kasus dugaan persetubuhan berulang kali terhadap seorang pelajar berinisial PAJM yang merupakan warga Desa Batutua.
Penahanan terhadap pria berumur 30 tahun ini mulai diberlakukan sejak Kamis (11/6/2026) di Rumah Tahanan Mapolres Rote Ndao berdasarkan Surat Perintah Penahanan Nomor: SP.Han/03/VI/RES.1.24./2026/Reskrim.
Tersangka dipastikan akan mendekam di balik jeruji besi selama 20 hari ke depan demi kepentingan penyidikan.
Baca juga: Tenun Ikat Jadi Unggulan, Dekranasda Rote Ndao Dorong Produk IKM Tembus Pasar Nasional
Kapolres Rote Ndao, AKBP Mardiono mengungkapkanbahwa penegakan hukum secara cepat dan tepat menjadi harga mati dalam kasus Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) ini.
Tindakan tegas diambil demi menjaga kondisi psikologis korban serta memberikan rasa keadilan.
"Upaya hukum yang dilakukan bertujuan untuk mewujudkan rasa adil bagi korban. Selain untuk menjaga psikologis korban, penanganannya harus dilakukan sesuai SOP dan timeline penanganan perkara," tegas AKBP Mardiono, Jumat (12/6/2026).
Ia juga menambahkan bahwa penanganan kasus PPA dan TPPO menjadi atensi serta prioritas utama Polda NTT.
AKBP Mardiono mengisahkan, kasus memilukan ini bermula dari modus licik tersangka yang memanfaatkan kepolosan korban.
Berdasarkan laporan polisi, korban PAJM awalnya mendatangi SSU untuk meminta bantuan mengedit foto guna keperluan pendaftaran masuk ke salah satu SMK.
Niat buruk tersangka muncul ketika ia menyuruh korban masuk ke dalam kamarnya dengan dalih ingin mengambil cemilan.
Begitu kembali ke kamar, SSU langsung melancarkan aksi bejatnya memaksa korban berhubungan badan.
Korban sempat melakukan perlawanan, namun tak berdaya setelah tersangka mengancam akan menyebarkan rekaman videonya kepada orang tua korban jika ia berani berteriak.
Tak berhenti di situ, masih jelas AKBP Mardiono, aksi bejat tersangka bahkan berlanjut secara berulang dengan berbagai modus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Penahanan-pelaku-kasus-pencabulan-anak.jpg)