Opini
Opini: Literasi Sampah, Kesadaran Peduli
Menyimpan tisu bekas atau bungkus permen di saku hingga menemukan tempat sampah adalah bentuk tanggung jawab.
Oleh: Albertus Muda
Guru SMAS Keberbakatan Olahraga San Bernardino Lembata-Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Menyusuri lorong perumahan atau jalan raya, pemandangan sampah yang berserakan sering kali menjadi hal biasa yang justru memprihatinkan.
Plastik, kertas, dan berbagai limbah rumah tangga terhampar di sisi jalan seakan menjadi bagian dari keseharian.
Namun, di balik pemandangan itu, muncul pertanyaan penting, mengapa sampah berada di sana, dan siapa yang bertanggung jawab atas keberadaannya?
Baca juga: Opini: Racikan Superfood Lokal- Mengubah Limbah Menjadi Protein Ternak
Saat hujan deras turun, sampah-sampah itu tidak hilang begitu saja. Arus air membawa semuanya menuju saluran yang tersumbat, dataran rendah, bahkan pemukiman warga.
Akibatnya, banjir bukan hanya menghadirkan genangan, tetapi juga menyeret lumpur dan tumpukan sampah plastik yang melumpuhkan aktivitas masyarakat.
Jalan utama terganggu, lingkungan tercemar, dan kehidupan ekonomi pun tersendat. Ironisnya, semua itu sebagian besar bersumber dari kelalaian manusia sendiri.
Sampah sesungguhnya bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi persoalan kesadaran.
Manusialah penyumbang terbesar masalah ini, padahal manusia juga dianugerahi akal budi untuk mengelola dan bertanggung jawab atas limbah yang dihasilkan.
Kesadaran sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, mengolah sampah organik menjadi kompos, atau tidak membuang bungkus kecil sembarangan dapat menjadi langkah besar menjaga bumi.
Kesadaran inilah yang terasa hidup ketika memasuki lobi SMPK St. Pius X Lewoleba ( Sanpio).
Di sana, mading sekolah bukan hanya pajangan biasa, tetapi ruang refleksi yang penuh makna. Karya-karya siswa terpampang dengan tema yang menggugah: “Dari Sampah Jadi Karya, Dari Lelah Jadi Peduli.”
Kalimat ini bukan sekadar slogan, melainkan cermin pendidikan karakter yang bertumbuh dari tindakan nyata.
Anak-anak Sanpio bersama para guru tidak hanya membersihkan lingkungan sekolah demi predikat calon sekolah Adiwiyata, tetapi juga mengolah pengalaman itu menjadi literasi.
Mereka menulis, merefleksikan, dan mengajak sesama untuk memahami bahwa menjaga kebersihan bukan pekerjaan sia-sia.
Dari kelelahan membersihkan sampah, lahirlah kepedulian. Dari tindakan sederhana, tumbuh empati terhadap lingkungan.
Pelajaran besar dari Sanpio adalah bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar.
Menyimpan tisu bekas atau bungkus permen di saku hingga menemukan tempat sampah adalah bentuk tanggung jawab.
Tidak melempar sampah dari kendaraan adalah wujud kesadaran. Hal-hal kecil yang sering dianggap sepele justru menentukan kualitas lingkungan di masa depan.
Sampah yang berserakan sesungguhnya sedang berbicara tentang perilaku manusia.
Karena itu, solusi terbaik bukan hanya membersihkan sampah yang ada, tetapi membangun budaya sadar lingkungan melalui pendidikan dan literasi.
Anak-anak Sanpio telah menunjukkan bahwa sampah bisa diubah menjadi karya, dan kelelahan bisa diubah menjadi kepedulian.
Kini, pertanyaannya bukan lagi siapa yang membuang sampah, melainkan, sudahkah kita menjadi bagian dari solusi?
Jangan biarkan ego merusak lingkungan yang kita tinggali bersama. Sudah waktunya belajar bahwa kepedulian adalah kebersihan yang dimulai dari diri sendiri. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Albertus-Muda-Guru.jpg)