Opini

Opini: Cermin Kemiskinan NTT Antara Statistik dan Harapan

BPS mencatat kedalaman dan keparahan kemiskinan paling berat di  Kabupaten Sumba Barat Daya, Sumba Timur, dan Sumba Tengah. 

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-DOKUMENTASI PRIBADI VANIA PUTRI A
ILUSTRASI 

Oleh: Vania Putri Ardiningrum, S.Tr.Stat
Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami penurunan. 

Hingga Maret 2025, jumlah penduduk miskin sekitar 1,09 juta orang, dengan persentase penduduk miskin sebesar 18,60 persen. 

Angka ini menurun 0,88 poin persen dari Maret 2024 dan merupakan yang terendah selama lima tahun terakhir. 

Penurunan tersebut seakan mengirim sinyal optimisme bahwa berbagai kebijakan penanganan kemiskinan mulai menunjukkan hasil. 

Baca juga: Opini: Menimbang Ulang Pertumbuhan di Bumi Flobamora 

Namun, di balik capaian yang tampak menggembirakan itu, muncul pertanyaan penting: apakah capaian tersebut benar-benar telah mencerminkan peningkatan kesejahteraan yang dirasakan masyarakat, atau hanya angka di atas kertas? 

Pertanyaan ini perlu dijawab sebelum menilai arah pembangunan di NTT.

Memaknai Kemiskinan

Kemiskinan bukan hanya berbicara tentang berapa banyak penduduk miskin, melainkan juga tentang kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan dasar, yang dalam statistik diukur melalui garis kemiskinan. 

Garis kemiskinan merupakan batas minimum pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan makanan dan non makanan agar seseorang tidak dikategorikan miskin. 

Pergerakan garis kemiskinan, baik naik maupun turun, mencerminkan bagaimana biaya hidup masyarakat bergerak dari waktu ke waktu. 

Pada awal 2025, garis kemiskinan Provinsi NTT naik 2,93 persen menjadi Rp 549.607. 

Ini artinya, di tahun 2025, masyarakat NTT membutuhkan pengeluaran yang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan dasarnya dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 

Kebutuhan hidup masyarakat yang meningkat idealnya diimbangi dengan kenaikan daya beli dan pola pengeluaran yang stabil. 

Namun, data PDRB menurut pengeluaran menunjukkan sebaliknya. Pengeluaran konsumsi rumah tangga pada Triwulan I 2025 tercatat hanya tumbuh 3,42 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 3,90 persen. 

Penurunan ini mengindikasikan melemahnya konsumsi rumah tangga di NTT

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved