Timor Tengah Utara Terkini
30 Tahun Suster PRR di RSU Naob Melawan Stigma Penyakit Kusta
Suster Krisanti mengatakan pertama kali melakukan pelayanan pengobatan pasien kusta, memanfaatkan pasar mingguan tepat pada Hari Senin.
Penulis: Dionisius Rebon | Editor: Apolonia Matilde
Mengunjungi Pasien Kusta di Kebun
Suster Krisanti mengatakan, pertama kali melakukan pelayanan pengobatan pasien kusta, memanfaatkan pasar mingguan pada Hari Senin di sekitar perbatasan tepat di Kampung Fautbena (titik perbatasan antara Kabupaten TTS , Kabupaten TTU dan Kabupaten Belu) untuk menemui pasien kusta. Mereka melakukan pengobatan di pasar sembari memperkenalkan karya pelayanan penyakit kusta di wilayah itu.
Tak kenal lelah, mereka juga menjemput para pasien yang berdomisili di Kabupaten Malaka (wilayah Kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten TTU). Para pasien biasanya menetapkan di kebun.
Sementara keluarga mereka menetap di rumah di dalam wilayah perkampungan. Demi membangkitkan kembali semangat mereka untuk sembuh, para suster mengunjungi mereka di setiap pondok di kebun.
Saat itu, belum ditemukan proses penyembuhan pasien kusta. Oleh karena itu, para pasien pada umumnya mengasingkan diri ke kebun untuk menghindari stigma dan mencegah penularan kepada keluarga dan masyarakat. Di sisi lain, belum ada lembaga yang bisa melakukan penanganan dan penyembuhan secara intensif.
Para suster sebuah angkatan dalam Kongregasi PRR pernah merayakan 25 tahun hidup membiara dengan hidup bersama pasien kusta selama 1 pekan. Berbagai upaya ditempuh dengan penggalangan donatur untuk mendukung penyediaan air bersih yang layak di wilayah saat itu.
Mereka benar-benar menghidupi karya warisan pendiri dengan menjadikan pasien kusta sebagai sahabat. Ketika masih menjadi Imam Muda, Mgr Gabriel Manek SVD, menyampaikan sebuah ungkapan yang menjadi moto para suster-suster PRR bahwa "orang kusta menjadi mata biji saya". Kendati memberikan pelayanan kepada semua masyarakat namun, pasien kusta selalu diberikan perhatian khusus karena mereka mendapat tempat spesial dalam karya pelayanan.
Pasien kusta biasanya mengenal rekan sesama pasien kusta dengan baik. Mereka biasanya menetap di pondok-pondok kebun mereka. Langkah mendeteksi pasien kusta ini adalah dengan menemukan pasien kusta pertama di sekitar kebun dan melacak keberadaan pasien yang lain.
Sebanyak lima orang pasien yang pertama kali dilayani oleh suster-suster PRR di klinik tersebut. Mereka tiba di klinik untuk berobat pada 26 Desember 1998. Sebelumnya pelayanan pasien kusta dilaksanakan di pasar dan di rumah-rumah warga.
Pelayanan pasien kusta di RSU Naob tidak hanya dilakukan di dalam wilayah Provinsi NTT. Beberapa pasien bahkan datang dari Pulau Jawa dan Papua.
Jejak karya pelayanan ini mulai mencakup wilayah yang lebih luas ketika pada tahun 2007 Rumah Kusta Naob mulai dibangun. Pasalnya, saat itu yayasan ini mulai bekerja sama dengan tim bedah dari Australia. Kerja sama itu sebenarnya sudah berlangsung sejak rumah pelayanan itu masih berstatus klinik. Para ahli bedah asal Australia ini juga bekerja sama dengan para ahli bedah dari Tangerang Indonesia spesialis pelayanan pasien kusta.
Menariknya, para eks pasien kusta ini dibekali sejumlah keahlian sebelum mereka kembali ke masyarakat. Selain dunia pertanian dan peternakan, mereka juga dibekali dengan pengetahuan permebelan.
"Supaya nanti mereka kembali ke sana itu, paling tidak mereka bisa menghidupi diri sendiri," ujarnya.
Pada bagian belakang rumah sakit ini membentang lahan pertanian, bengkel kayu dan lahan peternakan. Beberapa orang eks pasien kusta membantu pengolahan lahan pertanian, peternakan dan bengkel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Biarawati-Katolik-berpose-di-Depan-RSU-Naob.jpg)