Opini

Opini: Broken String dan Krisis Epistemologi

Buku tersebut juga adalah sebuah sapaan sebagai langkah antisipatif bahwa kekerasan bisa terjadi kapan dan di mana saja. 

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Gian Ribhato 

Oleh: Gian Ribhato 
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Buku “ Broken Strings” yang ditulis oleh Aurelie Moeremans telah menjadi perhatin publik sejak peluncurannya. 

Bukan kisah fiktif-imajinatif, tetapi sebuah ungkapan tentang luka masa lalu secara polos dan jujur. 

Demikian ciri dari konten buku tersebut yang menjadi alasan besar perhatian publik terhadapanya. 

Mengapa tidak, seorang anak yang berusia 15 tahun yang seharusnya mengalami kasih sayang, jusru mengalami kekerasan psikologis dan seksual. 

Baca juga: Mengapa Harga Emas Terus Naik Bahkan Bisa Melebihi Rp 3 Juta per Gram? 

Narasi yang dilukiskan di dalamnya tidak hanya menghantarkan pembaca pada empati terhadap korban, tetapi juga membangkitkan kebencian terhadap pelaku kekerasannya. 

Namun, tanpa membenarkan kekerasan yang “diandaikan” benar adanya sesuai dengan ungkapan penulis, saya ingin memberikan sebuah perspektif  baru.

Kebenaran bukan milik pendapat massa

Kemarahan publik maya terhadap sosok yang dicurigai sebagai Boby dalam buku Broken Strings adalah bentuk penolakan terhadap kekerasan. 

Namun ada fenomena lain yang muncul yang dapat diasosiasikan sebagai krisis epistemologis

Krisis epistemologis diindikasikan oleh kurangnya upaya mencari kontra argumen, dalam arti mencari tahu kemungkinan salah dari konten buku Broken Strings

Semua orang meneriak dengan satu suara. Boby adalah manusia biadab. Sebagai pegiat media sosial, saya mengamati bagaimana kekerasan verbal yang luar biasa yang mengarah pada sosok yang dicurigai sebagai Boby. 

Sangat minim konten yang menyeberang dari justifikasi publik dengan meragukan dan mempertanyaan secara kritis dan serius kebenaran dari isi Broken Strings

Kalau ditinjau lebih jauh, gejala ini timbul dari apa yang disebut Helen Margetts, seorang sosiolog digital Inggris sebagai “Daily Me”. Informasi hanya datang sesuai dengan keinginan saya. 

“Daily Me” bekerja sesuai dengan logika algoritma. Logika algoritma adalah sebuah “Echo Chamber Effect”. 

Apa yang ditampilkannya sebenarnya gema atau efek dari konten yang kita inginkan. 

Kebenaran pada prinsipnya hasil dari dinamika rasionalitas manusia. Rasionalitas bukan hanya bekerja dengan mengafirmasi tapi juga menegasi. 

Penegasian tidah dalam pengertian menolak sama sekali, tetapi menguji setiap proposisi. 

Dalam perspektif teori tindakan Komunikatif Habermas, kebenaran harus selalu diuji dengan mengambil alih perspektif orang kedua. 

Artinya, orang harus berani keluar dari perspektifnya sendiri, menyeberang dan masuk pada pada perspektif orang lain. 

Hampir senada dengan Habermas, Karl Popper dengan prinsip falsifikasnya mengungkapkan bahwa kebenaran harus diuji dengan mendeteksi wilayah kekeliruan dan ketidaktahuan sebuah proposisi atau ungkapan.

Patriarki-Laki-laki pasti pelakunya

Dalam perspektif feminisme, sistem patriarki yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat dalam struktur sosial menjadi penyebab langgengnya kekerasan terhadap perempuan. 

Dalam beberapa bahkan banyak kasus kekerasan terhadap perempuan, klaim ini sulit untuk dibantah. 

Kekerasan gender dalam faktanya selalu menampilkan laki-laki sebagai pelaku dan perempuan sebagai korbannya. 

Kelahiran feminisme adalah untuk membongkar tatanan demikian yang menjadi kondisi yang memungkinkan adanya kekerasan gender. 

Feminisme selalu melihat bahwa sistem patriarki atau andosentrisme menjadi katalisator di baliknya dan dengan demikian selalu menjadi ultimate explanation (penjelasan mendasar) dalam hubungan dengan kekerasan gender. 

Sasaran dari feminisme bukan hanya untuk melawan dominasi patriarki tetapi lebih dari itu untuk memperjuangkan kesetaraan. 

Baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama sebagai manusia. 

Namun jika ditelusuri lebih jauh, kelahiran feminisme justru menyebabkan ketidaksetaraan yang baru. 

Dalam konstruksi sosial, narasi kekerasan terhadap perempuan oleh laki-laki mudah dierima tanpa perlu bersusah payah memverifikasinya ataupun memfalsifikasikannya. 

Demikian dalam konteks Broken String, sangat minim upaya untuk mempertanyakannya. Diagnosanya jelas, tanpa kerguan sedikitpun. 

Boby (seorang laki-laki) adalah penjahat kemanusiaan dari masa lalu Aurelie. 

Tidak ada lagi kemungkinan lain. Ini adalah krisis epistemologis. Proses pengujian secara rasional terhadap klaim akhir kebenaran tersebut dibungkam oleh pendapat massa.

Kritis, bukan afirmasi atas kekerasan

Sikap yang paling pantas berhadapan dengan isu kekerasan masa lalu yang ditampilkan oleh Aurelie Moeremans dalam buku Broken Strings adalah kritis-reflektif. 

Kritis berarti menyelami lebih dalam, memverifikasi dan menganalisis sampai ke dasar-dasarya, tanpa buru-buru menjustifikasi secara sepihak. 

Ini bukan pembenaran atas kekerasan tetapi sebuah konfirmasi terhadap prinsip penalaran. Kebenaran tidak pernah tampil seperti cahaya. 

Dia selalu tersingkap dalam ketersembunyian dan tersembunyi dalam ketersingkapannya. Dia adalah mysterium, demikian kata Heidegger. 

Reflektif berarti memetik makna dari narasi yang ditampilkan di dalamnya. Makna tidak diperoleh melalu suara marah mayoritas. 

Makna dari suatu teks jika dikaji dari perspektif dekonstruksi Derida adalah milik pembaca. Pembaca memperolehnya ketika dia berjumpa dengan teks dan menciptakan makna di dalamnya. 

Artinya makna suatu teks tidak hanya milik penulis dan pembaca hanya mengonsumsikannya. Pembaca terlibat penuh dalam memproduksi makna suatu teks. 

Dengan demikian, syarat dasarnya supaya pembaca terlibat penuh dalam memproduksi makna teks adalah dia harus otonom. Dia tidak boleh terlebur dan tenggelam teriakan massa (baca: psikologi digital).
 
Buku tersebut juga adalah sebuah sapaan sebagai langkah antisipatif bahwa kekerasan bisa terjadi kapan dan di mana saja. 

Menutup mulut adalah langkah mundur dari peradaban. Menyingkapkan kekerasan bukanlah aib. Tetapi penerimaan atas pengungkapan tersebut mesti tetap dalam koridor prinsip penalaran. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved