Jumat, 17 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Jumat 3 April 2026, "Sengsara Tuhan"

Di tengah suasana hening dan keprihatinan, kita diajak tidak hanya “mengenang”, tetapi masuk ke dalam makna terdalam salib

Editor: Eflin Rote
dok-pribadi Bruder Pio Hayon SVD
Bruder Pio Hayon SVD menulis Renungan Harian Katolik 

Renungan Harian Katolik
Oleh: Bruder Pio Hayon, SVD
Hari Jumat Agung – 3 April 2026
Bacaan I: Yes. 52: 13-53:12
Bacaan II: Ibr. 4:14-16;5:7-9
Injil:  Yoh. 18:1-19:42
Tema: “Sengsara Tuhan”

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Hari Jumat Agung adalah hari ketika Gereja memusatkan pandangan pada satu peristiwa besar: Sengsara Tuhan—Yesus yang menderita, disalibkan, dan wafat demi keselamatan kita.

Di tengah suasana hening dan keprihatinan, kita diajak tidak hanya “mengenang”, tetapi masuk ke dalam makna terdalam salib: Allah tidak jauh dari penderitaan manusia; Ia justru mendekatinya dan memikulnya dalam Kristus.

Saudara-saudari terkasih

Dalam perikop ini (Yes. 52:13–53:12), Yesaya menggambarkan Hamba yang menderita dan diperlakukan tidak adil. Ia menanggung kelemahan, menerima penghinaan, dan pada akhirnya menyatakan bahwa penderitaannya membawa keselamatan: bukan untuk kepentingan diri, melainkan demi pembaruan umat.

Sengsara Tuhan bukan nasib tragis, melainkan karya kasih yang menyelamatkan. Dalam bacaan kedua, (Ibr. 4:14–16; 5:7–9), menegaskan bahwa Yesus adalah Imam Besar yang mampu bersimpati kepada kita, karena Ia pernah menderita dan mengungkapkan doa, permohonan, serta ketaatan.

Sengsara-Nya membuat kita memiliki keberanian untuk datang kepada Allah—bukan karena kita kuat, tetapi karena Kristus membuka jalan keselamatan dengan ketaatan-Nya.

Sementara dalam Injil (Yoh. 18:1–19:42), Ada kisah sengsara dan penyaliban berjalan dalam ketegangan dan ketidakadilan manusia. 

Namun di balik semuanya, kita melihat Yesus tetap berhadapan dengan karya keselamatan. Ia menyerahkan diri, dan wafat-Nya menjadi “penyerahan total” kasih Allah bagi dunia.

Maka refleksi kita adalah “Melihat salib dengan iman”: Pada saat kita menderita atau merasa “tidak adil”, apakah kita hanya bertanya “mengapa ini terjadi”, atau juga membiarkan salib Yesus menyalakan harapan—bahwa Allah dapat mengubah penderitaan menjadi jalan keselamatan?

“Imam Agung yang peduli”: Di dalam kelemahan kita, apakah kita mudah menyerah dan merasa tidak layak, atau kita berani datang kepada Tuhan dalam doa—sebab Yesus sendiri telah merasakan penderitaan?

“Ketaatan sampai akhir”: Yohanes menunjukkan bahwa Yesus taat sampai akhir. Maka bagian manakan hidup kita yang paling sulit: taat—kejujuran, kesabaran, pengampunan, atau pilihan untuk mengasihi—mana yang perlu kita serahkan kepada Tuhan hari ini?.

Saudara-saudari terkasih,

Pesan untuk kita, pertama, hari Jumat Agung menegaskan bahwa Allah menyelamatkan melalui salib.

Kedua, biarlah kita tidak hanya bersedih, tetapi juga bersyukur dan bertobat: sebab dalam sengsara Tuhan, kasih Allah dinyatakan paling nyata.

Ketiga, marilah kita memohon rahmat agar iman kita makin kuat, hati makin teduh, dan hidup kita makin sesuai dengan Tuhan yang mengasihi sampai akhir.

Tuhan Yesus, terima kasih atas Sengsara-Mu yang menyelamatkan kami.  Tuhan memberkati kita semua. (*)

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved