Senin, 8 Juni 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 7 Juni 2026: Kristus Pusat Hidup Kita

Sebaliknya, melalui kesulitan itu Tuhan membentuk hati mereka agar semakin mengenal dan bergantung kepada-Nya. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ROMO LEO MALI
Romo Leo Mali 

Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Kerap kali kita melupakan Tuhan ketika hidup berjalan lancar. Kita merasa cukup dengan kemampuan, harta, pengetahuan, dan berbagai sarana yang kita miliki. 

Namun ketika kesulitan datang, ketika sakit, kegagalan, kehilangan, atau penderitaan menyapa hidup kita, dengan mudah kita mencari Tuhan dan memohon pertolongan-Nya. 

Kesulitan hidup membuat manusia sadar akan keterbatasannya. Ia menyadari bahwa dirinya tidak maha kuasa. Ia membutuhkan pertolongan yang lebih besar daripada dirinya sendiri. 

Karena itu, penderitaan tidak selalu memiliki makna negatif. Tidak ada penderitaan yang sepenuhnya sia-sia. 

Kesulitan hidup sering kali menjadi jalan yang menuntun manusia kembali kepada Tuhan. 

Baca juga: Opini: Berpancasila Secara Progresif

Penderitaan mengingatkan kita bahwa hidup ini rapuh dan terbatas, dan bahwa kita bergantung pada Dia yang menjadi sumber kehidupan. 

Inilah pelajaran Tuhan kepada bangsa Israel selama perjalanan mereka di padang gurun. 

Dalam Ulangan 8:2–3,14b–16a, Musa mengajak bangsa Israel untuk mengingat kembali perjalanan panjang mereka keluar dari Mesir menuju tanah terjanji. 

Empat puluh tahun di padang gurun bukanlah perjalanan yang mudah. Mereka mengalami lapar, haus, ketidakpastian, dan berbagai kesulitan lainnya. 

Namun justru dalam situasi itulah Tuhan menunjukkan kesetiaan-Nya. Musa berkata: “Tuhan merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar, dan memberi engkau makan manna yang tidak kau kenal dan tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari segala yang diucapkan Tuhan.” (Ul. 8:3). 

Dan lagi: “Ingatlah selalu kepada Tuhan Allahmu yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan.” (Ul. 8:14b).

Kesulitan yang dialami Israel ternyata bukan tanda bahwa Tuhan meninggalkan mereka. 

Sebaliknya, melalui kesulitan itu Tuhan membentuk hati mereka agar semakin mengenal dan bergantung kepada-Nya. 

Kesadaran akan keterbatasan diri dan kesetiaan Tuhan melahirkan kesadaran yang lebih dalam: bahwa hidup manusia hanya menemukan maknanya dalam persekutuan dengan Allah. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved