Malaka Terkini
Harga Minyak Tanah di Desa Barene Malaka Tembus Rp 10 Ribu per Liter
Kenaikan harga tersebut memicu keluhan dari warga yang sehari-hari bergantung pada minyak tanah sebagai kebutuhan pokok rumah tangga
Ringkasan Berita:
- Masyarakat Dusun Halioan B, Desa Barene di Malaka dua bulan terakhir menghadapi kenaikan harga minyak tanah
- Harga bahan bakar rumah tangga kini mencapai Rp 10.000 per liter di tingkat pengecer
- Salah seorang pengecer minyak tanah di Dusun Halioan B, Egidius Seran mengakui kondisi tersebut
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota
POS-KUPANG.COM, BETUN - Masyarakat Dusun Halioan B, Desa Barene, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, dalam dua bulan terakhir harus menghadapi kenaikan harga minyak tanah yang cukup signifikan.
Harga bahan bakar rumah tangga yang masih menjadi andalan sebagian warga untuk memasak itu kini mencapai Rp 10.000 per liter di tingkat pengecer.
Kenaikan harga tersebut memicu keluhan dari warga yang sehari-hari bergantung pada minyak tanah sebagai kebutuhan pokok rumah tangga.
Meski demikian, masyarakat mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain tetap membeli dengan harga yang lebih mahal karena kebutuhan memasak tidak bisa ditunda.
Baca juga: Harga BBM di Amfoang Rp25 Ribu, Wapres Gibran Janji Koordinasi dengan Pertamina dan Kementerian
Sejumlah warga menyebut kenaikan harga terjadi akibat semakin langkanya stok minyak tanah yang tersedia di tingkat agen maupun pengecer.
Kondisi itu membuat para pedagang eceran harus menyesuaikan harga jual agar tetap dapat memperoleh keuntungan sekaligus menutupi biaya transportasi untuk mendapatkan pasokan.
Salah seorang pengecer minyak tanah di Dusun Halioan B, Egidius Seran, saat ditemui POS-KUPANG.COM di kios miliknya, Sabtu (23/5/2026), membenarkan bahwa harga minyak tanah saat ini telah mencapai Rp 10.000 per liter.
Menurut Egidius, kenaikan harga tersebut bukan semata-mata keinginan para pengecer, melainkan dampak dari sulitnya memperoleh pasokan minyak tanah dari agen di Kota Betun.
“Kami memang terpaksa harus menjual dengan harga begitu. Di agen di Betun memang masih menjual dengan harga Rp 6.000 per liter, tetapi itu pun kadang kami tidak dapat karena stok cepat sekali habis,” ujarnya.
Baca juga: Awasi Kenaikan Harga BBM, Polisi Gelar Operasi Patroli pada Tiga SPBU di Kota Kefamenanu
Ia menjelaskan, dalam banyak kesempatan para pengecer kecil justru memperoleh minyak tanah dari tangan kedua dengan harga yang sudah lebih tinggi.
Harga beli yang diterima pengecer biasanya mencapai Rp 8.000 hingga Rp 9.000 per liter sebelum dijual kembali kepada masyarakat.
“Biasanya kami membeli dari tangan kedua yang sudah naik harga menjadi Rp 8.000 per liter, bahkan kadang sampai Rp 9.000. Kami sebagai pengecer kecil juga tidak mungkin mau rugi. Jadi terpaksa menyesuaikan harga. Ditambah lagi jarak dari sini ke Betun cukup jauh sehingga ada biaya transportasi yang harus dikeluarkan,” jelasnya.
Egidius mengungkapkan bahwa sebelumnya ia masih menjual minyak tanah dengan harga Rp 8.000 per liter. Namun sejak sekitar dua bulan terakhir harga tersebut mulai mengalami kenaikan hingga mencapai Rp 10.000 per liter.
Baca juga: Harga BBM dan LPG Nonsubsidi Naik Lagi di Mei 2026, Cek Harga Terbarunya di NTT
Ia juga mengaku pasokan yang diperolehnya tergolong sangat terbatas. Dalam sekali pengambilan, dirinya biasanya hanya membeli dua jeriken berkapasitas 20 liter.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Egidius-Seran-salah-satu-pengecer-minyak-tanah-di-Dusun-Halioan-B.jpg)