Jumat, 8 Mei 2026

Guru Besar Unika Santu Paulus Ruteng

Gubernur NTT Puji Dua Guru Besar Unika Santu Paulus Ruteng

Pengukuhan ini bukan sekadar pencapaian akademik personal, melainkan penanda penting bagi perjalanan intelektual NTT.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Robert Ropo | Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/ROBERT ROPO
Gubernur NTT, Melki Laka Lena bersama rombongan diterima secara adat dalam Pengukuhan Guru Besar Unika Santu Paulus Ruteng, Jumat (8/5/2026). 

Melalui kajian tentang budaya Manggarai seperti tiba meka dan lonto léok, Prof Sabina menunjukkan bahwa masyarakat lokal memiliki sistem nilai dan pengetahuan yang kaya - nilai tentang dialog, solidaritas, penghormatan, dan tanggung jawab bersama. 

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa praktik budaya lokal sesungguhnya memiliki irisan yang kuat dengan prinsip-prinsip pedagogi modern seperti student-centered learning dan pembelajaran kolaboratif.

Dalam bidang etnomatematika, Prof Sabina menegaskan bahwa matematika bukan sekadar ilmu abstrak dan universal, tetapi juga hadir dalam praktik budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Karena itu, integrasi budaya lokal dalam pembelajaran matematika menjadi penting untuk meningkatkan pemahaman konsep, motivasi belajar, dan literasi matematis peserta didik.

Baca juga: Kuliah Umum di Unika Santu Paulus Ruteng Dorong Generasi Muda NTT Unggul dan Inovatif

"Kontribusi pemikiran beliau memberi pesan yang sangat mendalam: bahwa pendidikan yang maju tidak harus tercerabut dari akar budaya. Justru dari budaya lokal itulah lahir kepercayaan diri, identitas, dan karakter generasi muda NTT," Ujar Gubernur Melki. 

Menurut Gubernur Melki, kedua Guru Besar ini sesungguhnya berjalan pada dua jalur yang berbeda, namun menuju satu titik yang sama.  

Prof. Maksimus Regus menekankan dimensi sosial, keadilan, dan keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat. Sementara Prof. Sabina Ndiung menekankan dimensi pendidikan, budaya, dan pembentukan karakter berbasis lokal.

"Yang satu berbicara tentang masyarakat, yang lain berbicara tentang sekolah. Namun keduanya bertemu dalam satu gagasan besar: bahwa pembangunan manusia tidak boleh melepaskan nilai, budaya, dan kemanusiaan itu sendiri," ujarnya. 

Gubernur Melki juga mengatakan, Pemerintah Provinsi NTT memandang dunia akademik sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah. 

"Tantangan pembangunan hari ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan teknokratis. Kita membutuhkan pemikiran, riset, dan inovasi yang lahir dari kampus-kampus kita sendiri, kampus yang memahami konteks lokal secara mendalam. Karena itu, kehadiran Unika Santu Paulus Ruteng dan berbagai institusi pendidikan tinggi lainnya di NTT menjadi sangat penting. Mereka bukan hanya pusat pendidikan, tetapi juga pusat peradaban dan laboratorium gagasan bagi masa depan daerah ini," ujarnya. (rob) 

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved