Minggu, 26 April 2026

Profil Julia Lacsma Manafe dan Denting Sasando di 3rd NCAP

Sasando bukan sekadar instrumen, melainkan representasi identitas masyarakat Rote yang kaya akan nilai. 

Editor: Dion DB Putra
FOTO KIRIMAN JB KLEDEN
Julia Lacsma Manafe 

Tengah malam Sangguana mendapatkan ilham membuatkan alat musik yang indah. Ia kemudian mencoba alat musik yang muncul dalam mimpi itu, lalu membawakannya di hadapan keluarga raja. 

Putri raja terpesona dengan keindahan musik itu lalu bersedia dinikahi Sangguana. 

Kisah ini mengingatkan bahwa musik sesungguhnya adalah denting yang menyatukan hati. Nyanyian hati Sangguana telah menjelma menjadi nyanyian hati masyarakat Rote. 

Alat musik tradisional ini, kini memiliki kekuatan menembus ruang dan waktu, menyatukan hati manusia di mana pun berada.

Ungkapan puitis dari Bimbo, grup musik legendaris Indonesia, terasa relevan: “Musik adalah doa yang dinyanyikan.” Sasando membuktikan hal itu. 

Ia bukan sekadar hiburan, melainkan doa yang menyatukan, doa yang lahir dari tradisi dan beresonansi hingga ke panggung global.

Dentingnya terdengar seperti angin muson yang membawa pesan persaudaraan, melintasi batas geografis dan budaya. Dalam konteks global, Sasando adalah suara yang unik, berbeda dari instrumen lain, dan mampu memperkaya lanskap musik dunia.

Sasandoku Suaraku

Seorang peserta dari Universitas Nusa Nipa Maumere, Flores, menanyakan. Apakah evolusi dari Sasando Gong hingga Sasando Elektrik tidak mereduksi keaslian dan nilai spititualitas Sasando

Julia menjawab dengan polos. Perkembangan Sasando  tidak mereduksi keasliannya. 

Perkembangan itu dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan Sasando dalam seni pertunjukkan atau sesuai dengan konteks kebutuhan zamannya yang semakin modern. 

“Sasando dikembangkan agar menjadi alat musik yang bisa dipertunjukan dimanapun dan kapanpun, tanpa menghilangkan nilai estetika dan harmoni dari sasando itu sendiri.”

Ia tidak sedang berteori. Sebuah jawaban yang lahir dari pengalaman panjangnya bersasando. Ia seperti menegaskan, kita tidak perlu terlalu khawatir dengan perubahan Sasando untuk menjadi relevan dengan dunia masa kini.  

“Sasando perlu dibuat relevan dengan kondisi dan kebutuhan zaman yang terus berubah. Bapak Johny Theedens, dosen musik saya di semester I, adalah seorang guru Sasando yang dengan penuh ketekunan melakukan inovasi namun tetap menjaga sinergitasnya dengan keaslian tradisi,” ia bercerita. 

Jawabannya memperlihatkan Julia Lacsma Manafe adalah sosok generasi muda yang berkiprah melestarikan musik tradisional. 

Dengan mengikuti berbagai pertunjukkan, ia memperluas jangkauan sumbangan pengaruh Sasando dalam kehidupan multikultural. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved