Breaking News
Jumat, 15 Mei 2026

Ende Terkini

Dinas Kesehatan Ende Alami Banyak Tantangan Penanganan Odhiv dan Virus HIV AIDS 

Sejak tahun 2005 hingga 2025 jumlah orang yang teriveksi virus HIV/AIDS atau orang dengan HIV AIDS (Odhiv) di Kabupaten Ende mencapai 170 orang.

Tayang:
POS-KUPANG.COM/HO
TANTANGAN - Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ende, dr. Maria Avelina Pani, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (3/9/2025) sebut pelaksanaan imunisasi campak di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, menghadapi tantangan besar, salah satu hambatan utama yang dihadapi Dinas Kesehatan Kabupaten Ende adalah penolakan dari sejumlah orang tua yang enggan membawa anak-anak mereka untuk menerima imunisasi campak. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Albert Aquinaldo

POS-KUPANG.COM, ENDE - Sejak tahun 2005 hingga 2025 jumlah orang yang teriveksi virus HIV/AIDS atau orang dengan HIV AIDS (Odhiv) di Kabupaten Ende mencapai 170 orang. Dari jumlah itu, 60 orang diantaranya terdeteksi dalam  pemeriksaan tahun 2025. 

Data ini disampaikan Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ende, dr Maria Avelina Peni melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Maria Agustina Tondong kepada Pos Kupang, Rabu (3/9) siang. 

Dijelaskan Maria Agustina Tondong, rata-rata odhiv di Ende didominasi kaum pria dengan rentang usia produktif. Dari total 170 odhiv di wilayah itu, banyak yang sudah meninggal dunia.  

Meski tidak dijelaskan secara gamblang angka usia secara pasti namun secara umum, usia produktif merujuk pada rentang usia 15 hingga 64 tahun. 

Baca juga: Orang Tua di Ende Tolak Imunisasi Campak Anak dengan Alasan Seperti Ini

Pihaknya terus memberikan advokasi kepada masyarakat dan melakukan skrining.

"Upaya kita yang pertama itu melakukan skrining untuk populasi berisiko misalnya ibu hamil, pasien IMS (Infeksi Menular Seksual), terus pasien TB karena komorbid HIV adalah TB, itu wajib skrining HIV, terus populasi beresiko lainnya seperti di Lapas terus transgender, di tempat hiburan malam,"  jelas Maria Agustina Tondong.

Menurut Maria Agustina Tondong, untuk ibu hamil dan beberapa populasi kunci lainnya, lanjut dia, biasanya dilakukan skrining di Puskesmas. Apabila reaktif, maka dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan dan bagi yang dinyatakan positif akan diberikan obat antiretroviral (ARV).

Golongan obat antiretroviral (ARV), yang bekerja menekan perkembangan virus HIV dalam tubuh, bukan menyembuhkan HIV secara total, melainkan untuk menjaga sistem kekebalan tubuh tetap kuat dan meningkatkan kualitas hidup penderita HIV. 

Baca juga: Berkas Kasus Dugaan Korupsi RSUD Ende Belum Lengkap, Bolak Balik Seputar Jaksa dan Polisi 

Maria Agustina Tondong menjelaskan, pengobatan utama HIV adalah Terapi Antiretroviral (ART) yang perlu dikonsumsi rutin seumur hidup. Bukan untuk menghilangkan virus tetapi untuk mencegah virus berkembang biak, menjaga daya tahan tubuh, serta mengurangi risiko komplikasi dan penularan HIV. 

"Selain skrining, sekarang di beberapa puskesmas juga sudah melakukan pemberian obat. Jadi pengobatan itu bisa di rumah sakit bisa juga di beberapa puskesmas seperti Rukun Lima, Rewarangga, Onekore, Kota Ratu dengan Nangapanda dan Maurole,"  jelas Maria Agustina Tondong. 

Maria Agustina Tondong mengaku banyak tantangan dalam mencari populasi kunci di tengah masyarakat sejak Komisi Penanggulangan AIDS Ende sudah tidak beroperasi lagi.

"Ada beberapa kelompok yang kami tahu dan bisa jangkau tapi ada beberapa kelompok yang kami kesulitan dan tidak bisa jangkau," ujar Maria Agustina Tondong. 

Selain itu, saat ini juga masih ada stigma negatif terhadap odhiv oleh masyarakat.  "Masih ada stigma negatif, jadinya mereka agak sungkan, mereka kan butuh kita untuk merangkul, jadi itu yang menjadi tantangan kami," kata Maria Agustina Tondong. (bet)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

 

 

 

 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved