Jumat, 24 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Jumat 3 Oktober 2025, "Bertobat Terus Menerus"

Kota-kota yang dikecam oleh Yesus meliputi: Kota Khorazim. Kota tersebut tidak dikenal dan hanya disebut dalam perikop ini dan dalam Injil Lukas

Editor: Eflin Rote
dok-pribadi
Renungan Harian Katolik berikut ditulis oleh RP. John Lewar SVD 

Renungan Harian Katolik Suara Pagi
Bersama Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor – NTT
Jumat, 3 Oktober 2025
Hari Jumat Pertama
Bar. 1:15-22; Mzm. 79:1-2,3-5,8-9; Luk. 10:13-16.
Warna Liturgi Hijau

Bertobat terus menerus

Saudari-saudara yang terkasih dalam Kristus. Kata mengecam dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya mengkritik atau mencela. Misalnya, dalam ayat pembuka Injil hari ini disebutkan, “Sekali peristiwa Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat meskipun di sana Ia melakukan paling banyak mukjizat” (Mat 11:20a).

Yesus mencela sikap orang-orang yang menutup hati, tidak mau bertobat dan percaya, walau Yesus melakukan banyak mukjizat.

Kota-kota yang dikecam oleh Yesus meliputi: Kota Khorazim. Kota tersebut tidak dikenal dan hanya disebut dalam perikop ini dan dalam Injil Lukas (10:13).

Kota kedua, Kota Betsaida. Kota tersebut secara administrasi tidak termasuk wilayah Galilea, namun dianggap sebagai Kota Galilea, karena para penduduknya menggunakan bahasa yang sama sebagaimana digunakan oleh para penduduk Galilea.

Kota Ketiga, Kota Kapernaum. Kapernaum adalah “kota Yesus” sebab di situlah tempat domisili Yesus selama Ia berkarya di Galilea.

Kita tidak mengenal kota-kota yang dikecam oleh Yesus. Hal ini tidak penting. Hal yang penting adalah, memahami penyebabnya, mengapa Yesus mengecam ketiga kota tersebut.

Penginjil Matius sudah menyebutkan, yakni karena penduduk Kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum tersebut tidak bertobat meskipun di sana Yesus melakukan paling banyak mukjizat. Kenyataan tersebut
membantu kita untuk berefleksi sejenak tentang beberapa hal:

Pertama, menyaksikan mukjizat-mukjizat Yesus di hadapan umum, dan itu dilakukan berkali-kali namun mereka tetap menolak Yesus (baca: tidak bertobat) merupakan dosa yang sangat serius.

Bagi Yesus, dosa itu lebih berat daripada tidak mengenal Allah seperti penduduk di Kota Tirus dan Kota Sidon,
dan lebih berat daripada hidup asusila seperti dilakukan oleh para penduduk Sodom.

Kedua, dosa penolakan terhadap Pribadi Yesus terjadi karena hati mereka tertutup. Mereka adalah orang-orang yang keras hati sehingga tidak mampu merasakan kuasa Allah yang bekerja dalam Diri Yesus, terutama lewat mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya.

Dengan demikian, kecaman Yesus sangat beralasan. Sebab, bertobat atau tidak mau bertobat sejatinya menyangkut soal keselamatan; dan mereka tidak peduli akan hal ini.

Ketiga, penolakan para penduduk Kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum bukanlah contoh yang baik bagi manusia segala zaman.

Kita tidak perlu mencontoh sikap mereka. Justru kita mesti melakukan hal yang sebaliknya, yakni bagaimana kita yang lemah, rapuh dan gampang jatuh dalam dosa ini selalu mengimbangi diri dengan keterbukaan dan kesediaan hati untuk bertobat dan membarui diri terus-menerus.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved