Editorial
Editorial: Kontribusi Mahasiswa Atasi Stunting
Angka prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bak mendung gelap yang menggelayuti masa depan generasi Flobamora.
Ringkasan Berita:
- Angka prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bak mendung gelap yang menggelayuti masa depan generasi Flobamora.
- Data menunjukkan angka mencemaskan.
- Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting NTT berada di level 37,9 persen, dan masih bertahan di kisaran 37 persen pada bulan Oktober 2025.
- Fakta ini menempatkan NTT sebagai salah satu wilayah dengan tingkat stunting tertinggi di tanah air.
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Angka prevalensi stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bak mendung gelap yang menggelayuti masa depan generasi Flobamora. Data menunjukkan angka mencemaskan.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting NTT berada di level 37,9 persen, dan masih bertahan di kisaran 37 persen pada bulan Oktober 2025. Fakta ini menempatkan NTT sebagai salah satu wilayah dengan tingkat stunting tertinggi di tanah air.
Stunting bukan sekadar persoalan fisik anak. Stunting merupakan ancaman eksistensial terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Gangguan pertumbuhan kronis akibat kurang gizi dan infeksi berulang pada 1.000 hari pertama kehidupan ini berdampak permanen pada kognitif, melemahkan sistem imun, hingga meningkatkan risiko penyakit tidak menular di masa dewasa.
Jika tidak segera diatasi, siklus kemiskinan akan terus berulang karena rendahnya produktivitas ekonomi generasi mendatang.
Di tengah situasi krusial ini, muncul secercah harapan dari dunia pendidikan tinggi. Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XV menginisiasi langkah progresif melalui program "KKN Berdampak".
Sebanyak 2.000 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi akan diterjunkan ke 100 desa di 14 kabupaten di NTT. Langkah ini merupakan implementasi nyata dari Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang Percepatan Penanganan Stunting dan Kemiskinan Ekstrem.
Kita mengapresiasi terobosan ini. Perguruan tinggi memang sudah semestinya keluar dari menara gading. Melalui riset, inovasi, dan pengabdian masyarakat, kampus sepatutnya menjadi motor penggerak perubahan sosial.
Mahasiswa yang terjun langsung ke lapangan diharapkan mampu memberikan edukasi mengenai pentingnya konsumsi protein harian dan kelengkapan imunisasi dasar—dua faktor yang selama ini menjadi penyebab utama tingginya angka stunting di NTT.
Namun, misi mulia ini membawa tanggung jawab besar. Kehadiran 2.000 mahasiswa di tengah masyarakat harus benar-benar menjadi solusi, bukan beban baru. Kita mendukung penuh langkah ini, sembari memberikan catatan penting. Para mahasiswa menjaga integritas moral dan etika selama berada di desa.
Jangan sampai ada "kasus baru" atau persoalan sosial yang muncul akibat ketidaksiapan mental mahasiswa dalam berinteraksi dengan warga lokal.
Target Pemerintah Provinsi NTT menurunkan angka stunting memerlukan kerja keroyokan. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat adalah kunci. Anak-anak NTT adalah aset masa depan bangsa. Menyelamatkan mereka dari stunting berarti menyelamatkan martabat dan daya saing daerah ini di masa depan.
Keberhasilan gerakan "NTT Investasi SDM" ini akan sangat bergantung pada dua hal. Pertama, keberlanjutan. Kehadiran mahasiswa yang bersifat sementara harus mampu meninggalkan sistem atau kader lokal yang tetap berjalan setelah masa KKN berakhir.
Kedua, sinergi multisektor. LLDIKTI tidak bisa berjalan sendiri; pemerintah daerah dan sektor swasta harus menyambut inisiatif ini dengan dukungan yang sinkron.
Saatnya perguruan tinggi di NTT membuktikan bahwa mereka adalah motor penggerak perubahan sosial yang nyata. Mari kita kawal bersama agar KKN mahasiswa sungguh meninggalkan dampak positif bagi masyarakat NTT, bukan sekadar jejak foto di media sosial. (*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dedikasi-Srikandi-PLN-dalam-membangun-generasi-bebas-stunting-telah.jpg)