Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Kamis 2 April 2026, “Membasuh kaki”
Di tengah suasana persiapan perpisahan, Yesus justru menunjukkan bahwa kasih sejati tidak menunggu murid menjadi pantas
Ringkasan Berita:
- Renungan Harian Katolik Selasa 31 Maret 2026 Hari Kamis Putih dari Bruder Pio Hayon SVD
- Hari Kamis Putih mengantar kita masuk ke pusat kasih Yesus
- Di tengah suasana persiapan perpisahan, Yesus justru menunjukkan bahwa kasih sejati tidak menunggu murid menjadi pantas
Oleh : Bruder Pio Hayon SVD
POS-KUPANG.COM- Renungan Harian Katolik Selasa 31 Maret 2026 Hari Kamis Putih dari Bruder Pio Hayon SVD berjudul “Membasuh kaki”.
Renungan Harian Katolik Bruder Pio Hayon SVD merujuk pada Bacaan I: Kel. 12: 1-8.11-14, Bacaan II: 1Kor. 11:23-26 Injil: Yoh. 13:1-5.
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Hari Kamis Putih mengantar kita masuk ke pusat kasih Yesus: malam ketika Ia mempersiapkan murid-murid-Nya melalui dua tanda yang saling berkaitan—Perjamuan Tuhan dan tindakan kasih yang paling sederhana: membasuh kaki.
Di tengah suasana persiapan perpisahan, Yesus justru menunjukkan bahwa kasih sejati tidak menunggu murid menjadi pantas, tetapi hadir lebih dulu untuk melayani, mengangkat martabat, dan memurnikan hati.
Saudara-saudari terkasih.
Pada bacaan pertama (Kel. 12:1-8.11-14) berkisah tentang bangsa Israel yang diperintah menyiapkan domba Paskah dan merayakan pengorbanan itu sebagai tanda keselamatan.
Mereka “melindungi diri” bukan dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan taat pada apa yang Allah perintahkan. Ini mengantar kita memahami bahwa keselamatan Allah itu nyata dan dirayakan dalam tindakan.
Dalam bacaan kedua (1Kor 11:23-26), Paulus menegaskan bahwa Yesus menyerahkan diri dan memberi tubuh serta darah-Nya sebagai tanda Perjanjian Baru.
Setiap kali umat memperingati Perjamuan, umat tidak hanya “mengenang”, tetapi ikut ambil bagian dalam peristiwa keselamatan sampai Tuhan datang kembali.
Dan dalam Injil (Yoh 13:1-5) Yohanes menampilkan Yesus yang bangkit dari meja, menanggalkan jubah, mengambil kain dan air, lalu mulai membasuh kaki para murid.
Di sini kasih menjadi bahasa pelayanan: bukan kata-kata manis, melainkan tindakan yang membersihkan dan mengangkat.
Di hari ketika para murid sedang diuji, Yesus justru mengajar dengan contoh bahwa pemimpin sejati adalah pelayan.
Refleksi kita adalah “Pembersihan diri”: Dalam hidup kita, bagian hidup mana yang masih perlu disentuh Tuhan—sikap hati, kebiasaan dosa, atau cara kita menilai orang? Berani meminta dibersihkan seperti murid yang kakinya disentuh Yesus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pio-Hayon.jpg)