Editorial
Editorial: Bukan Sekolah Kaum Elit
RENCANA pembangunan Sekolah Unggul Garuda di Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan menghadirkan harapan besar dan tanda tanya
Ringkasan Berita:
- RENCANA pembangunan Sekolah Unggul Garuda di Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menghadirkan harapan besar sekaligus tanda tanya serius bagi masa depan pendidikan di Nusa Tenggara Timur.
- Program ini dapat menjadi simbol keberpihakan negara terhadap kawasan timur Indonesia yang selalu tertinggal dalam kualitas pendidikan.
- Di sisi lain, jika tidak dirancang dengan rasa adil, sekolah unggulan justru bisa memperlebar ketimpangan pendidikan di daerah.
POS-KUPANG.COM, SOE - RENCANA pembangunan Sekolah Unggul Garuda di Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) menghadirkan harapan besar sekaligus tanda tanya serius bagi masa depan pendidikan di Nusa Tenggara Timur.
Program ini dapat menjadi simbol keberpihakan negara terhadap kawasan timur Indonesia yang selalu tertinggal dalam kualitas pendidikan.
Di sisi lain, jika tidak dirancang dengan rasa adil, sekolah unggulan justru bisa memperlebar ketimpangan pendidikan di daerah.
Selama ini, masalah utama pendidikan di NTT bukanlah tidak adanya sekolah unggul. Persoalan paling mendasar justru berada pada kualitas pendidikan dasar dan menengah yang masih timpang, terutama di desa-desa terpencil.
Banyak sekolah kekurangan guru, fasilitas sarana dan prasarana yang minim, perpustakaan tidak berjalan, akses internet lemah, bahkan masih terdapat sekolah dengan ruang belajar yang rusak dan sanitasi buruk. Untuk itu, pembangunan sekolah elit dengan fasilitas modern dapat menimbulkan paradoks besar, negara membangun mercusuar pendidikan di tengah ketertinggalan di bidang pendidikan.
Tentu tidak salah membangun pusat pendidikan unggulan. Bahkan, NTT sangat membutuhkan lembaga pendidikan yang mampu mencetak generasi unggul di bidang sains, teknologi, riset, kepemimpinan, dan inovasi.
Persoalannya adalah apakah sekolah ini akan menjadi motor pemerataan kualitas pendidikan atau justru menjadi sesuatu yang elit dan ekslusif yang hanya bisa diakses oleh orang atau kelompok tertentu.
Dalam penerimaan siswa SMA Unggul Garuda baru-baru ini malah sudah ada kasak-kusuk di masyarakat, dimana menerima siswa pesanan. Apakah ini akan menghasilkan SDM yang mumpuni dan bersaing atau justru mengajarkan kepada siswa tentang nepotisme.
Anak-anak dari keluarga mampu lebih mudah lolos karena sejak awal memiliki akses pada bimbingan belajar, sekolah dasar berkualitas, literasi digital, dan lingkungan akademik yang mendukung. Sementara anak-anak desa yang cerdas tetapi miskin sering kalah bukan karena tidak mampu, melainkan karena tidak pernah mendapat kesempatan yang sama sejak awal.
Jika pola ini terjadi di SoE, maka Sekolah Unggul Garuda hanya akan melahirkan elit akademik baru di NTT. Ia akan menjadi simbol kemajuan yang indah di atas kertas, tetapi gagal menjawab ketidakadilan struktural pendidikan.
Karena itu, keberhasilan sekolah tidak boleh diukur dari megahnya gedung, kecanggihan laboratorium, atau jumlah komputer yang tersedia. Ukuran utamanya haruslah sejauh mana sekolah ini membuka akses bagi anak-anak dari keluarga petani, buruh, dan dari pelosok.
Negara harus memastikan anak-anak dari pelosok Mollo, Amanuban, Amanatun, bahkan dari pulau-pulau kecil di NTT memiliki peluang nyata untuk masuk dan berkembang di sana.
Sekolah unggulan yang dibangun dengan uang negara tidak boleh menjadi sekolah kaum elit birokrasi dan kelas menengah baru. Ia harus menjadi alat sosial orang-orang kecil atau masyarakat miskin.
Lalu, ke depan sekolah ini tidak saja menghasilkan siswa yang rangking dan bisa mengikuti kompetensi di mana-mana, tetapi menghasilkan siswa yang punya karakter moral kuat dan tangguh serta peka terhadap lingkungan.
Hal lain yang perlu dikritisi adalah kecenderungan pemerintah yang gemar membangun proyek-proyek simbolik dibanding memperbaiki sistem secara menyeluruh. Sekolah unggulan menarik secara politik karena mudah dipromosikan sebagai keberhasilan pembangunan. Kualitas pendidikan daerah tidak akan berubah hanya karena hadir satu atau dua sekolah elit.
Pemerintah pusat hendaknya memperkuat kualitas seluruh sekolah di NTT, mulai dari memperbaiki kualitas guru, distribusi tenaga pendidik yang merata, infrastruktur sekolah, literasi siswa, dan akses teknologi di desa-desa. (*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/sekolah-rakyat.jpg)