Opini
Opini: Kebanggaan di Atas Bak Pikap, Sebuah Simfoni Kehidupan
Komitmen ini bukan komitmen untuk menyewa mobil mewah, melainkan komitmen untuk terus mendidik anaknya meski dalam keterbatasan.
Catatan tanpa titik dari Wisuda Undana 26 Februari 2026
Oleh: Djoese Martins Nai Buti
Warga Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Dalam perjalanan untuk mengikuti wisuda Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Bapak Johni Asadoma di kampus Universitas Nusa Cendana ( Undana) Kupang, Kamis 26 Februari 2026, saya menemukan sebuah pemandangan yang membuat saya terpanggil untuk mendokumentasikannya.
Di tengah hiruk-pikuk momen wisuda yang kerap diwarnai kemewahan, sewa mobil mewah, dan buket bunga sebesar kereta kuda, hadir sebuah potret realita yang jauh lebih menggetarkan.
Baca juga: Undana Wisuda 1.038 Lulusan, Rektor Ajak Alumni Jadi “Kuda” Tangguh dan Berintegritas
Seorang anak menggenakan toga duduk dengan tenang di bak belakang pikap menuju almamater tercinta Universitas Nusa Cendana Kupang untuk mengikuti Wisuda Perdana di tahun 2026.
Jika dilihat sekilas, mungkin ada yang merasa iba atau menganggapnya "kurang meriah". Namun, jika ditelisik lebih dalam, momen ini adalah representasi paling murni dari nilai-nilai kehidupan. Momentum ini menarik untuk dikaji dari beberapa aspek penting:
Aspek Kesederhanaan: "Apa Adanya" Adalah Kemewahan Tertinggi
Kesederhanaan dalam konteks ini bukanlah sebuah kekurangan, melainkan sebuah kekuatan.
Dengan menaiki mobil pikap, keluarga ini menunjukkan bahwa esensi sebuah perayaan bukan terletak pada kendaraan yang dipakai, melainkan pada tujuan yang telah diraih.
Mereka tidak perlu berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diri mereka. Mereka datang sebagai diri mereka sendiri, pejuang sejati yang merayakan kemenangan dengan fasilitas yang dapat digunakan.
Dalam kesederhanaan bak pikap itu, tersimpan kemewahan hati yang tidak bisa dibeli oleh uang, kejujuran dan kerendahan hati.
Aspek Komitmen: Janji yang Tak Pernah Diucapkan
Seorang anak yang bisa sampai di titik wisuda tidak lepas dari komitmen besar orang tuanya.
Komitmen ini bukan komitmen untuk menyewa mobil mewah, melainkan komitmen untuk terus mendidik anaknya meski dalam keterbatasan.
Mungkin ayahnya harus bangun pagi buta untuk mencari nafkah, atau ibunya harus berhemat berkali-kali demi uang pendaftaran kuliah.
Momen di bak pikap itu adalah bukti nyata bahwa komitmen orang tua terhadap pendidikan anak tidak pernah surut, meski pundi-pundi rupiah tak selalu bersahabat.
Aspek Perjuangan: Jalan Berliku yang Berujung di Puncak
Duduk di bak belakang sebuah pikap yang terbuka, angin dan debu jalanan mungkin terasa lebih kencang. Ini adalah metafora sempurna dari perjalanan hidup mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Penjelasan-Kepala-Biro-Organisasi-Setda-NTT-Djoese-SM-Nai-Buti-tentang-Koin-Yanlik-Berdasi.jpg)