Editorial
EDITORIAL: KUR untuk Kita
SAAT Covid-19 menyerang seluruh dunia pada tahun 2019 lalu, ketakutan melanda dunia. Ekonomi global anjlok.
Ringkasan Berita:
- SAAT Covid-19 menyerang seluruh dunia pada tahun 2019 lalu, ketakutan melanda dunia. Ekonomi global anjlok.
- Hal yang sama juga terjadi pada ekonomi Indonesia mengalami penurunan yang sangat signifikan.
- Hampir semua pilar ekonomi merosot tajam bahkan ada yang tumbang.
- Transportasi udara mandek karena tidak ada penumpang yang mau bepergian akibat adanya pembatasan-pembatasan. Sebab penyebaran covid-19 melalui udara.
POS-KUPANG.COM, KUPANG - SAAT Covid-19 menyerang seluruh dunia pada tahun 2019 lalu, ketakutan melanda dunia. Ekonomi global anjlok. Hal yang sama juga terjadi pada ekonomi Indonesia mengalami penurunan yang sangat signifikan.
Hampir semua pilar ekonomi merosot tajam bahkan ada yang tumbang. Transportasi udara mandek karena tidak ada penumpang yang mau bepergian akibat adanya pembatasan-pembatasan. Sebab penyebaran covid-19 melalui udara.
Namun, dalam situasi ekonomi yang terjun bebas tersebut, ekonomi Indonesia masih terbilang baik dibandingkan Negara lain di dunia. Setelah ditelusuri, ternyata ekonomi Indonesia masih bisa bertahan karena ditopang oleh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Saat itu, banyak usaha besar yang rontok. Kredit di perbankan banyak yang macet karena debitur tidak dapat memenuhi kewajibanya untuk mengembalikan pinjaman. Sementara UMKM masih tetap bertahan kendati juga tergolong terseok-seok.
Selepas dari covid-19 tersebut, bertumbuhan UMKM semakin melejit. Berbagai kalangan ramai-ramai membangun usahanya. Apalagi anak-anak muda yang semakin hari semakin akrab dengan berbagai model bisnis.
Jika kita membaca data saat ini, maka kelompok anak muda bisa dikatakan telah menguasahi berbagai sector bisnis termasuk UMKM. Berbagai bisnis mereka jalani kendati dengan modal seadanya. Walaupun ada juga anak muda yang berbisnis dengan nilai yang tidak kecil.
Untuk menopang usaha dari pengusaha UMKM tersebut, pemerintah menerbitkan sejumlah kebijakan di antaranya menghadirkan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
KUR ini memiliki keistimewaan karena memberi kemudahan bagi pengusaha UMKM, di mana plafon pinjaman di bawah Rp 100 juta tidak disertai jaminan. Walaupun persyaratan perbankan lainnya tetap harus dipenuhi seperti adanya usaha.
Namun, dalam perjalannya ternyata banyak sekali keluhan dari pengusaha UMKM yang tidak dapat menjangkau KUR tersebut. Selain karena berbagai persyaratan yang “sulit” dipenuhi, pihak perbankan juga masih mewajibkan pengusaha UMKM untuk menyertakan jaminan saat mengajutkan KUR tersebut.
Masalah seperti inilah yang menjadi keluhan selama ini. Akibatnya, ada sejumlah besar dana KUR yang terpaksa tidak tersalurkan. Kalaupun tersalurkan ada juga yang menyebabkan kredit macet yang tentunya cukup mengganggu reputasi bank tersebut.
Dalam diskusi public yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTT yang mengusung tema “Peran Perbankan dalam Mendorong UMKM melalui Kredit Usaha Rakyat (LUR) pada Sabtu 21 Februari 2026 di aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, masalah mendapatkan KUR ini menjadi keluhan pengusaha UMKM.
Namun dalam diskusi tersebut berhasil dipertemukan antara pihak perbankan yang selama ini menyalurkan KUR dengan para pengusaha UMKM. Dengan bertemu langsungnya pengusaha UMKM dengan perbangkan diharapkan masalah penyaluran KUR ke depan semakin baik dan semakin transparan.
Selain itu, dengan telah terbukanya berbagai persoalan dan prosedur dalam mendapatkan KUR dalam diskusi tersebut, jumlah pengusaha UMKM baru dapat terus bertumbuh.
Apalagi pada diskusi tersebut, Gubernur NTT, Melki Laka Lena mendorong jajaran pers di NTT dan berbagai kalangan untuk terlibat langsung dalam memanfaatkan KUR tersebut dengan membangun usaha. Semoga saja imbauan tersebut memantik reaksi positif dari berbagai kalangan. (*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dirut-Bank-NTT-KUR-Bukan-Bantuan-Gratis-Harus-Dikembalikan-untuk-Perkuat-UMKM.jpg)