Opini
Opini: Pariwisata Agama vs Agama Pariwisata
Kemajuan teknologi, komunikasi, informasi dan transportasi menciptakan kemudahan untuk berwisata demikian.
Di NTT ada aneka ragam obyek dan daya tarik wisata ziarah dan tamasya rohani belum mendapat perhatian dan sentuhan turistik pengelolaannya.
Wisata Spiritual Alam
Dalam lingkup lebih luas, wisata spiritual mencakupi aspek spiritual yang terkandung dalam obyek dan daya tarik alam dan budaya berdasarkan pada narasi-narasi mitos, legenda atau cerita tradisional rakyat setempat yang berpengaruh pada pola pikir dan tingkah laku religius mereka (earth-based spirituality).
Daya tarik alam dan budayanya tidak dilihat hanya pada aspek naturalnya saja tapi juga pada aspek supernaturalnya.
Nilai-nilai lokal ini dapat dipadu dengan sejarah atau informasi ilmiah lainnya yang memberikan cara pandang baru bagi wisatawan dalam melihat sebuah destinasi wisata,seperti Kelimutu di Lio-Ende, Reba di
Ngada, Gunung Mutis di Timor. (Nirwandar S & F.Teguh, 2020, Kepariwisaan NTT, Menuju Kelas Dunia,p.240-241).
Agama Pariwisata
Agama pariwisata mengacu kepada sikap dan tindakan yang memperlakukan fenomena pariwisata sebagai suatu berhala yang menarik manusia mengabdikan diri sepenuhnya, demi kenikmatan hidup sebagai tujuan utama hidup sekarang.
Hal ini bisa terwujud dalam dua hal yakni pertama dalam mekanisme cara kerja industri pariwisata dan kedua dalam proses ritualisasi pariwisata.
Industri Pariwisata
Industri pariwisata menyiapkan serba macam fasilitas bagi wisatawan yang datang ke berbagai destinasi dengan tujuan utama mencari kesenangan dan kenikmatan hidup (for pleasure) pada saat libur (at leisure).
Industri pariwisata menawarkan jasa pelayanan dalam saling keterkaitan kerja antara berbagai komponen industri pariwisata atau product lines
yakni atraksi (alam, budaya), fasilitas amenities (seperti hotel, restoran, cafe dll), accessibility ( moda transportasi, jalan raya) ke destinasi dan ancillary services atau fasilitas pendukung
(seperti bank, cinderamata dll).
Selain itu berbagai manfaat positif pariwisata dipromosikan melalui iklan-iklan di berbagai media online dan offline dengan daya pikat romantis, eksotis, otententik, dan dilukiskan bagaikan paradise atau kepingan surga yang jatuh ke bumi dan memberi rasa relaks terhadap setiap problem kehidupan, suatu pengalaman escape dari tekanan dan kejenuhan hidup sehari-hari.
Pleasure at leisure, menjadi tujuan utama berwisata.(O’Grady, Ron. 2006. The Threat of Tourism, Challenge to the Church, p.2).
Di sisi lain, pembangunan industri pariwisata bisa menggoda baik investor maupun masyarakat lokal berusaha mencari keuntungan sebesar-besarnya (optimum growth) dalam menyediakan sarana kenikmatan wisata melalui tindakan eksploitasi, komersialisasi, komoditisasi, dan kontaminasi alam, budaya, agama, tradisi, kearifan lokal, tenaga kerja dan lain-lain menjadi tujuan dan makna utama pembangunan pariwisata di suatu daerah inipun bernuansa “tourism is their religion”.
Ritualisasi Pariwisa
Dalam ritualisasi pariwisata, berwisata dipandang sebagai suatu perayaan ritual kehidupan.
Hal ini bisa terwujud dalam dua bentuk tindakan yakni pertama, berwisata menyerupai ritual peralihan daur hidup atau rite de passage dan kedua sebagai suatu ritual sosial (social ritual).
MacCannel, seorang ahli ilmu pariwisata, menyebut fenomena berwisata itu
sebagai satu ritus peralihan daur hidup.
Wisatawan awalnya meninggalkan pengalaman hidup kesehariannya di tempat asalnya, lalu beralih (berwisata) ke tempat destinasinya dan masuk dalam pengalaman hidup yang sangat berbeda dari tempat asalnya, pengalaman exotik, memesona dan unik, entah sendirian atau dalam kelompok untuk beberapa waktu, lalu pada akhirnya pulang kembali ke tempat asalnya dengan status sosial baru, terpandang di masyarakat asalnya sebagai wisatawan yang berpengalaman luar biasa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Albert-Novena.jpg)